TRIBUN-MEDAN.com - Di tengah derasnya kritik, polemik, dan berbagai persoalan yang membayangi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah daerah, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo tampil dengan klaim optimistis.
Ia menyatakan bahwa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dikelola Polri justru mampu menunjukkan standar pelayanan yang baik dan menjadi contoh dalam mendukung program prioritas nasional tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Sigit saat menghadiri Rapat Koordinasi Pengawasan (Rakorwas) Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) di Ancol, Jakarta, Rabu (10/6/2026).
Program MBG dalam beberapa waktu terakhir menjadi sorotan publik. Mulai dari kasus dugaan korupsi di lingkungan Badan Gizi Nasional (BGN), penghentian operasional sejumlah dapur MBG di berbagai daerah, hingga insiden keracunan makanan yang sempat memicu kekhawatiran masyarakat.
Namun di tengah berbagai kontroversi tersebut, Kapolri menegaskan bahwa Polri mampu menghadirkan pengelolaan SPPG yang berbeda.
"Alhamdulillah terkait dengan isu MBG yang menimbulkan pro dan kontra, di satu sisi karena ini dianggap pemborosan, Polri bisa hadir untuk kemudian tampil menjadi SPPG yang bisa menunjukkan SPPG dengan kualitas yang baik," kata Sigit.
Menurutnya, kehadiran SPPG Polri menjadi bukti bahwa program MBG dapat dijalankan dengan standar pelayanan yang baik apabila dikelola secara serius dan profesional.
Sigit bahkan mengungkapkan bahwa kualitas pengelolaan SPPG Polri mendapat perhatian khusus dari Presiden Prabowo Subianto.
Ia membandingkan kondisi tersebut dengan berbagai persoalan yang sempat terjadi di sejumlah dapur MBG lain yang menjadi sorotan publik.
"Pada saat yang lain keracunan, Polri menunjukkan yang baik dan mendapatkan apresiasi dari Bapak Presiden," ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa pemerintah menaruh perhatian terhadap kualitas pelaksanaan program MBG, terutama dalam aspek keamanan pangan dan pelayanan kepada penerima manfaat.
Tidak hanya mengklaim mendapat apresiasi dari Presiden, Kapolri juga menyebut bahwa kualitas SPPG Polri menarik perhatian pihak internasional.
Menurut Sigit, perwakilan dari Rockefeller Foundation bahkan melakukan peninjauan langsung untuk melihat bagaimana sistem pengelolaan dapur gizi yang dijalankan Polri.
"Rockefeller Foundation, asing juga mengecek langsung untuk ingin tahu bagaimana SPPG Polri dan ternyata mereka juga melakukan statement bahwa hal SPPG Polri termasuk SPBG yang terbaik yang ada," ungkapnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan program gizi yang dilakukan Polri disebut menjadi salah satu model yang mendapat perhatian dari lembaga internasional.
Selain aspek kualitas makanan dan pengelolaan dapur, Sigit menilai keberhasilan program MBG juga sangat bergantung pada ketepatan sasaran penerima manfaat.
Menurutnya, program tersebut harus benar-benar menjangkau kelompok yang membutuhkan agar tujuan besar pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dapat tercapai.
Ia menegaskan bahwa distribusi makanan bergizi harus diarahkan kepada anak-anak yang membutuhkan sehingga manfaat program dapat dirasakan secara maksimal.
"Anak-anak yang mendapatkan juga anak-anak yang memang membutuhkan yang kemudian bisa juga membantu terhadap ancaman stunting dan sebagainya karena kita akan masuk kepada momentum bonus demografi tadi," ucapnya.
Kapolri menilai program MBG bukan sekadar agenda pemenuhan kebutuhan makan harian peserta didik, tetapi juga bagian dari upaya jangka panjang menyiapkan generasi masa depan Indonesia.
Dengan memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang memadai, pemerintah diharapkan mampu menekan angka stunting sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam menghadapi bonus demografi yang diproyeksikan terjadi dalam beberapa dekade mendatang.
Di tengah berbagai evaluasi besar yang kini dilakukan terhadap tata kelola MBG secara nasional, klaim Kapolri mengenai keberhasilan SPPG Polri menjadi narasi berbeda yang muncul di tengah sorotan terhadap program unggulan pemerintah tersebut.
Apakah model pengelolaan yang diterapkan Polri nantinya akan menjadi acuan perbaikan bagi SPPG lainnya, masih menjadi hal yang menarik untuk dicermati dalam perkembangan program MBG ke depan.
(*/ Tribun-medan.com)