Imbas Keracunan Massal di SDN 18 Kepahiang, Dapur MBG di Taba Tebelet Ditutup Sementara
Rita Lismini June 10, 2026 04:54 PM

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, M. Bima Kurniawan  

TRIBUNBENGKULU.COM, KEPAHIANG - Kasus dugaan keracunan massal yang menimpa sejumlah siswa SD Negeri 18 Kepahiang usai mengonsumsi makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus bergulir. 

Jumlah korban dugaan keracunan berjumlah 16 orang yang terdiri dari siswa, guru, dan penjaga sekolah yang dilarikan ke puskesmas Kelobak dan Puskesmas Pasar Kepahiang, pada Kamis (4/6/2026).  

Para siswa dilaporkan mengalami mual, muntah, sesak napas, hingga gatal pada tenggorokan sehingga harus mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan setempat.  

Dari keluhan tersebut pihaknya menindak lanjuti dengan memberikan infus serta obat. Dari penanganan tersebut seluruh pasien drngan keluhan tersebut berangsur pulih dan kembali ke rumah masing-masing.   

Sementara polisi mulai menyelidiki kasus dugaan keracunan massal yang dialami korban serta sejumlah sampel makanan yang diduga menjadi penyebab para siswa mengalami keracunan telah diamankan untuk diperiksa lebih lanjut dengan diuji laboratorium.  

Koordinator Wilayah (Korwil) Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kabupaten Kepahiang Vera menerangkan bahwa hasil uji laboratorium sampel makanan tersebut belum keluar. 

"Hasilnya belum ada, kami juga masih berkoordinasi dengan pihak regional," ucap Vera. 

Sementara dapur SPPG terkait tepatnya di Taba Tebelet diungkapkannya sudah ditutup sementara sembari menunggu hasil uji laboratorium tersebut. 

"Untuk dapur SPPG yang bersangkutan sudah berhenti beroperasi," pungkas Vera.

Bupati Buka Suara

Bupati Kepahiang Zurdi Nata kini menanggapi terkait insiden dugaan keracunan massal yang menimpa sejumlah siswa SD Negeri 18 Kepahiang usai mengonsumsi makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sejumlah wali murid mengaku masih diliputi rasa khawatir dan cemas meski kondisi anak-anak mereka kini berangsur membaik setelah mendapatkan perawatan medis.

Jumlah korban dugaan keracunan berjumlah 16 orang yang terdiri dari siswa, guru, dan penjaga sekolah yang dilarikan ke Puskesmas Kelobak dan Puskesmas Pasar Kepahiang, pada Kamis (4/6/2026).

Para siswa dilaporkan mengalami mual, muntah, sesak napas, hingga gatal pada tenggorokan sehingga harus mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan setempat.

Dari keluhan tersebut, pihaknya menindaklanjuti dengan memberikan infus serta obat.

Dari penanganan tersebut, seluruh pasien dengan keluhan tersebut berangsur pulih dan kembali ke rumah masing-masing.

Sementara itu, polisi mulai menyelidiki kasus dugaan keracunan massal yang dialami korban serta sejumlah sampel makanan yang diduga menjadi penyebab para siswa mengalami keracunan telah diamankan untuk diperiksa lebih lanjut dengan diuji laboratorium.

Nata mengungkapkan bahwa dirinya telah memerintahkan pihak kesehatan untuk memberikan fasilitas dan penanganan terbaik untuk para korban.

"Saya sudah perintahkan tim kita dalam hal ini kesehatan untuk turun memberikan bantuan pertama, salah satunya kita menyiapkan fasilitas kesehatan di puskesmas terdekat," ucap Nata.

Harapannya dapur MBG dapat mengevaluasi dan betul-betul memenuhi standarisasi serta menerapkan SOP yang berlaku.

"Harapan kita kedepan dapur mbg ini betul-betul memenuhi standar," harap Nata.

Siswa Trauma Makan MBG Lagi

Sementara itu, orang tua pelajar yang mengalami keracunan mengaku trauma dan khawatir usai anaknya dilarikan ke puskesmas usai mengonsumsi makan bergizi gratis (MBG), pada Kamis (4/6/2026).

Hingga saat ini, jumlah korban dugaan keracunan berjumlah 16 orang yang terdiri dari siswa, guru, dan penjaga sekolah yang dilarikan ke Puskesmas Kelobak dan Puskesmas Pasar Kepahiang.

Salah satu orang tua korban, Risti, mengungkapkan kondisi anaknya sempat mengalami muntah, gatal-gatal, hingga sesak napas setelah menyantap MBG di sekolah.

“Anak mulai mengeluh mual, muntah, pusing, dan gatal-gatal,” ujar Risti kepada Reporter TribunBengkulu.com, Kamis (4/6/2026).

Kondisi anak kemudian memburuk hingga mengalami sesak napas sebelum dibawa ke fasilitas kesehatan.

Risti mengatakan anaknya kini mengalami ketakutan untuk kembali mengonsumsi makanan dari program MBG.

“iya ada trauma dan khawatir,” kata Risti.

Ia berharap ada evaluasi menyeluruh terhadap kualitas makanan yang dibagikan kepada siswa.

“Harapannya ke depan tidak terjadi lagi dan makanan lebih selektif sebelum diberikan ke anak-anak,” katanya.

Senada dengan Rio yang anaknya juga mengalami keracunan usai mengonsumsi makanan dari program MBG.

"Iya anak saya keracunan dengan gejala muntah hingga dibawa ke Puskesmas Kelobak sekitar jam 10.00 WIB. Kalau penyebab nya kita kurang tau yang jelasnya dia ini sempat makan dari makanan MBG itu," jelas Rio.

Dirinya mengaku trauma atas apa yang dialami anaknya yang masih berusia sembilan tahun dan duduk di bangku kelas tiga SD 18 Kepahiang tersebut.

"Trauma dan kekhawatiran kita jelas ada, kedepannya kalau masih ada program ini harus ditingkatkan lagi dan yakinkan masyarakat agar tidak terjadi lagi," pungkas Rio.

Sampel Makanan Diuji Laboratorium

Atas kejadian tersebut, Kapolres Kepahiang AKBP Yuriko Fernanda mengunjungi Puskesmas Kelobak untuk meninjau korban keracunan tersebut.

Selain itu, ia bersama pihaknya juga mendatangi dan meninjau pihak sekolah untuk mencari sumber kontaminasi keracunan tersebut.

"Kemudian kita juga mendatangi pihak sekolah untuk melihat apakah terkontaminasi di dapur atau di sekolah," ungkap Yuriko.

Sementara itu, untuk SPPG tersebut menaungi lima sekolah dengan 1.700 penerima.

"Satu SPPG ini menaungi lima sekolah wilayah Kecamatan Kepahiang dengan 1.700 penerima," beber Yuriko.

Yuriko menyampaikan pihaknya juga telah melakukan penyidikan lebih dalam dengan mengambil sampel untuk diuji laboratorium.

"Iya pasti kita melakukan penyidikan lebih dalam. Kita sudah mengambil sampel makanan dan sudah dibawa ke laboratorium serta kita akan periksa hasil laboratoriumnya," kata Yuriko.

Hasil perkembangan uji laboratorium sampel tersebut nanti juga akan disampaikan ke publik.

"Untuk hasil uji sampelnya nanti kita sampaikan perkembangannya," ujar Yuriko.

Tindak lanjut ke depan, pihaknya juga masih menunggu hasil uji laboratorium.

"Kedepan kita koordinasi dengan MBGnya boleh atau tidak menyuplai makanan. Sementara penyegelan nanti kita lihat hasil laboratoriumnya dulu," pungkas Yuriko.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.