BREAKING NEWS: Harga Obat Naik Lebih Cepat di Kota Bandung
Kemal Setia Permana June 15, 2026 02:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Rencana penyesuaian harga obat di tengah menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) mulai terasa di sejumlah apotek di Kota Bandung. 

Meski pemerintah belum mengumumkan kebijakan resmi, beberapa distributor disebut telah menginformasikan kenaikan harga obat yang akan berlaku mulai Juli 2026.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan harga obat merangkak naik hingga 10-20 persen disebabkan melemahnya nilai tukar rupiah. 

Bahkan, saat pembelian terakhir, beberapa produk sudah mengalami penyesuaian harga.

"Kalau informasinya per 1 Juli mulai naik. Tapi kemarin saat pembelian terakhir sudah ada yang naik duluan," ujar Dwiki, Senin (15/6/2026).

Baca juga: IPKB: Pasar Domestik 280 Juta Jiwa Jadi Kunci Kebangkitan Industri Konfeksi

Menurut dia, salah satu produk yang mengalami kenaikan adalah obat radang dan tablet hisap untuk mengatasi peradangan atau antiseptik tenggorokan. 

Meski baru satu jenis obat yang diketahuinya mengalami kenaikan, kondisi tersebut mulai menjadi perhatian pelaku usaha apotek.

"Kemarin yang saya tahu obat radang dan tablet hisap untuk tenggorokan. Harganya sudah naik dibanding pembelian sebelumnya," katanya.

Dia mengaku belum menerima surat resmi terkait penyesuaian harga tersebut.

Namun informasi dari distributor sudah disampaikan melalui pesan singkat kepada sejumlah apotek.

"Kalau surat fisik belum ada. Biasanya informasi awal disampaikan lewat WhatsApp. Baru satu distributor yang mengabarkan harga obat akan naik mulai Juli," ujarnya.

Menurutnya, kenaikan harga obat tidak hanya berdampak pada pelaku usaha apotek, tetapi juga langsung dirasakan konsumen.

Keluhan dari pasien bahkan mulai muncul ketika harga obat mengalami perubahan.

"Pasien sering kaget. Mereka bilang, 'kok kemarin masih segini, sekarang sudah naik lagi'. Walaupun selisihnya tidak terlalu besar, tetap saja dipertanyakan," katanya.

Ia menilai kenaikan harga berpotensi memengaruhi penjualan dan perputaran stok obat di apotek. 

Baca juga: Reaktivasi Bandara Husein Dapat Lampu Hijau, Bandung akan Bidik Wisatawan Malaysia

Dikatakannya, pasien yang biasanya membeli obat tertentu secara rutin bisa jadi menunda pembelian karena mempertimbangkan harga.

"Biasanya ada obat yang cepat keluar. Kalau harganya naik, pasien mungkin berpikir dua kali untuk membeli. Itu bisa berpengaruh ke stok juga," ujarnya.

Kekhawatiran terbesar dirasakan oleh pasien yang harus mengonsumsi obat setiap hari, seperti penderita diabetes dan penyakit kronis lainnya.

 Jika kenaikan harga terjadi secara luas, beban pengeluaran mereka diperkirakan ikut meningkat.

"Kasihan yang harus minum obat rutin setiap hari. Kalau semua obat ikut naik, tentu akan terasa bagi mereka," katanya.

Meski belum mengetahui besaran kenaikan yang akan diterapkan, dia berharap penyesuaian harga tidak terlalu membebani masyarakat maupun pelaku usaha kesehatan.

"Harapannya jangan sampai memberatkan kedua belah pihak, baik pasien maupun penyedia layanan kesehatan. Semoga harga tetap bisa stabil dan tidak terlalu membebani masyarakat," ujarnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.