Dari Donggala ke Makassar, Jejak Warda Membangun Kebersamaan di Panaikang
Saldy Irawan June 11, 2026 08:09 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Merantau dari Donggala ke Makassar pada usia muda menjadi titik awal perjalanan panjang hidup Warda, perempuan kelahiran 19 September 1979 itu.

Di usia 20 tahun, tepat pada 1999, ia meninggalkan kampung halamannya menuju Kota Daeng dengan satu tujuan sederhana, yakni mencari pekerjaan dan mengubah nasib.

Namun saat itu, ia belum pernah membayangkan bahwa langkah kecilnya di tanah rantau akan membawanya pada amanah besar menjadi memimpin lingkungan dan mengayomi ribuan warga di Kelurahan Panaikang, Kecamatan Panakkukang.

Ia bergabung sebagai staf administrasi di pusat perbelanjaan Harapan Baru. Selama kurang lebih 12 tahun, Warda berkutat dengan data, angka, dan urusan administrasi perusahaan, termasuk pengelolaan gaji karyawan.

Pekerjaan yang menuntut ketelitian itu ia jalani dengan konsisten, membentuk karakter disiplin dan tanggung jawab dalam dirinya.

Ia aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan, menjadikan ruang sosial sebagai tempat belajar yang lain dari ruang kantor.

Dari Laskar Merah Putih (LMP), pengurus Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM) Kecamatan Panakkukang, hingga kini sebagai Korcam Serikandi APPI, ia terus hadir di tengah masyarakat dalam berbagai kegiatan sosial.

Keterlibatannya di organisasi membuatnya semakin dekat dengan warga.

Ia terbiasa turun langsung membantu persoalan sosial di lingkungan, dari hal kecil hingga kebutuhan mendesak masyarakat.

Dari perjalanan panjang itu, kepercayaan perlahan tumbuh.

Warda kemudian dipercaya menjadi Ketua RW 003 Kelurahan Panaikang.

Kini, RW 003 yang ia pimpin terdiri dari 11 RT dengan sekitar 1.500 kepala keluarga.

Di tengah dinamika warga yang beragam, Warda memilih untuk bergerak dari hal paling dekat dengan lingkungan.

Salah satu program yang ia dorong adalah urban farming.

Lahan-lahan kosong di sekitar pemukiman disulap menjadi kebun produktif.

Bersama warga, ia menanam kangkung, bayam, cabai, tomat, timun, terong hingga jagung ungu.

Hasilnya bukan hanya panen, tetapi juga kebersamaan.

“Sudah pernah panen kangkung dan pisang ambon. Hasilnya dibagikan kepada warga,” ujarnya, Kamis (11/6/2026).

Selain itu, ia juga menggerakkan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Di RW 003 kini telah berdiri dua bank sampah yang aktif, dilengkapi komposter dan sistem pengolahan sederhana yang melibatkan warga secara langsung.

Tidak hanya soal lingkungan, Warda juga menghidupkan kembali tradisi kebersamaan melalui ronda malam yang dijalankan secara bergilir di seluruh RT.

Baginya, keamanan lingkungan bukan hanya tugas aparat, tetapi tanggung jawab bersama.

Ia percaya kekuatan terbesar wilayahnya bukan pada fasilitas, melainkan pada kekompakan warganya.

“Kalau ada kegiatan, warga selalu kompak. Itu yang membuat saya semangat. Apa pun program yang mau dijalankan, pasti lebih mudah kalau warga mau bergerak bersama,” katanya.

Di balik kesibukannya sebagai pemimpin lingkungan, Warda tetap sederhana. Ia memiliki hobi memasak, dan sering menjadikan dapur sebagai ruang kecil untuk melepas lelah.

Bagi Warda, membangun lingkungan bukan tentang siapa yang paling menonjol, tetapi tentang bagaimana semua orang bisa bergerak bersama.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.