SURYA.CO.ID SURABAYA - Fakultas Psikologi Universitas Airlangga melalui Mental Health and Intervention Development Research Center (MIND-UNAIR) bekerja sama dengan The Center for Trauma Care and Research Organization (CTRO), Kamboja, menyelenggarakan program Community Development bertajuk “Building Capacity for Early Intervention in Psychosis (EIP): A Contextual Approach in a Developing Mental Health System.”
Program ini merupakan bagian dari komitmen bersama untuk memperkuat kapasitas tenaga kesehatan mental di Kamboja dalam mengenali serta menangani gejala psikosis sejak tahap awal menggunakan pendekatan berbasis bukti yang disesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya setempat.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi upaya memperkuat jejaring kolaborasi regional dalam pengembangan layanan kesehatan mental di kawasan Asia Tenggara.
Sebanyak 57 peserta mengikuti program ini, terdiri dari psikiater, dokter umum, psikolog, perawat kesehatan jiwa, konselor, hingga praktisi kesehatan mental dari berbagai institusi di Kamboja.
Tingginya antusiasme peserta menunjukkan meningkatnya kebutuhan penguatan sumber daya manusia dalam deteksi dini dan intervensi awal psikosis di negara berkembang.
Baca juga: Fakultas Psikologi Unair Dorong Literasi dan Kesadaran Kesehatan Mental Masyarakat
Program ini dilaksanakan oleh delegasi MIND-UNAIR yang terdiri dari Dr. Tri Kurniati Ambarini, M.Psi., Psikolog, Prof. Endang Retno Surjaningrum, M.AppPsych., Ph.D., Psikolog, Audi Farhan Prabowo, S.Psi., serta Romadaning Dyah Pertiwi, S.Sos.
Tim tersebut berperan dalam perancangan program, penyusunan materi pelatihan, fasilitasi diskusi, hingga penguatan jejaring kerja sama dengan mitra di Kamboja.
Sebagai mitra utama, CTRO Kamboja berperan dalam memfasilitasi koordinasi dengan pemangku kepentingan lokal, menjaring peserta, serta mendukung implementasi program berbasis kebutuhan masyarakat.
Kolaborasi ini menjadi contoh penting kemitraan lintas negara dalam memperkuat layanan kesehatan mental yang lebih kontekstual dan berkelanjutan.
Rangkaian kegiatan meliputi pelatihan, diskusi interaktif, studi kasus, serta pertukaran pengalaman antara tenaga kesehatan mental Indonesia dan Kamboja.
Pada sesi pelatihan, Prof. Endang Retno Surjaningrum memaparkan sistem kesehatan mental berdasarkan perspektif World Health Organization (WHO), tantangan di negara berkembang, serta strategi penguatan layanan di tingkat komunitas dan layanan primer.
Baca juga: Rasaya, Sistem Deteksi Dini Kesehatan Mental Siswa Ciptaan Mahasiswi Fakultas Teknik Ubaya
Sementara itu, Dr. Tri Kurniati Ambarini memberikan materi terkait deteksi dini psikosis dan implementasi Early Intervention in Psychosis (EIP) sebagai strategi penting meningkatkan peluang pemulihan pasien.
Melalui pendekatan studi kasus dan diskusi kelompok, peserta dibekali kemampuan mengenali tanda awal psikosis, faktor risiko, serta metode identifikasi dini di berbagai layanan kesehatan.
Selain transfer pengetahuan, kegiatan ini juga menjadi ruang pertukaran pengalaman terkait tantangan layanan kesehatan mental, termasuk keterbatasan sumber daya, rendahnya literasi masyarakat, dan penguatan sistem rujukan.
Ketua kegiatan, Dr. Tri Kurniati Ambarini, menegaskan pentingnya deteksi dini dalam mengurangi dampak jangka panjang gangguan psikosis.
“Deteksi dini dan intervensi awal merupakan salah satu kunci untuk mengurangi dampak jangka panjang gangguan psikosis. Melalui kolaborasi ini, kami berharap semakin banyak tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi untuk mengenali gejala awal dan memberikan respons yang tepat sehingga individu yang membutuhkan bantuan dapat memperoleh layanan lebih cepat,” ujarnya.
Kegiatan ini juga didukung Royal University of Phnom Penh sebagai penyedia fasilitas, yang menjadi bentuk sinergi antar lembaga dalam pengembangan kesehatan mental di Kamboja.
Melalui kolaborasi ini, UNAIR dan CTRO berharap dapat membuka jalan bagi program berkelanjutan di bidang pengabdian masyarakat, pendidikan, dan penelitian kesehatan mental.
Inisiatif ini sekaligus berkontribusi pada Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang kesehatan yang baik dan kesejahteraan, serta SDG 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan.