Dampak BBM Naik, Sopir Travel di Rejang Lebong Mengeluh Biaya Operasional Membengkak
Rita Lismini June 12, 2026 04:41 PM

Laporan Wartawan TribunBengkulu.com, M Rizki Wahyudi

TRIBUNBENGKULU.COM, REJANG LEBONG - Dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir mulai dirasakan oleh pelaku usaha jasa transportasi travel di Kabupaten Rejang Lebong.

Para sopir travel mengaku biaya operasional kendaraan terus mengalami peningkatan.

Kenaikan tersebut tidak hanya terjadi pada kebutuhan BBM, tetapi juga pada harga suku cadang atau sparepart kendaraan serta oli yang digunakan untuk perawatan armada.

Salah seorang sopir travel di Rejang Lebong mengatakan, Amir kondisi saat ini membuat penghasilan yang diperoleh semakin tertekan karena biaya yang harus dikeluarkan untuk operasional kendaraan terus bertambah.

Menurutnya, harga sejumlah sparepart dan oli mengalami kenaikan yang cukup signifikan dibandingkan sebelumnya. Kondisi tersebut membuat biaya perawatan kendaraan menjadi lebih besar.

"Pengeluaran sekarang naik terus. Bukan hanya BBM, sparepart dan oli juga naik. Hampir dua kali lipat dibanding sebelumnya, jadi sangat berpengaruh terhadap penghasilan kami,"ungkapnya kepada wartawan TribunBengkulu.com pada Jumat (12/6/2026). 

Ia menjelaskan, meskipun biaya operasional meningkat, hingga saat ini pelaku usaha travel belum berani menaikkan tarif angkutan penumpang.

Hal itu karena penyesuaian tarif tidak dapat dilakukan secara sepihak dan harus melalui kesepakatan bersama serta pembahasan dengan instansi terkait, termasuk Dinas Perhubungan.

"Belum berani naikkan ongkos. Kalau soal tarif harus ada kesepakatan bersama dan melalui Dinas Perhubungan,"katanya.

Saat ini, tarif travel rute Bengkulu-Curup masih berkisar antara Rp75 ribu hingga Rp80 ribu per penumpang. Sedangkan tarif untuk rute Curup-Lubuklinggau masih berada pada kisaran Rp50 ribu per penumpang.

Menurutnya, tarif yang berlaku saat ini sudah semakin sulit menutupi kenaikan berbagai biaya operasional yang harus ditanggung oleh pengemudi.

"Tapi mau gimana lagi, kami belum berani menaikan ongkos sendiri, semoga ada kebijakannya nanti,"harapnya.

Jumlah Penumpang Mulai Berkurang

Keluhan serupa juga disampaikan sopir travel lainnya, Reki. Ia menilai sektor transportasi travel menjadi salah satu usaha yang cukup terdampak akibat kenaikan harga BBM dan meningkatnya harga berbagai kebutuhan lainnya.

Selain menghadapi kenaikan biaya operasional, pelaku usaha travel juga harus menghadapi penurunan jumlah pengguna jasa yang mulai dirasakan sejak tahun lalu.

Menurut Reki, berkurangnya jumlah penumpang turut memengaruhi pendapatan harian para sopir travel.

"Penumpang memang sudah mulai berkurang sejak tahun lalu. Sekarang ditambah biaya operasional naik, tentu sangat berpengaruh terhadap penghasilan kami,"paparnya.

Ia berharap adanya perhatian dari pemerintah terhadap kondisi pelaku usaha transportasi travel, terutama terkait kenaikan biaya operasional yang saat ini terus meningkat.

Para sopir travel berharap terdapat solusi yang dapat membantu keberlangsungan usaha mereka sehingga layanan transportasi antarwilayah tetap dapat berjalan di tengah meningkatnya berbagai kebutuhan operasional.

"Semoga ada solusinya pak agar usaha ini tidak gulung tikar, karena kami ada keluarga yang harus dihidupi,"pungkasnya. 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.