TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kenaikan harga sejumlah jenis bahan bakar minyak (BBM) membuka peluang bagi transportasi umum untuk menarik lebih banyak pengguna, termasuk layanan Batik Solo Trans (BST) di Kota Solo.
Di tengah keluhan masyarakat terkait melonjaknya harga BBM, BST justru masih mempertahankan tarif lama tanpa ada penyesuaian.
Kondisi ini membuat transportasi umum tersebut berpotensi menjadi alternatif bagi warga yang ingin mengurangi penggunaan kendaraan pribadi demi menekan pengeluaran harian.
Kepala UPT Transportasi Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Solo, Agus Purnomo, memastikan hingga saat ini tarif BST masih tetap normal meski harga BBM mengalami kenaikan.
"Belum, (tarif BST masih) tetap," ungkap Agus melalui pesan singkat, Kamis (11/6/2026).
Dengan tarif yang tidak berubah, BST dinilai memiliki peluang besar untuk menggaet masyarakat yang selama ini mengandalkan kendaraan pribadi.
Terlebih, biaya operasional kendaraan kini semakin tinggi seiring naiknya harga BBM.
Baca juga: Kabar Baik! Meski Harga BBM Pertamax Naik, Warga Solo Masih Bisa Nikmati Bis Kota dengan Tarif Murah
Namun, meski berpotensi menjadi pilihan utama masyarakat, hingga saat ini belum terlihat adanya peningkatan jumlah penumpang secara signifikan.
Berdasarkan pemantauan di lapangan, aktivitas penumpang BST masih berjalan normal seperti biasanya.
Belum ada lonjakan pengguna yang menunjukkan peralihan besar-besaran dari kendaraan pribadi ke transportasi umum.
Meski demikian, BST tetap menjadi salah satu moda transportasi yang diandalkan masyarakat karena dinilai praktis, nyaman, dan lebih ekonomis di tengah meningkatnya biaya perjalanan akibat kenaikan harga BBM.
Dari pantauan TribunSolo.com di sejumlah halte baik di jalan Slamet Riyadi, jalan Adi Sucipto maupun jalan Walter Monginsidi, kondisi halte-halte BST masih belum ramai penumpang. Bahkan dari pantauan hanya satu dua penumpang yang menunggu kedatangan BST di halte tersebut.
Namun demikian, BST sudah menjadi primadona bagi sejumlah masyarakat seperti siswa sekolah, mahasiswa maupun beberapa warga lain.
Salah satunya, Widhi (22) mahasiswa UNS asal Semarang tersebut telah menggunakan BST sebagai alat transportasi sejak tahun 2024.
Baca juga: Polemik Program MBG! 97 SPPG DIY Mandek Akibat Pencairan Anggaran Tertunda: Dana Pusat Belum Cair
Hal itu diakui Widhi tak lain karena tarif yang murah. Bahkan sekali naik BST hanya membayar Rp 3.700.
"Saya baru menggunakan akhir tahun 2024 sampai sekarang. Kalau harga sih sesuai kantong mahasiswa dan warga sipil. Apalag ada harga pelajar, harga lansia dan disabilitas. Jadi mempermudah bagi yang jarang menggunakan kendaraan pribadi," kata Widhi.
"Sekali naik itu Rp 3.700 apalagi kalau mau pindah rute kalau belum ada satu jam, tidak dikenai biaya tambahan. Itu khusus pakai kartu, kalau Qris bayar lagi," lanjutnya.
Disinggung dengan harga sejumlah BBM yang mengalami kenaikan, Widhi pun berharap agar tarif BST tidak terpengaruh.
"Kalau diusahakan sih jangan naik dulu, soalnya melihat ekonomi sekarang belum stabil apalagi UMK Solo kan beda sama kota-kota lain, jadi menyesuaikan saja," terangnya.
Sepengalaman Widhi selama 2 tahun menggunakan BST, ia menyebut ada kenaikan penumpang menurutnya.
Namun anehnya kenaikan penumpang tersebut justru didominasi oleh wisatawan maupun warga luar Kota Solo.
"Kalau menurut saya sih iya, tapi malah dari turis atau wisatawan yang mau jalan-jalan muter Solo lebih memilih naik BST. Mereka soalnya lebih sering tanya rute terus bayarnya pakai apa dan rute," kata dia.
Terkait fasilitas baik halte maupun armada, Widhi berharap ada tambahan terkhusus daftar informasi baik rute maupun tarif yang menurutnya bisa membantu pengguna BST baru.
"Kalau haltenya sih biasa aja, ya sesuai lah karena nggak padat banget penumpangnya jadi masih layak buat nunggunya," urainya.
"Mungkin fasilitas ya bisa ada penambahan rutenya, atau informasi yang jelas soalnya kadang penumpang baru masih bingung, terus tarifnya. Soalnya lebih mempermudah penumpang," tutupnya.
Kesadaran untuk menggunakan transum BST pun juga disambut baik oleh beberapa masyarakat lainnya seperti Heri (38) warga Kleco. Menurutnya meski ada pengurangan rute BST, namun kondisi transum di bawah Dishub tersebut sangat memadahi.
"Basic-nya saya suka jalan. Tapi memang saya juga suka naik BST kalau mau jalan agak jauh ke halte ya nggak masalah," sebutnya.
Heri juga berpendapat bahwa kenaikan harga BBM bisa jadi momentum baik bagi masyarakat maupun penyedia transum berbasis massa seperti BST untuk memaksimalkan fasilitas yang ada.
"Ya memang masyarakat masih suka sesuatu yang efektif seperti naik kendaraan sendiri untuk kemana-mana. Tapi kalau melihat penyediaan BST ya semoga makin banyak penggunanya setelah tarif BBM naik, sementara tarif BST kan masih sama. Semoga ya bisa dimanfaatkan masyarakat. Apalagi kan bisa ngurangi emisi," pungkasnya.
(Tribunnewsmaker.com/TribunSolo.com/Andreas Chris Febrianto)