TRIBUNNEWS.COM - Untuk hari kedua berturut-turut, Kamis (11/6/2026), Komando Pusat militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengatakan telah melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran.
Serangan itu tak lama diluncurkan setelah Presiden AS Donald Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth memperingatkan akan menyerang Republik Islam tersebut dengan keras.
Menurut laporan media lokal, sistem pertahanan udara diaktifkan di sejumlah wilayah selatan Iran.
Mengutip NDTV, ledakan terdengar di Teheran bagian barat, Provinsi Fars, Bandar Abbas, Pulau Qeshm, Pulau Kish, Minab, serta beberapa wilayah di Provinsi Isfahan.
Sebagai tanggapan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah menyerang pangkalan militer di Kuwait dan Bahrain sebagai balasan atas serangan terbaru AS.
IRGC menambahkan bahwa mereka juga menyerang dan menghancurkan Pangkalan Udara Sheikh Isa di Bahrain.
Selain itu, IRGC dalam pernyataannya mengatakan telah menutup Selat Hormuz, jalur penting bagi pengiriman minyak global, untuk semua kapal.
Baca juga: Iran-AS Perang Narasi: Saling Bantah soal Penutupan Selat Hormuz dan Trump yang Hubungi Pejabat Iran
"Berlaku segera, karena ketidakamanan di kawasan tersebut, Selat Hormuz dinyatakan tertutup untuk semua kapal, termasuk kapal tanker minyak dan kapal komersial," kata sumber IRGC.
Setelah IRGC menyatakan telah menyerang pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah, sirene serangan udara terdengar di sejumlah wilayah di Bahrain.
Kementerian Dalam Negeri Bahrain meminta masyarakat tetap tenang dan segera menuju tempat aman terdekat.
Di Kuwait, Staf Umum Angkatan Darat mengumumkan bahwa sistem pertahanan udara telah mencegat target udara musuh sesuai dengan prosedur operasional yang berlaku.
Mereka juga mengimbau warga untuk mematuhi instruksi keamanan dan keselamatan yang dikeluarkan otoritas terkait serta hanya mengandalkan informasi dari sumber resmi.
Mengutip Al Jazeera, otoritas penerbangan sipil Kuwait mengumumkan penutupan sementara wilayah udara negara tersebut sebagai langkah pencegahan.
Penerbangan akan dialihkan ke bandara alternatif sesuai dengan perjanjian dan prosedur yang telah disepakati, kata otoritas tersebut dalam pembaruan yang dibagikan melalui media sosial.
Berdasarkan laporan terbaru, Pusat Komunikasi Pemerintah Kuwait menyatakan bahwa sistem pertahanan udara negara itu telah berhasil mencegat target udara musuh.
Mengutip Al Jazeera, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan bahwa Timur Tengah sedang terseret ke dalam krisis yang semakin dalam dengan konsekuensi yang meluas hingga ke luar kawasan.
"Timur Tengah sedang terseret lebih dalam ke dalam krisis dan konsekuensinya meluas jauh melampaui kawasan ini," tulisnya dalam unggahan di platform X.
"Minggu ini telah terjadi serangan yang semakin meluas dan memburuknya situasi, di mana gencatan senjata kini lebih menyerupai jeda tembakan sementara," katanya.
"Kita tidak boleh meremehkan risiko jeda tembakan sementara berubah menjadi perang terbuka," tambahnya.
Guterres menegaskan bahwa seluruh pihak harus berupaya mencapai penyelesaian diplomatik.
"Tidak ada lagi serangan. Tidak ada lagi alasan," ujarnya.
Baca juga: AS Lanjutkan Serangan ke Iran, Menhan Pete Hegseth: Kita Akan Bernegosiasi dengan Bom
Sejak gencatan senjata disepakati kedua pihak pada April lalu, telah terjadi sejumlah pelanggaran.
Namun, serangan pada pekan ini, yang dilancarkan setelah jatuhnya helikopter AS di atas Selat Hormuz, menjadi pelanggaran gencatan senjata paling serius dan paling luas sejauh ini, Guardian melaporkan.
Presiden AS Donald Trump telah meningkatkan kemungkinan terjadinya serangan lanjutan terhadap Iran.
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan kepada wartawan bahwa jika serangan harus terjadi, maka serangan itu akan kuat dan jelas.
Dalam pengarahan kepada berbagai media, para pejabat AS berupaya mengecilkan dampak serangan kali ini.
Mereka tetap menegaskan bahwa gencatan senjata masih berlaku dan proses negosiasi yang lebih luas dengan Iran tidak terdampak.
Wall Street Journal melaporkan bahwa setelah mengizinkan serangan terbaru tersebut, Trump meminta para pembantunya menyampaikan pesan kepada Iran melalui Qatar bahwa serangan itu tidak menandakan dimulainya kembali perang habis-habisan, melainkan hanya respons atas insiden jatuhnya helikopter tersebut.
"Tidak ada yang mengubah posisi kesepakatan saat ini," kata seorang pejabat Gedung Putih kepada Politico.
"Ada aspek militer dan ada aspek negosiasi. Jadi, kedua hal itu dapat berjalan secara bersamaan."
Brett McGurk, yang pernah menduduki posisi senior di bidang keamanan nasional pada pemerintahan Obama, Trump, dan Biden, menyebut bahwa AS secara terbuka telah memberi sinyal kepada Iran bahwa serangan lanjutan akan terjadi pada Kamis.
"Yang mereka coba lakukan adalah mengelola eskalasi tersebut," katanya.
"AS ingin menyampaikan kepada Iran bahwa mereka akan merespons dan serangan itu akan terjadi, tetapi bukan awal dari kampanye militer yang dimulai pada Februari."
Selama berminggu-minggu, Trump mengklaim kesepakatan untuk mengakhiri konflik secara permanen telah tercapai dan berupaya menghindari kembalinya perang terbuka.
Baca juga: Apa Peran Milisi Houthi di Yaman dalam Perang Iran?
Pemerintahannya juga menghadapi tantangan politik dalam negeri.
Trump tengah berhadapan dengan penurunan tingkat persetujuan publik dan memburuknya sentimen ekonomi, sementara perang tersebut semakin tidak populer di kalangan masyarakat AS.
Meskipun Trump menyatakan dirinya "menyukai" inflasi pada Rabu, kenaikan harga bulanan untuk ketiga kalinya secara berturut-turut dinilai merugikan dirinya dan Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu.
Namun, terlepas dari klaim Trump bahwa kesepakatan dengan Iran telah tercapai, masih terdapat kesenjangan signifikan antara kedua pihak.
Pembatasan program nuklir Teheran, pencairan aset Iran yang dibekukan, serta perang Israel yang masih berlangsung di Lebanon menjadi beberapa isu utama yang hingga kini menghambat tercapainya kesepakatan final.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)