TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Aroma kopi yang pekat menguar di antara riuh rendah suara pengunjung di Kedai Cinoi, sebuah kedai kopi estetis di kawasan Cisanggiri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Di salah satu sudut ruangan, deretan produk lokal mulai dari kerajinan tangan yang rumit hingga produk kuliner inovatif tertata rapi di atas meja-meja pameran.
Di sinilah Irvan Wijaya Tandra (36) berdiri dengan senyum mengembang.
Baca juga: UMKM Pilar Ketahanan Ekonomi RI di Tengah Ketidakpastian Global
Dengan ramah dan penuh antusias, ia menyapa setiap pengunjung yang singgah, menawarkan sampel, dan menjelaskan detail produk dari stan miliknya: Crispy Salad.
Siapa nyana, pria asal Pontianak, Kalimantan Barat, yang siang itu tampil bersahaja di tengah hiruk-pikuk bazar UMKM, memiliki rekam jejak akademik dan profesional yang mentereng.
Irvan adalah seorang alumnus University of California, Los Angeles (UCLA), salah satu universitas bergengsi di Amerika Serikat.
Menyelesaikan studi di bidang Ekonomi dan Akuntansi pada rentang tahun 2001 hingga 2007, ia sempat meniti karier mapan sebagai akuntan profesional di Negeri Paman Sam, lalu melanjutkan petualangan korporatnya ke Negeri Tirai Bambu, China.
Pada tahun 2009, Irvan memutuskan pulang ke tanah air. Kompetensinya di bidang keuangan segera membawanya masuk ke industri perbankan asing di Jakarta.
Selama enam tahun, Irvan meniti tangga karier hingga menduduki posisi strategis.
Namun, kenyamanan fasilitas korporat dan status sosial yang mapan tidak serta-merta mengunci impiannya.
Pada tahun 2015, sebuah titik balik mengubah jalannya secara radikal.
Irvan memilih mundur dari dunia perbankan demi merintis sebuah usaha yang saat itu masih dipandang sebelah mata oleh banyak orang.
"Kalau dibilang menyesal keluar dari bank setelah sebelas tahun berjalan, sama sekali tidak," ujar Irvan saat ditanya apakah menyesal berhenti kerja di perbankan dengan gajinya yang besar, lalu beralih menjadi pengusaha UMKM.
"Bahkan jika bicara jujur, gaji entry level atau pemula saya dulu di Amerika Serikat jauh lebih besar dibanding gaji saya di perbankan Jakarta saat sudah menjabat sebagai Vice President. Namun, saya tahu hidup saya tidak cocok untuk menjadi karyawan seumur hidup. Jiwa saya memang ada di dunia wirausaha."
Lahir dari keluarga pengusaha generasi ketiga—di mana sang kakek memulai bisnis dari toko kelontong sembako, dan kemudian dilanjutkan oleh sang ayah yang memfokuskan diri pada bisnis distribusi bahan-bahan kimia makanan dan pembuatan kue di Pontianak—darah dagang memang mengalir deras di nadi Irvan.
Alih-alih meneruskan bisnis keluarga di daerah, Irvan memilih menciptakan jalurnya sendiri di Ibu Kota dengan mengusung misi yang dekat dengan keseharian masyarakat urban: kesehatan.
Riset di Garasi Rumah
Ide mendirikan Crispy Salad sebenarnya lahir dari egoisme positif dan kegelisahan pribadi Irvan.
Sebagai pekerja kantoran di pusat bisnis Jakarta, ia kerap kesulitan menjaga pola makan sehat.
Jadwal rapat yang padat dan dinamika kerja yang cepat membuat waktu mengonsumsi makanan berserat menjadi sangat terbatas.
Jika mencari buah potong di minimarket retail terdekat relatif mudah, urusan mengonsumsi sayuran segar terasa jauh lebih merepotkan dan tricky.
Dari sanalah Irvan mulai melakukan riset. Ia mencari formula bagaimana cara memperenak rasa sayur tanpa menghilangkan esensi kesehatannya, sekaligus menyajikannya dalam bentuk yang praktis dan siap santap kapan saja.
Pandangannya kemudian tertuju pada teknologi pengolahan pangan modern yang mampu mengubah sayur mentah menjadi camilan renyah.
Bermodal tabungan pribadi, Irvan membeli sebuah mesin veggie fry skala kecil.
Mesin tersebut sebenarnya dirancang untuk membuat keripik buah-buahan yang memiliki struktur serat lebih padat.
Ketika diaplikasikan pada sayuran hijau yang kaya akan kandungan air, proses riset dan pengembangan (Research and Development/R&D) miliknya berulang kali menemui kegagalan.
Keripik sayur pertamanya sering kali berujung gosong, layu, atau justru kehilangan tekstur garingnya dalam hitungan menit.
Tidak putus asa, Irvan memutuskan untuk mendatangi langsung sang penemu dan produsen mesin tersebut di Malang, Jawa Timur.
"Saya rela tinggal di sana selama seminggu penuh. Belajar secara fisik, membedah mekanika mesin, memahami tekanan udara, dan suhu optimal untuk memproses sayuran. Begitu kembali ke Jakarta, formula itu saya terapkan langsung," kenangnya.
Fase awal produksi berjalan sangat konvensional di garasi rumahnya.
Dengan keterbatasan alat, Irvan harus terjaga sejak subuh untuk mengolah bahan baku, melakukan proses penggorengan vakum, hingga mengemasnya secara manual hingga tengah malam.
Karena berkomitmen tidak menggunakan bahan kimia sama sekali, produk awal Crispy Salad hanya mampu bertahan satu malam. Jika tidak langsung dikonsumsi, keesokan harinya keripik akan langsung melempem.
Strategi pemasaran pertamanya memanfaatkan sistem Pre-Order (PO) ke teman-teman sekantor dan kolega perbankan.
Respons yang didapat sangat positif. Didorong oleh keyakinan tersebut, Irvan memberanikan diri membawa produknya ke bazar retail di Senayan City pada tahun 2015.
"Kami ingat betul momen itu. Kami membawa stok yang kami kejar produksinya semalaman di garasi. Begitu toko bazar dibuka jam 10 pagi, jam 2 siang barang kami sudah habis total (sold out). Kami terpaksa pulang lebih cepat hanya untuk memproduksi barang baru demi hari berikutnya," kenang Irvan.
Di titik itulah Irvan sadar, ini bukan lagi sekadar hobi. Ini adalah peluang bisnis yang valid.
"Saya memutuskan resign tahun itu juga," papar Irvan.
Tantangan berikutnya adalah memecahkan batasan usia simpan (shelf life) tanpa mengorbankan idealisme produk sehat.
Dalam proses pencarian solusi, beberapa pihak sempat menyarankan Irvan untuk menambahkan zat antioksidan sintetis ke dalam minyak atau produk.
Zat kimia ini diklaim ampuh memperpanjang umur simpan keripik hingga berbulan-bulan dengan biaya yang sangat murah.
Irvan sempat melakukan uji coba riset laboratorium terhadap penggunaan antioksidan tersebut. Namun, nurani akademis dan visinya menolak keras.
"Setelah saya pelajari lebih dalam, antioksidan komersial itu sebenarnya berfungsi sebagai pengawet kimiawi. Jika dikonsumsi dalam jangka panjang dan berlebihan, zat tersebut bersifat karsinogenik atau memicu kanker. Visi awal saya adalah membuat makanan yang aman untuk saya konsumsi sendiri setiap hari. Kalau saya sendiri takut memakannya, bagaimana mungkin saya tega menjualnya ke orang lain?" tegasnya.
Konsistensi itu berbuah manis. Melalui penyempurnaan teknik mekanis pada mesin, kontrol ketat pada kadar hidrasi, dan peningkatan kualitas material kemasan kedap udara, Crispy Salad berhasil memperpanjang masa simpan produk hingga 3 bulan secara alami tanpa sejumput pun MSG, zat pewarna, atau pengawet kimia.
Keunikan dan higienitas produk ini menarik perhatian pengelola supermarket premium terkemuka di Jakarta, Kem Chicks Pacific Place.
Pihak manajemen Kem Chicks mendatangi langsung Irvan dan menawarkan kerja sama untuk memasukkan Crispy Salad ke dalam ekosistem retail mereka.
Berada dalam posisi 'dicari' memberikan keuntungan besar bagi UMKM pemula seperti Irvan; seluruh biaya administrasi masuk (listing fee) yang biasanya bernilai fantastis dihapuskan sebagai bentuk privilege.
Kemitraan Petani
Kini, setelah satu dekade berjalan, Crispy Salad telah bertransformasi menjadi industri rumahan modern yang mengombinasikan dua teknologi mutakhir dalam pengolahan pangan: Vacuum Dry (pengeringan vakum) dan Freeze Dry (pengeringan beku).
Teknologi freeze-dry merupakan investasi besar Irvan. Teknologi yang mengandalkan pembekuan ekstrem disusul dengan sublimasi tekanan tinggi ini diadopsi dari standar industri farmasi (pharmaceutical) untuk menjaga stabilitas zat aktif dan nutrisi.
"Melalui proses freeze-dry, nutrisi alami dari sayur dan buah mentah mampu terjaga hingga 98 persen karena sama sekali tidak melibatkan suhu panas tinggi yang merusak vitamin. Cara paling awam bagi konsumen untuk membuktikannya adalah lewat warna visual. Jika warna keripik brokoli atau stroberi kami masih cerah mendekati warna aslinya saat dipetik, itu indikator sahih bahwa nutrisinya tidak menguap," urai Irvan.
Keamanan dan kualitas pangan ini bukan sekadar klaim sepihak.
Crispy Salad telah sukses mengantongi sertifikasi Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP), sebuah sistem jaminan mutu keamanan pangan yang diakui secara internasional.
Komitmen mutu ini juga membawa dampak sosial positif bagi rantai pasok pertanian lokal.
Untuk mendapatkan kualitas sayuran terbaik, Irvan mengambil pasokan dari sentra-sentra penghasil komoditas utama, seperti wortel dari Brastagi, Sumatera Utara, dan kentang dari dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah.
Sementara untuk buah-buahan yang bersifat musiman (seasonal) seperti mangga, Irvan menyiasatinya dengan menggenjot produksi massal saat musim panen raya tiba, lalu menyimpannya dalam bentuk kering yang mampu bertahan hingga dua tahun.
Salah satu cerita kemitraan yang paling menyentuh adalah kerja sama Crispy Salad dengan komunitas petani di wilayah Banten untuk komoditas okra.
Okra sejatinya adalah kategori superfood yang kaya akan lendir alami berkhasiat mengontrol kadar gula darah dan diabetes.
Namun, karena kurang populer di lidah masyarakat Indonesia, tanaman ini jarang dibudidayakan secara masif.
"Petani di satu kampung di Banten awalnya menanam okra, tetapi karena tidak ada akses pasar yang mau menyerap, mereka frustrasi hingga membakar ladang mereka sendiri. Kami kemudian masuk dan membangun kemitraan win-win solution. Kami memberikan jaminan pembelian (offtaker) untuk seluruh hasil panen okra mereka, asalkan memenuhi standar kualitas kami, dan kami membelinya dengan harga premium di atas rata-rata pasar. Sekarang, satu kampung itu hidup mandiri dengan menanam okra khusus untuk pasokan Crispy Salad," ungkap Irvan.
Kualitas tanpa kompromi ini pulalah yang menjawab keresahan para orang tua yang menghadapi masalah anak picky eater atau anak yang enggan mengonsumsi sayuran hijau. Kehadiran Crispy Salad menjadi jembatan nutrisi yang solutif.
Fransiska Ambarwati, seorang ibu rumah tangga yang menjadi pelanggan setia Crispy Salad, membagikan pengalamannya dengan penuh rasa syukur.
"Anakku suka banget sama sayur, bahkan sampai ke bentuk snack-nya pun dia sangat suka. Terima kasih banyak Crispy Salad sudah membantu anak saya yang awalnya sangat kurang suka makan sayur. Sekarang saya tidak perlu bingung atau stres lagi memikirkan camilan apa yang aman dan bergizi untuk anak di rumah," kata Fransiska.
Meski produk ini aman dikonsumsi oleh anak-anak karena kebersihan bahannya, Irvan tetap memberikan catatan edukatif bahwa produknya dirancang untuk anak yang sudah memiliki kemampuan mengunyah yang baik (biasanya di atas usia 1 tahun), karena teksturnya yang renyah dan tidak melempem atau lumer seketika di dalam mulut seperti makanan pendamping ASI (MPASI) bayi berumur di bawah satu tahun.
Akselerasi Pasar dan Suntikan Investasi KUR BRI
Langkah ekspansi Crispy Salad semakin terakselerasi saat Irvan memutuskan untuk memperluas jejaring komunitasnya dengan bergabung menjadi UMKM binaan Rumah BUMN BRI Jakarta pada kurun waktu antara tahun 2022 hingga 2023.
Perkenalan tersebut terjadi secara tidak sengaja ketika Irvan mengikuti kegiatan pembinaan yang diadakan oleh Jakpreneur Pemprov DKI Jakarta, di mana salah satu pemateri utamanya merupakan konsultan ahli dari Rumah BUMN BRI.
"Sebagai pengusaha, prinsip saya adalah kita harus terus belajar karena masih banyak aspek manajemen yang tidak kita ketahui. Dari pertemuan dengan mentor Rumah BUMN BRI itu, saya melihat kecocokan visi dan akhirnya memutuskan untuk mendaftarkan Crispy Salad sebagai bagian dari keluarga binaan BRI," kata Irvan.
Manfaat konkret segera dirasakan oleh Irvan, terutama dalam hal perluasan penetrasi pasar (market development).
BRI tidak hanya melibatkan Crispy Salad dalam berbagai pameran skala regional dan nasional—seperti bazar UMKM di kawasan Cisanggiri ini—tetapi juga memberikan ruang promosi digital melalui media sosial resmi milik bank serta memajang contoh produk secara fisik di galeri Rumah BUMN BRI.
"Display produk di galeri tersebut sangat efektif. Kami berulang kali menerima pertanyaan bisnis (inquiry) dan penawaran kerja sama dari pembeli besar yang kebetulan melihat produk kami dipajang di sana," tambahnya.
Namun, lompatan terbesar dalam kapasitas produksi Crispy Salad terjadi ketika Irvan memanfaatkan instrumen pembiayaan program pemerintah melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia.
Untuk mengejar permintaan pasar yang terus melonjak, terutama dari sektor reseller toko perlengkapan bayi (baby shop) yang tersebar di kota-kota besar seperti Medan, Aceh, Palembang, Lampung, Pontianak, Banjarmasin, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Bandung, hingga Makassar dan Bali, Crispy Salad membutuhkan tambahan mesin freeze dryer berskala industri.
Harga satu unit mesin pengeringan beku canggih tersebut sangat tinggi dan berada di luar jangkauan arus kas operasional UMKM pada umumnya.
Di sinilah KUR BRI hadir menjadi dewa penyelamat finansial.
"Sebagai mantan bankir, saya paham betul hitung-hitungan struktur modal. Jika saya mengambil skema pinjaman komersial konvensional, beban bunga yang tinggi akan sangat menekan margin keuntungan kami yang sedang bertumbuh. Namun, melalui program KUR, kami mendapatkan bunga yang sangat rendah dan tidak memberatkan struktur finansial perusahaan. Ditambah lagi, karena dana ini digunakan untuk investasi aset produktif, jangka waktu pengembaliannya bisa dibuat lebih panjang. Proses administrasinya sangat simpel dan pencairannya cepat. Dukungan modal kerja dari ini menjadi pilar utama kami untuk berani melangkah lebih jauh," papar Irvan.
Dengan sokongan modal investasi mesin dari KUR BRI dan efisiensi manajemen, usaha yang kini disokong oleh 8 orang karyawan inti ini mampu mencatatkan omzet rata-rata di angka Rp200 juta per bulan, bahkan pada momen-momen puncak masa pandemi beberapa tahun lalu, omzet bulannya mampu melesat hingga di atas Rp300 juta.
Dengan kapasitas mesin baru, Crispy Salad kini tengah bersiap melakukan lompatan besar ke pasar internasional.
Setelah berhasil mengantongi sertifikat HACCP di awal tahun, Irvan kini sedang melakukan negosiasi intensif dengan distributor pangan di Singapura, Malaysia, dan Kanada untuk membuka keran ekspor reguler dalam skala kontainer besar.
Gemblengan BRIncubator
Keberhasilan peningkatan kelas usaha yang dialami oleh Crispy Salad dan Irvan Wijaya bukanlah sebuah fenomena instan atau kebetulan semata.
Keberhasilan ini merupakan bagian dari cetak biru pembinaan terintegrasi yang dijalankan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk di seluruh jaringan Rumah BUMN di Indonesia.
Koordinator Rumah BUMN BRI Jakarta, Jajang Rohmana, menegaskan bahwa komitmen BRI terhadap keberlanjutan UMKM diwujudkan melalui program inkubasi eksklusif yang diberi nama BRIncubator.
Berbeda dengan seminar atau pelatihan kilat pada umumnya yang sering kali bersifat sporadis dan terputus tanpa adanya evaluasi, BRIncubator dirancang sebagai kawah candradimuka dengan kurikulum yang terstruktur, ketat, dan berkesinambungan selama satu hingga dua bulan.
"Melalui BRIncubator, kami tidak sekadar memberikan materi lalu selesai. Kami memberikan pendampingan secara kontinyu dari hulu ke hilir. Kurikulum pembinaan kami susun secara berjenjang, dimulai dari materi dasar seperti tata kelola keuangan umkm, legalitas usaha, hingga materi tingkat lanjut (advance) seperti kesiapan digitalisasi global, manajemen rantai pasok, dan strategi menembus pasar ekspor," ujar Jajang dalam sebuah sesi wawancara eksklusif.
Untuk mempertahankan kualitas mutu pembelajaran, proses seleksi peserta yang ingin masuk ke dalam program BRIncubator ini terbilang sangat kompetitif.
Rumah BUMN BRI membuka pendaftaran secara transparan melalui sistem open call bagi seluruh pelaku usaha lokal. Setelah itu, tim kurator internal akan melakukan penyaringan ketat guna melihat potensi produk, kelayakan bisnis, serta yang paling utama adalah tingkat komitmen sang pemilik usaha.
"Faktor komitmen adalah penentu utama. Pelaku UMKM yang lolos kurasi wajib mengikuti seluruh rangkaian kelas secara tatap muka (offline) di Rumah BUMN lokal masing-masing. Hal ini penting untuk memastikan penyerapan materi, diskusi kelompok, dan bimbingan teknis bersama para mentor berjalan optimal. Sementara untuk menjaring potensi-potensi unggulan di tingkat regional, kantor pusat BRI juga menyelenggarakan BRIncubator Nasional yang dilaksanakan secara daring (online) dengan melibatkan pemateri kelas dunia," tambah Jajang.
Melalui ekosistem BRIncubator inilah, seluruh elemen pendukung kemajuan UMKM diintegrasikan—mulai dari pembentukan mentalitas bisnis, penguasaan teknologi produksi, perluasan jejaring pemasaran, hingga literasi keuangan untuk mengakses pembiayaan sehat seperti KUR BRI.
Mulai Dulu, Eksekusi Kemudian
Keselarasan antara program pembinaan Rumah BUMN BRI dan semangat juang pelaku usaha di lapangan menjadi formula sukses yang nyata.
Bagi Irvan, banyaknya fasilitas pelatihan gratis yang disediakan oleh lembaga perbankan seperti BRI adalah berkah besar bagi iklim UMKM Indonesia saat ini.
Namun, ia juga memberikan catatan kritis bagi rekan-rekan sesama pelaku usaha.
"Hal yang paling menentukan pada akhirnya bukan seberapa banyak sertifikat pelatihan yang kita koleksi, melainkan seberapa disiplin kita menerapkan hasil pelatihan tersebut ke dalam operasional bisnis sehari-hari. Banyak pengusaha yang saat di kelas mengangguk setuju dengan arahan mentor tentang strategi A atau B, tetapi begitu pulang dan dihadapkan pada kesibukan produksi, ilmu itu menguap begitu saja tanpa pernah dieksekusi. Itu hal yang percuma," kata mantan bankir tersebut mengingatkan.
Mengakhiri perbincangan di tengah suasana pameran yang kian sore kian ramai oleh pengunjung, Irvan membagikan sebuah pesan motivasi yang kuat bagi masyarakat, khususnya generasi muda yang masih ragu-ragu untuk melangkah ke dunia usaha.
"Saran saya bagi yang belum mulai: mulai aja dulu. Tidak perlu menunggu semua hal menjadi sempurna. Jangan menunggu produk Anda sempurna, atau menunggu model bisnis Anda tanpa celah. Jika Anda tidak pernah berani mencoba melangkah, Anda tidak akan pernah tahu di mana letak kekurangannya. Banyak orang terlalu lama berpikir karena takut menghadapi masalah," tutur Irvan.
Irvan menekankan bahwa dinamika dunia usaha adalah proses belajar yang tanpa akhir. Masalah dan tantangan baru akan selalu muncul, bahkan ketika bisnis sudah berkembang besar.
"Masalah tidak akan pernah habis. Ketika usaha sudah berjalan pun, skala masalahnya justru akan semakin besar. Namun, jika kita terus menunggu sampai semua masalah di hidup kita selesai baru mau memulai usaha, kita sudah terlambat dan momentum itu sudah hilang. Selagi ada kemauan untuk terus belajar, konsisten menjaga kualitas, dan cerdas memanfaatkan jaringan serta fasilitas yang disediakan oleh pemerintah maupun institusi perbankan seperti Rumah BUMN BRI ini, pasti selalu ada jalan keluar. Kuncinya hanya satu: mulai dulu, hadapi, dan selesaikan," pungkas Irvan seraya mengemas produk keripik brokoli hijau cerah andalannya ke dalam kantong belanja seorang pembeli yang baru saja menyelesaikan pembayaran digitalnya.