Laporan Wartawan TribunBengkulu.com, M Rizki Wahyudi
TRIBUNBENGKULU.COM, REJANG LEBONG – Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga menyebabkan keracunan massal di SD Negeri 18 Kepahiang telah selesai dilakukan.
Bahkan, Loka POM Rejang Lebong diketahui telah menyerahkan hasil pemeriksaan laboratorium tersebut kepada Dinas Kesehatan Kepahiang pada Senin (15/6/2026).
Kepala Loka POM Rejang Lebong, Pupa Feshirawan Putra, mengatakan pemeriksaan tersebut dilakukan berdasarkan permintaan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang untuk mengetahui kondisi sampel makanan yang dikonsumsi para korban.
Menurutnya, pihak Loka POM hanya bertugas melakukan pengujian laboratorium terhadap sampel yang diserahkan oleh instansi terkait.
"Pemeriksaan kita itu berdasarkan permintaan dari Dinkes Kepahiang untuk mengetahui penyebab dugaan keracunan yang terjadi," jelas Pupa saat dikonfirmasi wartawan TribunBengkulu.com pada Senin siang.
Baca juga: Keracunan Massal usai Makan MBG di Kepahiang, Kepala SPPG Bungkam, Bupati Buka Suara
Hasil Pemeriksaan Diserahkan ke Dinkes
Pupa menjelaskan proses pemeriksaan membutuhkan waktu karena sampel harus melalui sejumlah tahapan pengujian di laboratorium sebelum hasil akhirnya dapat diterbitkan.
Setelah rangkaian pemeriksaan yang panjang, akhirnya hasil pemeriksaan berhasil diketahui.
"Hasil pemeriksaan sudah keluar dan telah kami serahkan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang," lanjut Pupa.
Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak dapat menyampaikan lebih lanjut terkait penyebab pasti dugaan keracunan tersebut karena hasil pemeriksaan telah menjadi kewenangan Dinas Kesehatan sebagai pihak yang meminta pengujian.
"Kami hanya melakukan pengujian. Untuk informasi mengenai penyebab dugaan keracunan maupun tindak lanjut hasil pemeriksaan, silakan dikonfirmasi langsung ke Dinas Kesehatan Kepahiang," pungkasnya.
Belasan Siswa dan Guru Sempat Dirawat
Sebelumnya, kasus dugaan keracunan massal terjadi di SD Negeri 18 Kepahiang setelah sejumlah siswa mengonsumsi makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (4/6/2026) dan menyebabkan 16 orang mengalami gangguan kesehatan.
Korban terdiri dari siswa, guru, serta penjaga sekolah.
Mereka kemudian mendapatkan penanganan medis di Puskesmas Kelobak dan Puskesmas Pasar Kepahiang.
Berdasarkan laporan yang diterima, para korban mengalami gejala seperti mual, muntah, sesak napas, dan rasa gatal pada tenggorokan setelah mengonsumsi makanan program tersebut.
Kasus tersebut selanjutnya ditangani oleh instansi terkait melalui pengambilan sampel makanan untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium guna mengetahui penyebab kejadian yang dialami para korban.
Keracunan MBG
Kasus dugaan keracunan massal terjadi di SD Negeri 18 Kepahiang pada Kamis (4/6/2026) setelah 16 orang yang terdiri dari 14 siswa, seorang guru, dan seorang penjaga sekolah mengonsumsi makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Para korban mengalami berbagai gejala, seperti sakit perut, mual, pusing, sakit kepala, muntah, sesak napas, dan gatal pada tenggorokan, sehingga harus mendapatkan penanganan medis di Puskesmas Kelobak dan Puskesmas Pasar Kepahiang.
Pihak kesehatan memberikan perawatan berupa infus dan obat-obatan. Seluruh korban kemudian berangsur pulih dan diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing.
Menindaklanjuti kejadian tersebut, polisi melakukan penyelidikan dan mengamankan sampel makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan untuk diuji di laboratorium.
Bupati Kepahiang Zurdi Nata juga memerintahkan jajaran kesehatan memberikan penanganan terbaik kepada para korban serta meminta pengelola dapur MBG melakukan evaluasi dan memastikan seluruh proses penyediaan makanan memenuhi standar serta prosedur operasional yang berlaku.
Siswa Trauma Makan MBG Lagi
Sementara itu, orang tua pelajar yang mengalami keracunan mengaku trauma dan khawatir usai anaknya dilarikan ke puskesmas usai mengonsumsi makan bergizi gratis (MBG), pada Kamis (4/6/2026).
Hingga saat ini, jumlah korban dugaan keracunan berjumlah 16 orang yang terdiri dari siswa, guru, dan penjaga sekolah yang dilarikan ke Puskesmas Kelobak dan Puskesmas Pasar Kepahiang.
Salah satu orang tua korban, Risti, mengungkapkan kondisi anaknya sempat mengalami muntah, gatal-gatal, hingga sesak napas setelah menyantap MBG di sekolah.
“Anak mulai mengeluh mual, muntah, pusing, dan gatal-gatal,” ujar Risti kepada Reporter TribunBengkulu.com, Kamis (4/6/2026).
Kondisi anak kemudian memburuk hingga mengalami sesak napas sebelum dibawa ke fasilitas kesehatan.
Risti mengatakan anaknya kini mengalami ketakutan untuk kembali mengonsumsi makanan dari program MBG.
“iya ada trauma dan khawatir,” kata Risti.
Ia berharap ada evaluasi menyeluruh terhadap kualitas makanan yang dibagikan kepada siswa.
“Harapannya ke depan tidak terjadi lagi dan makanan lebih selektif sebelum diberikan ke anak-anak,” katanya.
Senada dengan Rio yang anaknya juga mengalami keracunan usai mengonsumsi makanan dari program MBG.
"Iya anak saya keracunan dengan gejala muntah hingga dibawa ke Puskesmas Kelobak sekitar jam 10.00 WIB. Kalau penyebab nya kita kurang tau yang jelasnya dia ini sempat makan dari makanan MBG itu," jelas Rio.
Dirinya mengaku trauma atas apa yang dialami anaknya yang masih berusia sembilan tahun dan duduk di bangku kelas tiga SD 18 Kepahiang tersebut.
"Trauma dan kekhawatiran kita jelas ada, kedepannya kalau masih ada program ini harus ditingkatkan lagi dan yakinkan masyarakat agar tidak terjadi lagi," pungkas Rio.
Gabung grup Facebook TribunBengkulu.com untuk informasi terkini