Perempuan Rentan Anemia, Jangan Sepelekan Lelah, Tangan dan Kaki Terasa Dingin, Itu Jadi Tanda
Anita K Wardhani June 14, 2026 10:38 AM

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Bayu Indra Permana

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anemia masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius di Indonesia. 

Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi anemia pada remaja usia 15 hingga 24 tahun mencapai 15,5 persen atau sekitar satu dari enam remaja mengalami anemia. Sementara itu, prevalensi anemia pada ibu hamil mencapai 27,7 persen.

Baca juga: Anemia Tak Kunjung Sembuh? Kenali PNH, Penyakit Darah Langka yang Bisa Berujung Fatal

Kondisi yang terjadi ketika tubuh kekurangan sel darah merah atau hemoglobin ini kerap dianggap sepele karena gejala awalnya mirip kelelahan biasa. 

Padahal, jika dibiarkan, anemia dapat mengganggu aktivitas hingga menurunkan kualitas hidup penderitanya.

Dokter Ricky Purnomo mengungkapkan, gejala awal anemia yang paling sering muncul antara lain tubuh mudah lelah.

Dalam sebuah acara di Helens Bandung, ia juga menjelaskan indikator lain yang sering muncul adalah lemas, wajah tampak pucat, sering pusing, sakit kepala, sulit berkonsentrasi, jantung berdebar, hingga mudah sesak saat beraktivitas.

"Gejala awal anemia yang paling sering terlihat antara lain tubuh mudah lelah, lemas, pucat pada wajah atau kelopak mata bagian dalam, sering pusing, sakit kepala, sulit berkonsentrasi, jantung berdebar, dan mudah sesak saat beraktivitas," kata dr. Ricky Purnomo dalam sesi penyuluhan.

"Pada beberapa orang juga dapat muncul tangan dan kaki yang terasa dingin," terusnya.

Menurutnya, masyarakat perlu lebih waspada terhadap gejala-gejala tersebut dan tidak menganggapnya sebagai kondisi biasa, terutama jika keluhan berlangsung terus-menerus.

Apabila seseorang diduga mengalami anemia dan mulai merasakan lemas atau pusing, ada beberapa langkah awal yang bisa dilakukan sebelum mendapatkan pemeriksaan medis.

"Jika seseorang diduga mengalami anemia dan merasa lemas atau pusing, pertolongan pertama yang dapat dilakukan adalah mengistirahatkannya di tempat yang nyaman," ungkap dr. Ricky.

"Lalu emberikan cairan yang cukup, serta memastikan asupan makanan yang mengandung zat besi jika memungkinkan," ujarnya.

Namun, dr. Ricky mengingatkan bahwa anemia memiliki beragam penyebab sehingga diagnosis dan pengobatan tetap harus dilakukan oleh tenaga medis. 

Jika gejalanya semakin berat, penanganan medis tidak boleh ditunda, karena bisa berakibat fatal jika disepelakan.

"Jika gejalanya berat seperti pingsan, sesak napas, nyeri dada, atau penurunan kesadaran, segera bawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut," katanya.

Perempuan Lebih Rentan

Salah satu kelompok yang paling rentan mengalami anemia adalah perempuan.

Menurut dr. Ricky, risiko tersebut lebih tinggi dibandingkan laki-laki karena adanya kehilangan darah secara rutin saat menstruasi.

"Benar. Secara umum perempuan memang memiliki risiko lebih tinggi mengalami anemia dibandingkan laki-laki," katanya.

Ilustrasi anemia
Ilustrasi anemia (freepik)

"Penyebab utamanya adalah kehilangan darah secara rutin saat menstruasi," tutur dr. Ricky.

Selain menstruasi, kebutuhan zat besi perempuan juga meningkat ketika memasuki masa kehamilan dan menyusui. Jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, cadangan zat besi dalam tubuh dapat menurun dan memicu anemia.

Karena itu, remaja putri dan ibu hamil menjadi kelompok yang perlu memberi perhatian lebih terhadap status zat besinya. 

Selain itu, perempuan usia produktif, anak-anak yang sedang mengalami masa pertumbuhan pesat, serta lansia juga termasuk kelompok yang rentan mengalami anemia.

Untuk mencegah anemia, dr. Ricky menyarankan masyarakat mengonsumsi makanan yang kaya zat besi dan nutrisi pembentuk sel darah merah, seperti daging merah tanpa lemak, ikan, ayam, telur, sayuran hijau, kacang-kacangan, tahu, dan tempe.

"Konsumsi makanan yang kaya vitamin C seperti jeruk, jambu biji, stroberi, tomat, dan paprika dapat membantu meningkatkan penyerapan zat besi oleh tubuh," ujarnya.

Sebaliknya, ia menyarankan masyarakat menghindari kebiasaan minum teh atau kopi bersamaan dengan waktu makan karena dapat menghambat penyerapan zat besi.

Ia menjelaskan bahwa anemia dan hipertensi merupakan dua kondisi yang berbeda, meski dalam beberapa kasus keduanya dapat ditemukan bersamaan.

"Saat seseorang mengalami anemia, jantung harus bekerja lebih keras untuk mengalirkan oksigen ke seluruh tubuh. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan beban kerja jantung," jelasnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa anemia bukan penyebab langsung hipertensi, begitu pula sebaliknya. Pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk mengetahui penyebab yang mendasari masing-masing kondisi.

Informasi mengenai anemia tersebut disampaikan dalam seminar kesehatan yang diikuti ratusan warga Kelurahan Pasteur, Bandung lewat Holywings Peduli.

Selain mendapatkan edukasi, warga juga memanfaatkan layanan cek kesehatan gratis yang meliputi pemeriksaan tekanan darah, gula darah, kolesterol, asam urat, serta konsultasi langsung dengan tenaga medis dari Rumah Sakit Siloam Purwakarta.

Acara itu turut menyalurkan sejumlah bantuan untuk mendukung kegiatan sosial masyarakat, mulai dari kursi, meja, kemeja Karang Taruna, mesin potong rumput, gerobak besi, ember kompos, kursi roda, hingga alat pemeriksaan kesehatan.

"Kami berharap kegiatan ini tidak hanya memberikan manfaat melalui pemeriksaan kesehatan dan edukasi mengenai anemia," beber Ketua Program Holywings Peduli, Andrew Susanto.

"Tetapi juga membantu memenuhi kebutuhan sarana yang dapat digunakan masyarakat dalam berbagai kegiatan sosial dan pelayanan kesehatan. Kesehatan masyarakat adalah salah satu aspek penting yang perlu mendapat perhatian bersama," ujar Andrew.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.