Renungan Harian Kristen 12 Juni 2026 - Melampaui Akal Budi
Suci Rahayu PK June 11, 2026 05:48 PM

Renungan Harian Kristen 12 Juni 2026 - Melampaui Akal Budi

Bacaan ayat: 1 Korintus 15:35 (TB)  Tetapi mungkin ada orang yang bertanya: "Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?"

Oleh Pdt Feri Nugroho

 

Ciri dominan hidup modern ialah menempatkan akal budi sebagai sebagai standar kebenaran. Jika tidak masuk akal maka dinilai tidak benar dan hanya yang masuk akal yang akan diakui benar.

Cara paham ini dipengaruhi oleh semakin majunya teknologi yang diciptakan oleh manusia dengan akal budinya.

 Segala sesuatu harus dibuktikan secara empiris, didukung dengan berbagai fakta yang saling terkait sampai akhirnya diputuskan benar.

 Sayangnya ada dimensi metafisika yang sering terabaikan. Faktanya ada banyak hal yang tidak bisa dinilai dengan standar akal budi namun benar adanya.

Orang tidak bisa melihat angin, namun angin itu ada. Listrikpun tidak bisa dilihat namun terbukti ada.

Pengajaran tentang kebangkitan orang mati, bukanlah pengajaran yang menarik untuk dilirik.

Orang Saduki pada masa hidup Yesus di bumi, tidak percaya akan adanya kebangkitan. Bagi mereka, jika ada kebangkitan maka kehidupan akan semakin rumit.

Itu sebabnya mereka mengangkat kasus pernikahan dalam rangka ketidakpercayaan akan adanya kebangkitan. Orang-orang Yunani pun bersikap sama.

Ketika Paulus menyebut tentang kebangkitan orang mati, secara terang-terangan mereka menolak dan tidak mau mendengarkan penjelasan lebih lanjut. Bagi mereka  kebangkitan itu tidak masuk akal. 

Jemaat Korintus berdampingan dengan kelompok orang yang tidak percaya akan adanya kebangkitan.

Kebangkitan dianggap halusinasi dari orang-orang yang memiliki harapan kosong.

Itu sebabnya pertanyaan yang pasti muncul ialah "Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?" 

Ini pertanyaan paling logis yang memerlukan jawaban. Jika dinalar oleh akal budi, pasti akan sulit menemukan jawaban pasti. Bahkan mungkin tidak menemukan jawaban. 

Tentu diperlukan dasar pikir yang benar agar bisa memberikan jawaban. Jika akal budi yang dijadikan tolok ukurnya, maka perlu dibuka kemungkinan. 

Ada yang masuk akal, ada hal yang tidak masuk akal. Faktanya, hal tidak masuk akal, seringkali hanya memerlukan waktu untuk ditemukan dan akhirnya masuk akal. Ini membuktikan ada hal-hal yang melampaui akal. Hal-hal yang tidak bisa dijelaskan namun ada fakta di lapangan.

Jika kasusnya pada pertanyaan: Tubuh apa yang dipakai ketika kebangkitan terjadi; maka pertanyaan yang sama bisa diajukan, pada sebutir telur, tubuh mana yang nantinya dipakai untuk ayam bisa hidup?

Atau pada sebutir benih, bisa ditanyakan bagaimana akar, batang dan daun akan dibentuk? 

Jawabannya akan melampaui akal. Demikian juga dengan kebangkitan orang mati. Paulus sedikit memberikan kisi-kisi bahwa ketika kebangkitan terjadi maka yang dibangkitkan akan memakai tubuh yang tidak bisa binasa; tubuh mulia yang tidak lagi bisa mati. 

Kebangkitan Yesus adalah dasar kepercayaan kita akan adanya kebangkitan. Kebangkitan Yesus menjadi dasar utama lahirnya iman Kristen dalam sejarah.

 Pakai akal budi untuk memahami karya-Nya. Meskipun demikian kita perlu paham bahwa ada hal-hal yang melampaui akal, dimana karya Allah dinyatakan.

Itu sebabnya penting untuk terus melangkah dengan iman dan harapan bahwa karya-Nya nyata dalam kehidupan kita. Amin.

    Renungan Kristen oleh Pdt Feri Nugroho, GKSBS Siloam Palembang

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.