Kapolda Metro Jaya Larang Personel Bawa Senjata Api saat Demo Mahasiswa, 3.588 Aparat Disiagakan
M Zulkodri June 15, 2026 02:03 PM

 

BANGKAPOS.COM--Kapolda Metro Jaya Komjen Pol Asep Edi Suheri menegaskan seluruh personel yang bertugas mengamankan aksi demonstrasi mahasiswa dan elemen masyarakat di Jakarta pada Senin (15/6/2026) dilarang membawa senjata api (senpi).

Instruksi tegas tersebut disampaikan Asep saat memimpin apel kesiapan pengamanan di depan kompleks Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta Pusat.

Larangan membawa senjata api diterapkan untuk memastikan pengamanan aksi berlangsung humanis serta menghindari potensi eskalasi yang tidak diinginkan.

Dalam arahannya, Asep meminta jajaran Provost Polda Metro Jaya melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap perlengkapan seluruh personel sebelum diterjunkan ke lapangan.

"Tidak ada senjata api, saya ulangi tidak ada senjata api. Provost wajib memastikan dan memvideokan pemeriksaan alat utama dan alat khusus seluruh personel sebelum bertugas," tegas Asep.

Gas Air Mata Hanya Atas Perintah Kapolda

Selain melarang personel membawa senjata api, Kapolda juga menekankan seluruh anggota wajib bekerja dalam satu komando dan tidak mengambil tindakan berdasarkan inisiatif pribadi.

Menurutnya, seluruh langkah pengamanan harus dilakukan sesuai prosedur dan instruksi pimpinan di lapangan.

Asep secara khusus menyoroti penggunaan gas air mata yang hanya boleh dilakukan apabila ada perintah langsung dari dirinya selaku penanggung jawab pengamanan.

"Satu komando, tidak ada inisiatif sendiri-sendiri. Semua tindakan di lapangan harus berdasarkan perintah. Penggunaan gas air mata hanya atas perintah saya dalam hal ini sebagai Kapolda Metro Jaya," ujarnya.

Kebijakan tersebut diambil untuk memastikan tindakan aparat tetap proporsional dalam menghadapi berbagai situasi selama demonstrasi berlangsung.

Baca juga: Nanik S Deyang Bersih-bersih BGN Usai Skandal Korupsi MBG, Larang Tamu dan Tutup Kafe di Kantor

Polisi Diminta Waspadai Provokator

Kapolda Metro Jaya juga menginstruksikan seluruh personel untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gangguan keamanan selama aksi berlangsung.

Personel dari fungsi Bimbingan Masyarakat (Binmas) diminta aktif mengimbau warga yang tidak berkepentingan agar menjauh dari lokasi demonstrasi demi menghindari risiko yang tidak diinginkan.

Selain itu, aparat diperintahkan melakukan penyisiran di sekitar lokasi aksi guna mendeteksi kemungkinan keberadaan provokator maupun benda-benda berbahaya.

Arahan Kapolda Metro Jaya kepada personel pengamanan:

  • Tidak membawa senjata api saat bertugas.
  • Seluruh tindakan harus berdasarkan komando.
  • Penggunaan gas air mata hanya atas instruksi Kapolda.
  • Mengedepankan pendekatan persuasif dan humanis.
  • Mengantisipasi provokator di tengah massa aksi.
  • Mewaspadai kemungkinan adanya benda berbahaya seperti bom molotov.
  • Menjaga soliditas dan formasi pasukan selama pengamanan.

"Waspadai potensi keberadaan provokator dan kemungkinan benda berbahaya seperti bom molotov. Selanjutnya jaga solidaritas dan komposisi pasukan," kata Asep.

Demonstran Disebut Bukan Musuh Polisi

BEM SI memberi ultimatum 18 hari kepada pemerintah untuk memperbaiki kondisi ekonomi dan mengatasi pelemahan rupiah yang menyentuh Rp18.000 per dolar AS. Jika gagal, mahasiswa mengancam menggelar Reformasi Jilid II dan aksi nasional besar-besaran.
BEM SI memberi ultimatum 18 hari kepada pemerintah untuk memperbaiki kondisi ekonomi dan mengatasi pelemahan rupiah yang menyentuh Rp18.000 per dolar AS. Jika gagal, mahasiswa mengancam menggelar Reformasi Jilid II dan aksi nasional besar-besaran. (Dok istimewa/(KONTAN/Fransiskus Simbolon))

Dalam kesempatan tersebut, mantan Wakabareskrim Polri itu mengingatkan seluruh personel bahwa peserta aksi merupakan bagian dari masyarakat yang sedang menggunakan hak konstitusionalnya untuk menyampaikan aspirasi.

Karena itu, aparat diminta mengedepankan sikap profesional dan membantu menciptakan suasana yang aman selama demonstrasi berlangsung.

"Saya ingatkan kembali, mereka yang turun ke jalan adalah saudara kita yang sedang menggunakan haknya untuk menyampaikan aspirasi. Dan tugas kita adalah memastikan aspirasi itu tersalurkan dengan aman, tertib dan terkendali," ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa pengamanan demonstrasi kali ini akan mengedepankan pendekatan humanis di tengah meningkatnya mobilisasi mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil di berbagai daerah.

Empat Titik Demo Jadi Fokus Pengamanan

Baca juga: Iran Sebut Kesepakatan Damai dengan AS Siap Diteken di Swiss, Trump Minta Israel Jangan Mengganggu

Sementara itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto mengungkapkan terdapat sejumlah titik yang akan menjadi pusat konsentrasi massa aksi di Jakarta.

Berdasarkan laporan yang diterima kepolisian, aksi demonstrasi akan berlangsung di beberapa lokasi strategis ibu kota.

Titik aksi demonstrasi di Jakarta:

  • Gedung DPR/MPR RI, Senayan.
  • Kawasan Silang Monas.
  • Bundaran HI dan Dukuh Atas.
  • Kantor Badan Gizi Nasional (BGN), Kebon Sirih.

Menurut Budi, jumlah massa yang akan hadir di masing-masing lokasi bervariasi.

Di kawasan DPR/MPR diperkirakan terdapat sekitar 300 hingga 400 peserta aksi. Sementara di Silang Monas diperkirakan sekitar 40 sampai 70 orang.

Adapun aksi di Bundaran HI diperkirakan diikuti sekitar 100 orang, sedangkan di Kantor BGN diperkirakan melibatkan 40 hingga 50 peserta.

"Ada beberapa titik agenda aksi hari ini, yang pertama DPR/MPR, kedua Silang Monas, ketiga seputaran Bundaran HI dan Dukuh Atas, kemudian kantor BGN RI," kata Budi.

3.588 Personel Gabungan Disiagakan

Untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan selama aksi berlangsung, Polda Metro Jaya bersama Kodam Jaya menerjunkan ribuan personel gabungan.

Sebanyak 3.588 personel disebar di berbagai titik pengamanan yang menjadi lokasi demonstrasi.

Unsur pengamanan yang diterjunkan:

  • Polda Metro Jaya.
  • Kodam Jaya.
  • Polres jajaran dan wilayah penyangga.
  • Dinas Perhubungan (Dishub).
  • Satpol PP.

"Polda Metro Jaya dan Kodam Jaya menerjunkan personel sebanyak 3.588 personel gabungan TNI, Polri, Dishub, Satpol PP dan polres-polres penyangga," jelas Budi.

Pihak kepolisian memastikan seluruh personel telah mendapatkan arahan agar mengawal penyampaian aspirasi secara aman dan tertib.

Demo Meluas ke Sejumlah Daerah

Baca juga: Guru SD di Oku Selatan Tewas Ditikam Siswi SMP yang Kepergok Mencuri, Pelaku Kabur Bersama Orang Tua

Tidak hanya berlangsung di Jakarta, aksi demonstrasi serupa juga dijadwalkan berlangsung di berbagai daerah pada hari yang sama.

Sejumlah kota besar yang dilaporkan akan menjadi lokasi aksi antara lain:

Daerah yang menggelar aksi demonstrasi:

  • Malang, Jawa Timur.
  • Medan, Sumatera Utara.
  • Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
  • Balikpapan, Kalimantan Timur.
  • Bandung, Jawa Barat.
  • Palembang, Sumatera Selatan.
  • Padang, Sumatera Barat.
  • Bandar Lampung, Lampung.
  • Semarang, Jawa Tengah.

Mayoritas aksi membawa sejumlah isu nasional yang belakangan menjadi sorotan publik.

Tuntutan utama demonstrasi:

  • Evaluasi dan penghentian Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
  • Penolakan program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
  • Penghentian praktik militerisme dan penguatan supremasi sipil.
  • Peninjauan kebijakan kenaikan harga BBM.
  • Pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).
  • Penghematan penggunaan APBN dan kebijakan yang pro-rakyat.

Di Semarang, mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi BEM Semarang Raya dikabarkan akan menyoroti isu pemberantasan korupsi dan tata kelola pemerintahan.

Sementara di Jakarta, mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA) disebut akan mengangkat isu pemborosan anggaran negara serta pemulihan kondisi ekonomi nasional.

Mayoritas demonstrasi dijadwalkan mulai berlangsung sekitar pukul 13.00 WIB dengan pengawalan ketat dari aparat gabungan yang telah disiagakan sejak pagi hari.(*)

(Tribunnews.com/Yohanes Liestyo Poerwoto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.