Menikmati Secangkir Kopi di Kedai Kopi Berusia 1 Abad yang Penuh Kenangan, Warung Kopi Purnama
Alfa Pratomo June 10, 2026 07:35 PM

Warung Kopi Purnama, kedai kopi yang usianya lebih dari 1 abad yang menjadi salah satu tujuan wisatawan jika berkunjung ke Kota Bandung, Jawa Barat. Perpaduan kopi dan roti selai srikayanya, tak ada duanya.

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

IntisaiOnline.com - Sejarah Indonesia mencatat, Jalan Asia Afrika di Kota Bandung, Jawa Barat, menjadi salah satu jalan paling bersejarah yang menjadi saksi bisu peralihan zaman kolonial hingga lahirnya solidaritas dunia. Puncaknya terjadi saat Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 1955.

Saat itu, Bandung terpilih menjadi tuan rumah sebuah gerakan internasional yang mempertemukan para pemimpin dari 29 negara Asia dan Afrika yang baru merdeka untuk melawan kolonialisme dan meredakan ketegangan Perang Dingin.

Dirangkum dari berbagai sumber,padaApril 1955, menjelang konferensi dimulai, Presiden Soekarno meninjau kesiapan Bandung. Dalam kunjungan tersebut, Bung Karno mengusulkan dua perubahan nama ikonik yang disetujui dewan kota.

Pertama, dia mengusulkan mengubah nama gedung Sociëteit Concordia menjadi Gedung Merdeka. Kedua, mengusulkan mengubah nama Jalan Raya Timur menjadi Jalan Asia Afrika.

Pada18 April 1955, sepanjang jalan ini dipadati lautan masyarakat yang menyaksikan momen The Bandung Walks (Langkah Bersejarah) itu. Pada momen itu, paratokoh dunia seperti Jawaharlal Nehru, Zhou Enlai, dan yang lainnya, termasuk Bung Karno sendiri, berjalan kaki dari Hotel Homann dan Hotel Preanger menuju Gedung Merdeka.

Kini, jalan tersebut dilestarikan sebagai kawasan cagar budaya (heritage).

Fasad bangunan berarsitektur Art Deco peninggalan Belanda itu tetap dipertahankan, menjadikannya salah satu pusat wisata sejarah, edukasi, dan ruang publik paling hidup di Kota Bunga.Melintasi Jalan Asia Afrika dengan berjalan kaki sangat menarik karena kita bisa melihat bangunan lama yang menjadi saksi bisu sejarah.

Setelah menjelajah Jalan Asia Afrika, tak afdal rasanya jika tidak mampir ke kedai kopi legendaris yang usianya sudah 1 abad lebih untuk melepas dahaga. Lokasi persisnya berada diJalan Alkateri, di situ kita akan memukan sebuah bangunan lama denga pintu kayu tua.

Di atas pintu itu, tepatnya di sisi luar bangunan, ada papan nama bertuliskan Warung Kopi Purnama Sejak 1930. Masuk ke dalam ke dalamnya, kita seolah diajak untuk melihat goresan sejarah berupa visual desain interior warung dan beberapa barang lama.

Lebih dari itu, masuk ke Kedai Kopi Purnawa membawa kita seolah melihat museum mini yang hidup.Lantainya berupa tegel kuno dan di dinding tergantung jajaran foto hitam-putih Kota Bandung tempo doeloe yang berbingkai kayu.

Selain itu, ada furnitur meja dan kursi kayu bundar yang dibiarkan asli meski warnanya sudah mulai memudar.

Warung Kedai Kopi Purnama menjadi tempat favorit bagi pelancong atau warga Bandung untuk melihat sejarah Bandung dari secangkir kopi dan sepotong roti panggang.

Sejarah Warung Kopi Purnama berawal dari peranakan Medan yang merantau ke Bandung. Nama orang itu adalahJong A Tong.

Di kawasan yang kini dikenal sebagai Pecinan Bandung, Jong A Tong mendirikan sebuah warung kopi sederhana bernama Chang Chong Se. Dalam dialek Hakka, Chang Chong Se artinya "silakan datang".

Ketika didirikan pada1930, kedai Chang Chong Se menjadi tempat berkumpulnya para pedagang, buruh, hingga kaum bumiputera dan peranakan untuk beristirahat melepas penat. Di tempat itu, mereka menikmati secangkir kopi sambil berbincang membahas beberapa seperti isu situasi politik Hindia Belanda yang kian menghangat.

Menurut beberapa sumber yang kami rangkum, pada1966, menyusul situasi yang tidak menguntungkan terutama bagi kalangan peranakan Tionghoa, Chang Chong Se mengganti nama kedai kopinya menjadi Kedai Kopi Purnama.

Pilihan nama Purnama diambil konon mencerminkan harapan agar usaha kedai kopi selalu bersinar utuh dan terang layaknya bulan purnama. Meski usianya sudah hampir 1 abad, warung Purnama terus menjaga konsistensi rasa dan kualitas.

Saat ini Kedai Kopi Purnama dikelola oleh generasi ketiga. Keluarga Jong A Tong teerus menerus mempertahankan racikan asli yang diwariskan.

Salah satu cara Warung Kopi Purnama menjaga konsistensinya adalah dengan tetap menggunakan biji kopi robusta pilihan. Dari biji kopi itu kemudian diolah untuk menghasilkancira rasa pahit mantap yang pas yang dikombinasikan dengan manisnya susu kental manis.

Menyesap kopi di warung Purnama tidak lengkap jika tidak disandingkan dengan hangatnya roti selai srikaya. Bedanya dengan roti srikaya yang lain, roti srikaya ala Purnama menggunakan selai yang diproduksi sendiri secara tradisional tanpa bahan pengawet.

Selai srikaya dari resep rahasia keluarga ini menghasilkan tekstur selai yang lembut dengan rasa tidak terlalu manis. Aroma yang tercium pun aroma alami srikaya.

Setelah meenyeruput secangkir kopi dan setangkup roti srikaya, berada di Kopi Purnama seolah tidak hanya aktivitas melepas dahaga dan mengisi perut saja. Berada di warung kopi Purnama, pengunjung dibangunkan memori-pengalamannya berada di tengah pusat kota Bandung yang syarat cerita sejarah.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.