TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Kenaikan harga sejumlah bahan pokok mulai dirasakan masyarakat di berbagai wilayah di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) pasca-Iduladha.
Di Kaltim, sejumlah komoditas utama seperti minyak goreng, bawang merah, cabai, dan ayam potong mengalami kenaikan harga, sementara daya beli masyarakat dilaporkan mulai melemah.
Pantauan di sejumlah pasar tradisional di berbagai kabupaten/kota mulai dari Samarinda, Kutai Kartanegara (Kukar), Kutai Timur (Kutim), Kutai Barat (Kubar) hingga Mahakam Ulu (Mahulu) menunjukkan gejala yang hampir seragam.
Harga kebutuhan pokok di Kaltim bergerak naik secara bertahap, sedangkan kemampuan masyarakat untuk berbelanja belum menunjukkan peningkatan.
Baca juga: Harga Beras dan Minyak Goreng di Pasar Klandasan Balikpapan Merangkak Naik
Di Pasar Segiri Samarinda, kenaikan paling mencolok terjadi pada minyak goreng. Dalam dua bulan terakhir, sejumlah merek mengalami lonjakan harga cukup signifikan.
Minyakita yang sebelumnya dijual sekitar Rp18 ribu per liter kini mencapai Rp23 ribu per liter. Sementara minyak goreng merek Rosebrand naik dari Rp20 ribu menjadi Rp25 ribu per liter.
"Minyak Kita naik, awalnya Rp18 ribu per liter, sekarang jadi Rp23 ribu," ujar April, pedagang sembako di Pasar Segiri, Senin (8/6).
Selain minyak goreng, harga ayam potong juga mengalami kenaikan dalam tiga hari terakhir. Harga satu ekor ayam berbobot sekitar dua kilogram naik dari Rp50 ribu menjadi Rp55 ribu.
Meski demikian, tidak semua komoditas mengalami kenaikan. Harga telur ayam justru turun dari kisaran Rp55 ribu menjadi Rp48 ribu per piring. Sementara harga beras masih relatif stabil.
Kondisi tersebut mulai mengubah pola konsumsi masyarakat. Ibu rumah tangga kini lebih selektif dalam berbelanja dan berupaya menghemat penggunaan bahan pokok yang mengalami kenaikan harga.
Siti Rahmah (42), warga Sidodadi, Samarinda Ulu, mengaku harus lebih cermat mengatur anggaran belanja keluarga.
"Kalau dulu masih bisa agak longgar, sekarang harus benar-benar dihitung. Minyak goreng yang paling terasa karena dipakai setiap hari," katanya.
Untuk menghemat pengeluaran, ia mulai mengurangi menu makanan yang digoreng dan beralih ke masakan rebus maupun kukus.
Keluhan serupa disampaikan Nurhayati (38), warga Samarinda Seberang.
Menurutnya, kenaikan harga yang terjadi secara bertahap justru lebih terasa karena menyentuh banyak kebutuhan sekaligus.
"Kalau satu barang naik mungkin tidak terlalu terasa. Tapi kalau minyak naik, ayam naik, bawang juga naik, tentu berat bagi kami yang penghasilannya tetap," ujarnya.
Dampak kenaikan harga juga dirasakan pelaku usaha kecil.
Rahmiati Nur (37), pemilik warung makan di Loa Janan Ilir, mengaku biaya operasional usahanya meningkat setelah harga ayam potong naik.
Namun di sisi lain, ia tidak berani menaikkan harga makanan karena khawatir pelanggan berkurang.
"Kami serba salah. Harga bahan baku naik, tetapi pembeli juga lagi sepi. Kalau harga makanan dinaikkan takut pelanggan lari," katanya.
Kondisi yang hampir sama juga terjadi di Kabupaten Kutai Timur.
Di Pasar Induk Sangatta Utara, pedagang mengeluhkan kenaikan harga minyak goreng dan bawang merah yang terjadi setelah Hari Raya Iduladha.
Harga bawang merah yang sebelumnya berada di kisaran Rp45 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram kini mencapai Rp65 ribu hingga Rp70 ribu per kilogram.
Minyak goreng kemasan juga mengalami kenaikan cukup signifikan dibandingkan bulan sebelumnya.
Pedagang menduga kenaikan harga dipengaruhi terganggunya distribusi barang akibat persoalan pasokan dan transportasi beberapa waktu lalu.
Berbeda dengan Samarinda dan Sangatta yang merupakan pusat distribusi barang, dampak kenaikan harga justru terasa lebih berat di wilayah pedalaman.
Di Pasar Olah Bebaya, Melak, Kabupaten Kutai Barat, pedagang mulai merasakan penurunan jumlah pembeli dalam beberapa pekan terakhir.
Misna (54), pedagang sembako di pasar tersebut, mengatakan kenaikan harga minyak goreng dan bawang merah menjadi keluhan utama masyarakat.
Minyak goreng kemasan lima liter kini dijual sekitar Rp125 ribu, sedangkan bawang merah naik dari kisaran Rp45 ribu menjadi Rp60 ribu per kilogram.
Menurutnya, masyarakat kini lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang karena harus membagi kebutuhan untuk berbagai keperluan lain, termasuk persiapan tahun ajaran baru sekolah.
"Pembeli jadi lebih sedikit dibanding biasanya. Orang sekarang lebih memilih membeli seperlunya saja," ujarnya.
Pedagang lain, Isa, juga mengakui kondisi tersebut terjadi hampir di seluruh lapak pasar.
Ia menilai masyarakat mulai mengubah pola belanja dengan mengurangi jumlah pembelian untuk menyesuaikan kemampuan ekonomi keluarga.
"Kalau dulu belanja banyak, sekarang cukup yang penting-penting saja. Hampir semua pedagang merasakan omzet turun," katanya.
Situasi yang lebih kompleks terjadi di Kabupaten Mahakam Ulu.
Selain menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok, pedagang juga dibebani meningkatnya biaya distribusi barang dari daerah pemasok.
Di salah satu warung sayur di Ujoh Bilang, harga minyak goreng kemasan satu liter kini mencapai Rp28 ribu dari sebelumnya Rp25 ribu. Kemasan dua liter naik menjadi Rp53 ribu dari harga sebelumnya Rp50 ribu.
Kenaikan juga terjadi pada cabai yang kini mencapai Rp110 ribu per kilogram. Padahal sebelumnya masih berada di kisaran Rp80 ribu hingga Rp90 ribu per kilogram.
Penjaga warung sayur, Muhammad Alfiansyah, mengatakan kenaikan harga mulai berdampak terhadap jumlah pembeli.
"Kalau harga naik begini memang terasa. Pembeli agak berkurang dibanding biasanya," ujarnya.
Tidak hanya itu, biaya logistik juga ikut melonjak. Ongkos pengiriman sayur dari Kutai Barat naik dari Rp75 ribu menjadi Rp100 ribu per koli. Sementara biaya pengiriman ikan meningkat dari Rp200 ribu menjadi Rp250 ribu per boks.
Akibatnya, harga ikan layang yang sebelumnya sekitar Rp50 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp55 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram.
Menurut Alfiansyah, ketergantungan Mahakam Ulu terhadap pasokan dari luar daerah membuat harga kebutuhan pokok sangat dipengaruhi biaya transportasi.
Ketika ongkos distribusi naik, harga barang di tingkat konsumen pun ikut terdorong.
"Kalau harga stabil biasanya pembeli ramai. Sekarang agak sepi karena barang-barang pokok mahal," katanya.
Sementara itu, di Tenggarong, Kutai Kartanegara, pedagang gorengan mulai merasakan dampak berlapis dari kenaikan harga minyak goreng.
Arifin, pedagang gorengan di Jalan Danau Jempang, mengaku keuntungan usahanya semakin menipis karena harga minyak terus naik, sedangkan jumlah pembeli menurun.
Meski demikian, ia memilih mempertahankan harga jual agar pelanggan tidak beralih ke tempat lain.
"Harga minyak naik, tapi kalau jualan ikut naik takut pembeli berkurang. Jadi sementara kami bertahan saja," ujarnya.
Fenomena yang terjadi di berbagai daerah tersebut menunjukkan bahwa tekanan ekonomi mulai dirasakan dari tingkat rumah tangga hingga pelaku usaha kecil.
Meski beberapa komoditas seperti beras dan telur masih relatif stabil, kenaikan harga minyak goreng, bawang merah, cabai, dan ayam potong telah memengaruhi pengeluaran masyarakat sehari-hari.
Para pedagang berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait dapat memperkuat pengawasan distribusi barang, menjaga ketersediaan pasokan, serta melakukan operasi pasar apabila diperlukan untuk mengendalikan gejolak harga.
Sebab bagi masyarakat, persoalannya bukan sekadar perubahan angka di pasar. Kenaikan harga yang terus berlangsung berpotensi semakin menekan daya beli warga dan memperlambat perputaran ekonomi di tingkat bawah apabila tidak segera diantisipasi.
Kenaikan harga bahan pokok yang terjadi belakangan ini menjadi perbincangan hangat masyarakat Kalimantan Timur.
Fenomena ini dinilai bukan sekadar lonjakan sesaat, melainkan akumulasi dari berbagai persoalan kompleks yang saling berkaitan satu sama lain.
Pengamat Ekonomi Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Ahmad Syarif, menilai ada dua akar utama yang mendorong kenaikan tersebut.
"Kita lihat ya, jadi kenapa harga bahan pokok itu di pasaran naik, itu sebenarnya disebabkan oleh kombinasi faktor global dan faktor lokal itu salah satu ini, harga bahan pokok naik," ujarnya kepada Tribun Kaltim, Senin (8/6/2026) malam.
Dari sisi global, Syarif sapaan akrabnya menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah sebagai salah satu pemicu.
Kondisi ini mendongkrak biaya impor berbagai kebutuhan produksi seperti pupuk, pestisida, mesin pertanian, suku cadang, hingga bahan bakar.
Per Senin (8/6/2026), nilai tukar rupiah telah menyentuh level Rp18.204 per dolar AS.
Meski sebagian besar komoditas diproduksi di dalam negeri, biaya produksinya tetap ikut terkerek oleh komponen impor tersebut.
Sementara dari sisi lokal, Syarif menunjuk pada kelemahan struktural Kaltim sebagai daerah yang masih sangat bergantung pada pasokan dari luar, termasuk dari Jawa, Sulawesi, dan Kalimantan Selatan.
"Nah ketika terjadi gangguan distribusi, kenaikan ongkos angkut, atau penurunan produksi di daerah pemasok, harga di Kaltim ini akan lebih cepat naik," jelasnya.
Kondisi itu diperparah oleh dua faktor tambahan yang bekerja bersamaan. Pertama, ketimpangan antara permintaan yang terus tumbuh dengan produksi lokal yang stagnan.
Kedua, gangguan cuaca yang belakangan turut menekan produksi sejumlah komoditas pangan di daerah pemasok.
Kombinasi tekanan dari berbagai arah itu pada akhirnya bermuara pada satu titik yang paling dirasakan masyarakat, yakni merosotnya daya beli.
Syarif menyebut kelompok berpenghasilan rendah, pekerja sektor informal, dan pelaku UMKM sebagai pihak yang paling menanggung beban.
"Yang dirasakan langsung adalah penurunan daya beli ketika harga naik tentu saja terpengaruh kan, sementara pendapatan ini tidak bertambah kan, jadi tidak proporsional gitu," katanya.
Bagi pelaku UMKM, imbasnya bahkan berlapis. Selain daya beli konsumen yang menyusut, mereka juga harus menanggung kenaikan harga bahan baku dan biaya operasional yang menggerus margin keuntungan dari dalam.
Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa penanganan serius, Syarif memperingatkan dampak jangka panjangnya terhadap perekonomian daerah.
"Kalau ini terus berlangsung, ya maka pertumbuhan ekonomi daerah itu nggak bisa sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat," tegasnya.
Soal kapan harga di pasaran bisa kembali stabil, Syarif menyebut ada tiga faktor penentu utama.
Pertama, stabilitas nilai tukar rupiah agar biaya impor tidak kian membengkak.
Kedua, kelancaran distribusi dan ketersediaan pasokan pangan terutama bagi Kaltim yang masih bergantung dari luar daerah.
Ketiga, keberhasilan pemerintah menjaga produksi pangan nasional dan menekan biaya logistik.
"Jadi jika pasokan tetap terjaga dan nggak ada gangguan besar dari faktor cuaca maupun gejolak ekonomi global, maka prediksi itu mulai stabil pada semester ketiga, semester ketiga 2026 ini," ujarnya.
Namun stabilisasi jangka pendek itu, menurut Syarif, tidak cukup bila tidak dibarengi dengan pembenahan yang lebih mendasar.
Kaltim perlu serius mengurangi ketergantungan pada pasokan luar daerah melalui pengembangan sektor pertanian, hortikultura, dan kawasan pangan strategis agar tidak terus-menerus rentan terhadap guncangan dari luar.
Lebih jauh, Syarif mengingatkan persoalan harga di Kaltim tidak bisa dilepaskan dari konteks pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang mendorong lonjakan permintaan secara signifikan.
Ketika permintaan meningkat pesat sementara pasokan dan infrastruktur distribusi belum mampu mengimbangi, tekanan pada harga menjadi tak terhindarkan.
"Oleh karena itu, pengendalian inflasi itu tidak cukup hanya kebijakan moneter, tapi juga perlu diperkuat dengan kebijakan pangan dan perbaikan distribusi daerah," pungkas Syarif.
Baca juga: Harga Minyak Goreng dan Ayam Naik di Samarinda, Emak-Emak dan UMKM Kian Terjepit
(TribunKaltim.co/Raynaldo Paskalis/Nurila Firdaus/Febriawan/Mohammad Fairoussaniy/Patrick Vallery Sianturi)