SURYA.CO.ID, SURABAYA - Melemahnya nilai tukar rupiah memberikan tekanan berat bagi para pengusaha bus pariwisata di Lamongan, Jawa Timur (Jatim).
Kondisi ekonomi ini diperparah dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berdampak langsung pada lonjakan biaya operasional perusahaan.
Direktur Perusahaan Otobus (PO) Biru Samudra, Hj Tina Indriani, mengungkapkan bahwa kenaikan kurs dolar membuat harga suku cadang kendaraan, oli, hingga kebutuhan perawatan bus mengalami lonjakan signifikan.
Hal ini menjadi tantangan besar karena banyak komponen kendaraan yang masih bergantung pada produk impor.
Untuk menjaga keberlangsungan bisnis di tengah tekanan ekonomi, Biru Samudra terpaksa melakukan efisiensi ketat. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah dengan mengistirahatkan armada bus dengan tahun produksi lama.
"Biaya operasional sekarang semakin berat. Harga sparepart naik terus karena banyak komponen impor. Kami memilih mengistirahatkan satu armada tahun tua agar biaya tidak membengkak," ujar Tina, Rabu (10/6/2026).
Strategi ini diterapkan dengan kriteria berikut:
Selain dampak kurs rupiah, Tina menyoroti menurunnya aktivitas wisata dan kegiatan rombongan sekolah yang berpengaruh terhadap arus pendapatan perusahaan.
Permintaan penyewaan bus saat ini terpantau stagnan sejak awal tahun 2026.
Sebagai pelaku usaha, Tina berharap pemerintah dapat segera memberikan stimulus yang konkret untuk meringankan beban industri transportasi.
Beberapa poin yang diharapkan meliputi:
"Kalau tidak ada langkah konkret, banyak pengusaha bus yang kesulitan bertahan. Kami berharap ada perhatian khusus dari pemerintah agar sektor transportasi tetap berjalan," tambah Tina.
Saat ini, pengusaha di daerah hanya mampu bertahan sembari memantau kondisi pasar. Diharapkan daya beli masyarakat kembali pulih seiring dengan stabilnya kondisi ekonomi makro nasional.