TRIBUN-SULBAR.COM, PASANGKAYU - Kenaikan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit hingga menembus angka di atas Rp2.000 per kilogram belum sepenuhnya membawa kabar baik bagi petani di Kabupaten Pasangkayu.
Di tengah harga yang terus merangkak naik, banyak petani justru mengeluhkan sulitnya menjual hasil panen akibat masih tutupnya sejumlah timbangan pengepul dalam hampir sepekan terakhir.
Penutupan timbangan tersebut dipicu antrean panjang truk pengangkut sawit di berbagai pabrik kelapa sawit yang beroperasi di Kabupaten Pasangkayu.
Baca juga: Disbun Sulbar Tetapkan Harga TBS Sawit Rp2.394 Rendemen 16,25 Persen & Rp3.155 Rendemen 21,65 Persen
Baca juga: Antrean Panjang di Pabrik Picu Penutupan Timbangan di Pasangkayu, TBS Menumpuk dan Mulai Membusuk
Truk-truk pengangkut TBS harus mengantre selama berhari-hari untuk dapat membongkar muatan di pabrik.
Kondisi itu membuat pengepul mengalami kendala distribusi sehingga memilih menghentikan sementara aktivitas pembelian buah dari petani.
Akibatnya, banyak petani terpaksa menunda panen karena khawatir buah sawit mereka tidak terbeli atau kualitasnya menurun akibat terlalu lama menunggu.
Salah seorang petani, Natu, warga Desa Karya Bersama, Kecamatan Pasangkayu, mengaku kesulitan menjual hasil panennya meski harga sawit sedang tinggi.
"Banyak timbangan tutup, kami mau jual ke mana? Percuma harga naik kalau tetap susah menjual buah," ujarnya saat ditemui, Sabtu (13/6/2026).
Menurut Natu, kondisi antrean panjang di pabrik bukan lagi persoalan baru.
Hampir seluruh pabrik pengolahan sawit di Pasangkayu mengalami penumpukan kendaraan pengangkut TBS sehingga proses bongkar muat berjalan lambat.
"Sudah hampir seminggu begini. Truk antre sampai berhari-hari. Akhirnya pengepul juga berhenti menerima buah karena tidak ada tempat lagi menampung," katanya.
Ia menilai persoalan tersebut perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah.
Menurutnya, bertambahnya luas perkebunan sawit dan jumlah petani harus diimbangi dengan kapasitas industri pengolahan yang memadai.
"Entah apa alasannya, kenapa pabrik selalu antre. Harusnya pemerintah daerah mendorong investor masuk supaya ada tambahan perusahaan pengolahan sawit kalau memang kapasitas yang ada belum cukup," ujarnya.
Natu mengatakan saat ini terdapat sekitar 10 pabrik kelapa sawit yang beroperasi di Kabupaten Pasangkayu.
Namun, menurutnya, kapasitas tersebut belum mampu mengakomodasi produksi TBS yang terus meningkat setiap musim panen.
"Saya rasa 10 pabrik itu sudah cukup. Tapi kalau memang belum cukup, itu tugas pemerintah daerah bagaimana caranya menambah pabrik atau meningkatkan kapasitas yang ada," tuturnya.
Ia juga menyoroti bertambahnya jumlah petani sawit di Pasangkayu dari tahun ke tahun yang tidak diikuti dengan peningkatan daya tampung pabrik.
"Petani sawit di Kabupaten Pasangkayu makin tahun makin bertambah. Tapi kenapa baru sekarang antreannya semakin parah? Kalau memang pabrik tidak kuat menampung buah masyarakat, harus ada solusi jangka panjang," katanya.
Selain itu, ia menyebut sebagian pabrik lebih memprioritaskan pengolahan buah sawit dari kebun milik perusahaan dibandingkan buah milik petani swadaya.
Kondisi tersebut dinilai semakin mempersempit peluang petani menjual hasil panennya di tengah tingginya produksi TBS saat ini.
Para petani berharap pemerintah daerah bersama pihak perusahaan segera mencari solusi agar antrean di pabrik dapat diurai dan aktivitas timbangan pengepul kembali normal.
Dengan demikian, kenaikan harga sawit dapat benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.(*)
Laporan wartawan Tribun-Sulbar.com, Taufan