Suhu Capai 42 Derajat Celcius, Jemaah Haji Aceh Tur ke 4 Lokasi Situs Bersejarah Madinah
Muliadi Gani June 15, 2026 05:54 PM

 

PROHABA.CO, MADINAH – Minggu (14/6/2026) kemarin merupakan hari kelima jemaah haji kloter 4 asal Aceh berada di Madinah.

Selain tetap diisi dengan shalat fardu dan shalat sunat di Masjid Nabawi, sebagian anggota kloter 4 juga mengisinya dengan ikut agenda wisata di seputaran Madinah.

Pada hari yang sama, cuaca panas terasa sangat menyengat di Madinah.

Suhu pada hari itu mencapai 42 derajat Celcius.

Dalam suasana terik seperti itulah lebih dari 40 orang dari ratusan jemaah kloter 4 asal Aceh memilih ikut tur ke beberapa objek wisata menarik di seputaran Madinah.

Menurut Hj Muliyawati SPd, salah satu jemaah kloter 4 dari Banda Aceh, ada satu bus yang membawa jemaah kloter 4 untuk melaksanakan tur kemarin.

Mereka tur ke tempat Percetakan Al-Qur’an, Masjid Kiblatain, Masjid Sab’ah, dan Sumur Adzaq/Taman Mustadzal.

“Cukup banyak juga objek yang dikunjungi dalam satu hari.

Bagi yang ikut tur, hari Ahadnya menjadi penuh kesan yang menyenangkan,” kata Muliyawati.

Percetakan Al-Qur’an

Percetakan Al-Qur’an yang di Madinah ini resmi berdiri atas perintah Raja Abdulaziz Al-Saud, pendiri Kerajaan Arab Saudi.

Pembangunannya dimulai tahun 1354 H/1935 M dan selesai, lalu resmi beroperasi pada 1358 H/1939 M.

Tujuan utamanya percetakan ini dibangun adalah untuk:

- menyebarkan Al-Qur’an yang benar bacaan, tulisan, dan ejaannya sesuai kaidah tajwid dan Rasm standar;

- menggantikan salinan tulisan tangan yang jumlahnya terbatas dan kadang memiliki perbedaan penulisan; dan

- menjamin keaslian sesuai bacaan Imam Hafs dari riwayat ‘Ashim, yang paling luas dipakai di dunia Islam.  

Baca juga: Jemaah Haji Aceh Masuk Raudah dan ke Kebun Kurma

Ada hal yang membuat percetakan yang satu ini Istimewa, yakni:

- menggunakan tulisan Madinah, terkenal dengan gaya penulisannya yang rapi, jelas, dan menjadi acuan utama;

- sebelum dicetak massal, naskah diperiksa berulang kali oleh tim ulama ahli qira’at, tajwid, dan bahasa Arab di bawah pengawasan Komite Tinggi Khusus; dan

- setiap lembar diperiksa kembali agar tidak ada satu pun kesalahan titik, huruf, atau tanda baca.

Awalnya percetakan ini hanya memproduksi ribuan eksemplar, tapi kini jutaan Al-Qur’an tercetak setiap tahun.

Lalu didistribusikan secara gratis atau dengan biaya sangat murah ke seluruh penjuru dunia, termasuk ke Indonesia.

Ada berbagai ukuran dan jenis: edisi kecil saku, ukuran sedang, besar, hingga yang disertai terjemahan dan tafsir.

Percetakan ini jga menerbitkan Al-Qur’an dalam berbagai bahasa dan format khusus untuk keperluan pendidikan.  

Keunggulan Qur’an Madinah

Berikut keunggulan dari AlQur’an Madinah: 

- tulisannya standar, jelas, dan mudah dibaca;

- bebas kesalahan penulisan;

- mengikuti kaidah tajwid yang tepat;

- kertas dan tintanya berkualitas tinggi; dan

- menjadi acuan utama bagi percetakan Al-Qur’an di negara lain, termasuk Indonesia.

Selain di Madinah, umat Islam juga memiliki percetakan AlQur’an terkenal lainnya, yakni di Mesir.

Baca juga: Usai Laksanakan Tawaf wada, Jemaah Haji Aceh Menuju Madinah

Masjid Kiblatain

Setelah mengunjungi Percetakan Al-Qur’an Madinah, jemaah haji Aceh kloter 4 bergerak ke Masjid Kiblatain.

Masjid Al Qiblatain ini sering juga disebut Masjid Kiblatain atau “Masjid Dua Kiblat”.

Lokasinya berada sekitar 3,8– 5 km barat laut Masjid Nabawi, Madinah.

- Awalnya bernama Masjid Bani Salamah, lalu dikenal sebagai Al Qiblatain karena menjadi saksi dua arah kiblat.

Masjid ini diibangun tahun 2 H/624 M oleh Sawad bin Ghanam.

Saat itu umat Islam shalat menghadap Masjidil Aqsa (Baitul Maqdis, Yerusalem).

Ketika Nabi Muhammad SAW sedang memimpin shalat Zuhur, setelah dua rakaat pertama turun wahyu Surah Al Baqarah ayat 144: Ganti kiblat ke Ka’bah, Masjidilharam, Makkah.

Nabi dan sahabat langsung berbalik arah; masjid ini pun menjadi satu satunya yang menyimpan jejak dua arah kiblat dalam satu shalat. 

Ciri khas

Dahulu ada dua mihrab di masjid ini.

Kini, mihrab ke arah Makkah yang tetap dipakai, sedangkan bekas arah lama dijadikan tanda pengingat.

Masjid ini pernah direnovasi berkali kali, terakhir diperluas dan dibangun ulang dengan bentuk megah, tetapi tetap sederhana.

Masjid Dua Kiblat ini menjadi tujuan ziarah rutin jemaah haji dan umrah, seperti yang dilakukan puluhan jemaah kloter 4 asal Aceh pada Ahad kemarin.

Masjid Saba’ah

Setelah berkunjung dan shalat sunat di Masjid Dua Kiblat ini, jemaah asal Aceh pun berkunjung ke Masjid Sab’ah.

Masjid Sab’ah disebut juga Masjid Tujuh, berupa sekumpulan masjid bersejarah di Madinah.

Masjid Tujuh ini berlokasi di kaki bukit Sala’, sekitar 700 meter di sebelah barat Masjid Nabawi, kawasan bekas medan Perang Khandaq/Ahzab.

Dahulu, lokasi ini merupakan pos penjagaan dan tempat berkumpul Nabi Muhammad saw serta sahabat saat perang berlangsung (sekitar 5 H/627 M).

Di sini Nabi Muhamamd berdoa selama tiga hari memohon kemenangan.

Lalu, Allah mengabulkan lewat kedatangan bantuan malaikat dan hancurnya pasukan musuh.

Awalnya ada tujuh masjid kecil di kawasan ini, kini tersisa enam saja karena Masjid Al Qiblatain sudah terpisah menjadi tempat ziarah tersendiri.

Adapun daftar nama masjid di Kompleks Sab’ah adalah:

1. Masjid Al Fath (terbesar, tempat Nabi berdoa minta kemenangan);

2. Masjid Salman Al Farisi;

3. Masjid Al A‘la;

4. Masjid Ali bin Abi Thalib;

5. Masjid Umar bin Khattab;

6. Masjid Sa’ad bin Mu’adz; dan

7. Masjid Abu Bakar Ash Shiddiq (yang aslinya ke 7).

Baca juga: Menunggu Tawaf Wada, Jemaah Haji Aceh Banyak yang Berwisata ke Taif

Adapun keistimewaan kompleks ini:

- menjadi saksi strategi pertahanan umat Islam awal;

- sering dikunjungi jemaah umrah/haji untuk ziarah dan salat sunah;

- sudah direnovasi dan dirapikan agar tetap terpelihara.

Dalam agenda tur seharian pada Ahad kemarin, jemaah haji asal Aceh dari kloter 4 mengakhiri kunjungannya ke sumur Adzaq.

Sumur Adzaq merupakan salah satu situs bersejarah terpenting di Madinah, dekat Masjid Quba.  

Lokasinya berada di barat– selatan Masjid Quba, kawasan bekas pekarangan kabilah Bani ‘Amru bin ‘Auf, sekitar 3–4 km dari Masjid Nabawi.

Adzaq berarti tempat yang airnya terus mengalir, tak pernah kering, dan tanahnya subur.

Ini sesuai dengan sifat mata airnya yang stabil sepanjang musim. 

Kisah bersejarah

Sumur ini sudah ada sebelum kedatangan Rasulullah saw ke Madinah.

Saat Hijrah (622 M), ini adalah tempat pertama Rasulullah disambut penduduk Madinah (Anshar) dengan gembira.

Beliau beristirahat sejenak di kebun kurma dekat sumur ini (disebut Bustan al Mustadzaq), lalu minum airnya.

Air sumur ini dikenal jernih, sedikit manis, dan menyejukkan.

Peristiwa ini tercatat dalam riwayat sahih Al Bukhari.

Adapun keistimewaannya, sumur ini dianggap sumber air berkah dan simbol penerimaan hangat masyarakat Madinah terhadap Islam.

Airnya tak pernah kering sejak zaman Rasulullah hingga kini.

Tempat ini juga menjadi tujuan ziarah jemaah untuk mengenang awal berdirinya komunitas Islam di Madinah.

Setelah puas ikut tur seharian ke situs-situs bersejarah di seputaran Koa Madinah, jemaah kloter 4 pun kembali ke penginapan yang letaknya di seberang Madjidil Nabawi. 

(Yarmen Dinamika)

Baca juga: Sepekan di Makkah, Jemaah Haji Aceh Fokus Ibadah di Masjidilharam

Baca juga: Tiga Jamaah Haji Aceh Meninggal di Makkah dalam Dua Hari, Total jadi Enam Oran

Baca juga: Jamaah Haji Asal Aceh Tamiang Meninggal di Arafah, Total Dua Orang Wafat

 


 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.