Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) membagikan praktik baik terkait transformasi digital PAUD di Indonesia yang berjalan secara terukur dan memberikan dampak nyata dalam forum SEAMEO Centres Policy Research Network (CPRN) Summit 2026.
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, Non Formal dan Informal (PAUD Dikdas PNFI) Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto memaparkan hasil riset nasional yang memperlihatkan dampak transformasi digital PAUD di Indonesia.
“Kami ingin menghubungkan kebijakan, penelitian dan praktik. Karena itu, setiap langkah digitalisasi PAUD sedang kami bangun di atas data lapangan dan kebutuhan nyata di sekolah,” ujar Gogot di Jakarta, Jumat.
Dalam sesi bertema Evidence-Based Inclusive Digital Learning in Indonesia’s Early Childhood Education, ia memaparkan hasil empat studi nasional yang melibatkan lebih dari 67.000 responden dari 38 provinsi.
Riset tersebut, lanjutnya, mencakup survei tata kelola di 5.997 sekolah, survei kepala sekolah terhadap 22.519 responden, kunjungan lapangan ke-28 sekolah di 11 provinsi, hingga survei guru yang menjangkau 39.567 tenaga pendidik.
Karena itu, basis data tersebut menjadi salah satu potret implementasi digitalisasi PAUD berskala nasional yang mencakup hampir seluruh provinsi di Indonesia.
Paparan tersebut menunjukkan sejumlah capaian konkret sepanjang 2025, di antaranya sebanyak 63.842 sekolah telah menerima perangkat IFP, sebanyak 64.191 sekolah memperoleh laptop dan perangkat penyimpanan data, serta sebanyak 168 sekolah di daerah terpencil telah terhubung dengan layanan internet.
Ia menambahkan pada 2026, program tersebut diperluas ke lebih dari 2.300 sekolah tambahan, termasuk dukungan panel surya untuk wilayah yang belum terjangkau listrik.
Di sisi konten, Gogot mengatakan platform Ruang Murid kini menyediakan ratusan materi interaktif PAUD yang dapat diakses secara luring, sehingga mendukung pemerataan layanan pendidikan di berbagai wilayah.
Teknologi dalam PAUD bukan dirancang untuk menghilangkan aktivitas fisik, melainkan sebagai stimulus singkat untuk memicu kreativitas dan rasa ingin tahu anak.
“Teknologi dalam PAUD tidak dimaksudkan untuk menggantikan bermain. Teknologi kami gunakan untuk membantu anak mengeksplorasi hal-hal baru dan memperkaya pengalaman belajar mereka,” katanya.
Gogot menambahkan seluruh langkah tersebut merupakan bagian dari arah kebijakan pemerintah dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Keikutsertaan Kemendikdasmen dalam CPRN 2026 menegaskan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi peserta dalam forum internasional, tetapi juga berkontribusi melalui praktik baik dan bukti nyata yang dapat menjadi referensi bagi negara-negara di kawasan Asia Tenggara.





