POS-KUPANG. COM, KUPANG - Penyakit Ice-ice masih melilit usaha rumput laut dari petani di Desa Tablolong, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang NTT.
Selain penyakit ini, kondisi perairan juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi budidaya rumput laut di daerah setempat.
Danial Hoan, petani rumput laut yang ditemui, Kamis (11/6/2026) mengatakan, usaha rumput laut saat ini berbeda jauh dengan 10 atau 15 tahun lalu.
"Kalau dulu usaha ini banyak dan hasilnya juga lumayan. Saat ini banyak kendala yang kita hadapi," ujarnya.
Baca juga: Dengarkan Suara Petani Rumput Laut, PLN NTT Kedepankan Dialog Humanis demi Lingkungan Lestari
Menurut Danial, budidaya rumput laut sekarang dihantui oleh penyakit ice-ice sehingga usaha ini tidak begitu menentu," katanya.
Dikatakan, saat ini ad 67 tali rumput laut yang sudah dipasang, namun pertumbuhannya sangat lambat akibat adanya penyakit ice-ice. Selain penyakit ice-ice, faktor perairan atau air laut juga menentukan.
"Air laut ini kalau kotor juga ganggu pertumbuhan rumput laut," ujarnya.
Terkiat harga, Danial mengatakan, saat ini harga rumput laut kering Rp 22 ribu per kg.
"Kalau mentah sulit untuk dipasarkan. Memang untuk jual di Tablolong ini ada pengumpul jadi langsung dibeli dari kami. Kemarin baru kami timbang beberapa kg," katanya.
Setelah panen rumput laut dijemur di bawah panas matahari selama tiga hari.
Salah satu warga Fredik Dano mengatakan, selain penyakit ice-ice, juga pencemaran laut. Dugaan pencemaran limbah dari PLTU Timor 1 dan dari Bolok cukup mempengaruhi budidaya rumput laut.
"Rumput laut yang dibudidayakan sangat dipengaruhi pula oleh bibit. Bibit biasanya harus tiga tahun, kalau sudah lewat tiga tahun mutu bibit sudah kurang bagus. " ujar Fredik Dano yang juga adalah Bendahara Desa Tablolong.
Dikatakan, Tablolong terkenal karena rumput laut. Dia juga mengaku merupakan tangan kanan dari IA Medah ketika itu gencar budidaya rumput laut.
"Kami ke beberapa daerah seperti Sabu dan Sumba untuk pengembangan rumput laut," ujarnya.
Kepala Desa Tablolong, Zet A. M. Nggadas mengatakan, perkembangan rumput laut akibat faktor alam cukup tinggi, sehingga petani rumput laut harus bisa memperhatikan waktu atau musim ikat rumput laut.
Sedangkan soal kendala budidaya yang dihadapi petani rumput laut, Zet mengakui, salah satunya adalah penyakit ice-ice, selain pencemaran lingkungan perairan laut yang diduga dari PLTU Timor 1.
"Jadi ini kita duga, memang ada penelitian dari beberapa Perguruan tinggi dan akademisi itu menyatakan bahwa itu ice-ice yang tidak berkembang akibat pencemaran laut.
Bahkan, petani dan masyarakat trauma untuk budidaya rumput laut, ketika menanam pada musim tidak menentu," ujarnya. (*)