Raup Banyak Cuan dari Barang Bekas! Bank Sampah di Pekalongan Buka Peluang Penghasilan untuk Warga
Listusista Anggeng Rasmi June 12, 2026 08:44 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Di Kota Pekalongan, tumpukan botol plastik, kardus bekas, kaleng, hingga berbagai jenis barang anorganik lainnya kini memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan.

Melalui Bank Sampah Induk Kota Pekalongan, warga diajak mengubah kebiasaan membuang sampah menjadi budaya menabung yang menguntungkan.

Program yang berada di bawah naungan Dinas Lingkungan Hidup Kota Pekalongan tersebut telah beroperasi sejak tahun 2017 dan terus berkembang hingga sekarang.

Keberadaannya menjadi solusi menarik di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan.

Warga hanya perlu memilah sampah anorganik dari rumah sebelum membawanya ke Bank Sampah Induk untuk ditimbang dan dinilai sesuai jenisnya.

Setelah proses penimbangan selesai, hasil penjualan sampah dapat langsung diterima dalam bentuk uang tunai.

Bagi yang ingin menyimpan hasilnya, nilai penjualan tersebut juga dapat dimasukkan ke dalam tabungan yang tercatat sebagai saldo nasabah.

Cara sederhana ini membuat sampah yang sebelumnya tidak bernilai berubah menjadi aset yang dapat memberikan manfaat ekonomi.

Tidak hanya membantu menambah pemasukan keluarga, kegiatan tersebut juga mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap pengelolaan sampah sejak dari rumah.

SAMPAH DI PEKALONGAN - Bank Sampah Induk Kota Pekalongan, yang beroperasi sejak 2017 di bawah Dinas Lingkungan Hidup, membuka pintu bagi warga untuk menukar sampah anorganik menjadi uang.  ((Ist)/@pekalonganinfo)

Baca juga: Puluhan Balon Raksasa Hiasi Langit Silirejo Pekalongan, Warga Meriahkan Kliwonan Show Part 5

Menariknya, sampah yang telah dipilah berdasarkan jenisnya memiliki harga jual yang lebih tinggi dibandingkan sampah yang masih tercampur.

Sebagai contoh, harga jual beberapa jenis sampah dapat meningkat dari sekitar Rp1.600 per kilogram menjadi Rp2.000 per kilogram setelah dipilah dengan baik.

Nilai yang lebih fantastis bahkan terlihat pada jenis logam tertentu seperti tembaga yang harga jualnya mampu mencapai Rp150.000 per kilogram.

Kondisi ini membuat banyak warga mulai melihat sampah sebagai peluang ekonomi yang layak dimanfaatkan.

Baca juga: Sulap Sampah Botol Jadi Cuan, Pria di Pekalongan Raup Omzet Rp30 Juta Sebulan, Tembus Pasar Inggris

SAMPAH DI PEKALONGAN - Bank Sampah Induk Kota Pekalongan, yang beroperasi sejak 2017 di bawah Dinas Lingkungan Hidup, membuka pintu bagi warga untuk menukar sampah anorganik menjadi uang. 
SAMPAH DI PEKALONGAN - Bank Sampah Induk Kota Pekalongan, yang beroperasi sejak 2017 di bawah Dinas Lingkungan Hidup, membuka pintu bagi warga untuk menukar sampah anorganik menjadi uang.  ((Ist)/@pekalonganinfo)

Untuk mempermudah pelayanan, Bank Sampah Induk Kota Pekalongan juga menyediakan layanan penjemputan bagi warga yang memiliki sampah dalam jumlah besar.

Dengan minimal berat 50 kilogram, petugas siap datang langsung ke lokasi nasabah di wilayah Kota Pekalongan.

Layanan tersebut membuat masyarakat tidak perlu repot mengangkut sampah sendiri ke lokasi bank sampah.

Hingga saat ini, tercatat sekitar 285 nasabah aktif telah bergabung dalam program tersebut, mulai dari warga umum, sekolah, hingga berbagai instansi.

Jumlah tersebut menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah secara produktif terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Di balik nilainya yang mungkin terlihat kecil pada awalnya, kebiasaan memilah dan menabung sampah secara konsisten mampu menghasilkan tabungan yang terus bertambah, sekaligus menjadi langkah nyata menjaga Kota Pekalongan tetap bersih, sehat, dan ramah lingkungan.

(Tribunnewsmaker.com/ Listusista)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.