Rupiah Jeblok Lagi, Kurs Rupiah Melemah 0,84 Persen, Cadangan Devisa Turun 5 Bulan Beruntun
Putu Dewi Adi Damayanthi June 09, 2026 07:03 AM

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Pelemahan nilai tukar rupiah makin tak terbendung. Senin 8 Juni 2026, kurs rupiah di pasar spot melemah Rp 152 atau 0,84 persen menjadi Rp 18.188 per dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah kembali mencatat sejarah paling lemah baru.

Kurs rupiah Jisdor pun melemah ke rekor baru. Hari ini, kurs rupiah Jisdor melemah Rp 132 atau 0,73 persen menjadi Rp 18.171 per dolar AS.

Kemarin, Bank Indonesia (BI) merilis angka terbaru cadangan devisa per Mei 2026. Cadangan devisa turun US$ 1,3 miliar dalam sebulan menjadi US$ 144,9 miliar dari posisi US$ 146,20 miliar pada akhir April 2026.

Cadangan devisa ini adalah cadangan terendah sejak Juli 2024 atau hampir dua tahun terakhir.

Baca juga: TANTANGAN Fluktuasi Kurs, Penguatan Berkelanjutan Kunci Masa Depan Industri Minuman Kemasan

Cadangan devisa pun turun dalam lima bulan berturut-turut sejak Januari 2026.

Rupiah melemah bersama sejumlah mata uang Asia. Ringgit Malaysia paling tertekan dengan pelemahan 1,07 persen. Rupee India pun melemah 0,80 persen.

Peso Filipina melemah 0,31 persen. Dolar Taiwan melemah 0,29 persen. Baht Thailand melemah 0,05 persen. Dolar Hong Kong melemah 0,02 persen.

Sedangkan sejumlah mata uang Asia mampu menguat. Won Korea terutama menguat 1,54 persen dalam sehari. Yen Jepang menguat 0,19 persen. Dolar Singapura menguat 0,16 persen. Yuan China menguat 0,05 persen.

Indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia hari ini melemah tipis 0,01 persen menjadi 100,05.

Indeks dolar kembali menguat ke atas 100 sejak akhir pekan lalu. Sejak awal Juni, indeks dolar cenderung menguat.

Indeks dolar AS atau DXY kembali menembus level psikologis 100 pada awal pekan ini. Penguatan dolar AS ini memberi tekanan pada kurs rupiah berlanjut. Berdasarkan data Bloomberg pukul 17.52 WIB, Senin 8 Juni 2026, DXY berada di level 100,01.

Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa mengatakan, penguatan DXY didorong kombinasi faktor ekonomi AS dan sentimen risk-off di pasar global.

Amru menyebut, data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang dirilis pekan lalu menunjukkan pasar tenaga kerja masih kuat.

Penambahan lapangan kerja tercatat jauh melampaui ekspektasi pasar sehingga memperkuat keyakinan investor bahwa Federal Reserve belum akan terburu-buru memangkas suku bunga.

“Data tenaga kerja yang masih solid membuat pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan kebijakan suku bunga ketat lebih lama,” ujar Amru, Senin 8 Juni 2026.

Selain itu, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut mendorong aliran dana ke aset-aset safe haven, termasuk dolar AS. Kondisi tersebut membuat permintaan terhadap mata uang AS kembali meningkat.

Amru memperkirakan DXY akan bergerak pada kisaran 98 hingga 104 sepanjang semester II-2026 dengan kecenderungan tetap berada di level yang relatif kuat.

Ia menyebutkan, dolar AS masih berpotensi menjadi pilihan utama investor global selama inflasi AS belum sepenuhnya terkendali dan aktivitas ekonomi masih menunjukkan ketahanan.

Meski demikian, arah pergerakan DXY pada paruh kedua tahun ini tetap akan ditentukan oleh sejumlah faktor.

Mulai dari kebijakan suku bunga Federal Reserve, perkembangan ekonomi negara-negara utama, hingga dinamika geopolitik global. (kontan)

Tekanan hingga Akhir Tahun

Di tengah prospek penguatan dolar AS tersebut, rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan hingga akhir tahun.

Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa memperkirakan nilai tukar rupiah bergerak pada kisaran Rp 17.900-Rp 18.200 per dolar AS dalam jangka pendek.

Sementara hingga akhir 2026, rupiah diproyeksikan berada dalam rentang Rp 17.700-Rp 18.300 per dolar AS.

Menurutnya, pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi oleh kuatnya dolar AS dan sentimen kehati-hatian investor terhadap aset berisiko.

Dari dalam negeri, pelaku pasar juga akan mencermati perkembangan neraca perdagangan, arus modal asing, serta langkah stabilisasi yang ditempuh Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

“Selama faktor eksternal masih mendominasi, rupiah berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan berada dalam tekanan yang terbatas,” kata Amru.

Ekonom Center of Reform (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet mengatakan, volatilitas dan tekanan terhadap rupiah kemungkinan masih tinggi dalam jangka pendek.

Namun, memasuki paruh kedua tahun ini, peluang stabilisasi mulai terbuka.

Sebagian tekanan musiman seperti repatriasi dividen dan kebutuhan valuta asing untuk musim haji akan berkurang.

Pada saat yang sama, pasar juga mulai menilai bahwa risiko geopolitik dan lonjakan harga minyak telah mendekati puncaknya.

Meski peluang stabilisasi terlihat, terlihat pemulihan rupiah tetap memiliki syarat yang sangat jelas, yaitu tidak muncul penurunan peringkat atau revisi outlook lanjutan dari lembaga pemeringkat internasional.

“Karena itu, saya tidak akan terkejut apabila rupiah masih bertahan di atas Rp 18.000 dalam beberapa waktu ke depan. Skenario penguatan yang lebih berarti menuju kisaran Rp 17.000-an hanya akan realistis jika kepercayaan terhadap kredibilitas fiskal dan kebijakan pemerintah kembali pulih,” ujar Yusuf, Jumat 5 Juni 2026.

Ia menambahkan, ada beberapa faktor saling berkaitan yang membuat rupiah tertekan akhir-akhir ini. Pertama adalah faktor kepercayaan.

Setelah lembaga pemeringkat Moody's pada Februari 2026 merevisi outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif membuat pasar mulai mempertanyakan prediktabilitas kebijakan dan kualitas tata kelola.

“Oleh karena itu, isu yang berkembang bukan lagi apakah Indonesia mampu tumbuh, melainkan apakah kredibilitas kebijakannya masih cukup kuat untuk menjaga kepercayaan investor,” kata Yusuf.

Kedua, kondisi tersebut memicu arus keluar modal asing yang cukup besar dari pasar saham maupun obligasi.

Ketika investor meminta premi risiko yang lebih tinggi, tekanan muncul secara bersamaan pada rupiah, pasar saham, dan surat utang negara.

Ketiga, situasi eksternal ikut memperberat tekanan, terutama ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan tingginya harga minyak yang kurang menguntungkan bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia.

Dalam kondisi tersebut, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia menjadi 5,25 persen dinilai lebih bersifat defensif untuk menjaga stabilitas nilai tukar ketimbang merespons tekanan inflasi.

Pasalnya, inflasi domestik masih relatif terkendali sehingga fokus kebijakan saat ini lebih diarahkan untuk menjaga kepercayaan pasar terhadap aset keuangan Indonesia. (kontan)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.