BPOM dan Ubaya Perkuat Kolaborasi Hilirisasi Riset, Dorong Lahirnya Produk Kesehatan Inovatif
Ndaru Wijayanto June 15, 2026 05:14 PM

 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sulvi Sofiana

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI bersama Universitas Surabaya (Ubaya) dorong kolaborasi dalam pengembangan riset dan inovasi guna mempercepat hilirisasi hasil penelitian menjadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat.

Komitmen tersebut ditandai melalui kuliah umum dan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang digelar di Ubaya, Senin (15/6/2026).

Kepala BPOM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., mengatakan konsep kolaborasi Academic, Business, and Government (ABG) menjadi salah satu kunci mempercepat transfer teknologi dan pengembangan produk inovatif di Indonesia.

"Melalui konsep ABG, kami yakin transfer teknologi dan pengembangan produk-produk inovatif bisa dipercepat sehingga manfaatnya segera dirasakan masyarakat," kata Taruna.

Ia menjelaskan, banyak hasil penelitian di perguruan tinggi yang berpotensi menjawab kebutuhan masyarakat, terutama di bidang kesehatan.

Produk-produk inovatif tersebut, menurutnya, perlu didorong agar lebih cepat sampai kepada masyarakat dengan tetap menjamin keamanan, mutu, dan khasiatnya.

Baca juga: Mahasiswa FK Ubaya Edukasi Bahaya Vertigo dan Nyeri Kepala: Keluhan Pusing Tak Selalu Nyeri Kepala

"Sebagian produk inovasi itu sangat esensial dibutuhkan masyarakat. Termasuk yang berhubungan dengan berbagai macam pengobatan, khususnya penyakit-penyakit yang selama ini sulit disembuhkan," ujarnya.

Taruna juga menyoroti potensi biodiversitas Indonesia yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi bahan baku obat. Indonesia memiliki sekitar 31 ribu jenis tanaman yang berpotensi menjadi sumber pengembangan produk farmasi berbasis riset.

"Kita berharap penelitian terhadap potensi biodiversitas ini terus dilakukan oleh kampus-kampus sehingga dapat menghasilkan produk yang aman, berkualitas, dan bermanfaat bagi masyarakat," katanya.

Untuk mempercepat hilirisasi inovasi, BPOM saat ini tengah menyiapkan sejumlah terobosan regulasi. Salah satunya adalah skema conditional approval atau persetujuan bersyarat bagi produk-produk inovatif yang sangat dibutuhkan masyarakat.

Menurut Taruna, kebijakan tersebut memungkinkan produk yang telah memenuhi aspek keamanan dan menunjukkan efektivitas pada tahap tertentu untuk memperoleh akses lebih cepat ke masyarakat, sambil tetap melanjutkan pengumpulan data klinis lanjutan.

"Beberapa produk inovatif sangat dibutuhkan pasien. Dengan skema conditional approval, produk bisa lebih cepat dimanfaatkan masyarakat tanpa mengabaikan aspek keamanan dan efektivitas," ujarnya.

Baca juga: Ubaya Dominasi Final Campus League Basketball Regional Surabaya, Putra dan Putri Sapu Bersih Juara

Ia menambahkan, BPOM juga telah memangkas waktu evaluasi perizinan produk dari sekitar 300 hari kerja menjadi 210 hari kerja. Selain itu, pemerintah memberikan kemudahan registrasi bagi usaha mikro dan kecil, khususnya untuk produk pangan olahan.

Taruna menyebut saat ini terdapat sekitar 1.700 produk hasil riset yang sedang dalam berbagai tahapan pengembangan. Dari jumlah tersebut, sekitar 134 produk telah menunjukkan kemajuan signifikan, termasuk untuk terapi kanker, penyakit kritis, dan sejumlah penyakit langka.

"Ini menunjukkan ekosistem riset dan inovasi kesehatan di Indonesia berkembang cukup progresif. Yang terpenting adalah bagaimana hasil riset tersebut bisa sampai kepada masyarakat dengan tetap menjamin keamanan, khasiat, dan mutunya," pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor Ubaya, Dr Benny Lianto menyatakan Jawa Timur masih membutuhkan fasilitas uji klinis untuk mendukung pengembangan obat baru.

Selama ini, industri farmasi di Jawa Timur harus melakukan pengujian klinis ke Jawa Barat atau Jakarta karena belum tersedianya fasilitas yang memadai di daerah tersebut.

"Yang kurang itu adalah sebuah unit yang bisa melakukan uji klinis terhadap pembuatan obat baru. Selama ini industri farmasi di Jawa Timur ngujinya ke Jawa Barat atau ke DKI Jakarta," kata Benny.

Menurutnya, Ubaya telah memulai langkah untuk mengembangkan unit uji klinis yang dapat mendukung industri farmasi di Jawa Timur. Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan mampu melengkapi ekosistem industri farmasi di daerah.

Benny mengungkapkan, Taruna juga berencana berkunjung ke Benova, salah satu industri farmasi besar di Jawa Timur yang menjadi mitra Ubaya, untuk membahas peluang pengembangan fasilitas uji klinis tersebut.

"Ubaya sebenarnya juga sudah berinisiasi untuk mencoba mengembangkan sebuah unit baru yaitu untuk pengujian uji klinis kalau ada obat baru. Jadi tidak perlu ke Jawa Barat atau ke Jakarta," ujarnya.

Ia berharap kolaborasi antara BPOM, perguruan tinggi, dan industri dapat mempercepat penguatan ekosistem riset dan inovasi kesehatan di Jawa Timur.

Selain itu, terdapat peluang dukungan pendanaan dari BPOM untuk mendukung riset-riset di bidang pangan dan obat yang melibatkan regulator sejak tahap awal.

"Kami menyambut baik usulan beliau untuk masuk ke dalam konsep ABG. Tadi ada bincang-bincang akan ada bantuan sumber pendanaan dari BPOM untuk mendukung riset-riset khususnya dalam bidang pangan dan obat yang nanti melibatkan BPOM sejak awal," kata Benny.

Menurutnya, semangat inovasi yang dibawa BPOM sejalan dengan visi Ubaya dalam mengembangkan riset yang berdampak bagi masyarakat dan industri.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.