SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG - Senja mulai turun di kawasan Bundaran Tugu Malang, Senin (15/6/2026).
Riuh teriakan massa aksi yang sejak sore menggema di depan Gedung DPRD Kota Malang kini telah hilang, digantikan oleh bising suara kendaraan.
Spanduk-spanduk telah dilipat, pengeras suara dimatikan, dan ban yang sempat dibakar pun telah dipadamkan.
Sementara itu, satu per satu mahasiswa mulai meninggalkan lokasi demonstrasi dengan berjalan kaki.
Namun di pinggir Bundaran Tugu Malang, seorang mahasiswi bernama Ocha memilih untuk bertahan. Ia duduk di atas trotoar bersama rekan-rekan lainnya yang baru saja selesai menggelar aksi massa.
Baca juga: Ketua DPRD Kota Malang Minta Maaf, Setuju Evaluasi MBG dan Kopdes Merah Putih
Di hadapannya, sebuah laptop tampak terbuka. Jemarinya sibuk menari di atas papan ketik, sesekali ia membuka catatan digital sembari mengernyitkan dahi.
Di tengah sisa-sisa aksi dan lalu lalang kendaraan yang padat, Ocha kembali menjadi mahasiswa biasa sesaat setelah demo usai.
Mahasiswi semester empat Program Studi Teknologi Informasi Universitas Brawijaya (UB) itu rupanya sedang bergelut mengerjakan tugas Ujian Akhir Semester (UAS).
Padahal, baru beberapa jam sebelumnya, Ocha berdiri bersama ratusan mahasiswa lain untuk menyuarakan kritik tajam terhadap kebijakan pemerintah.
Baca juga: Demo Indonesia Gawat Darurat Mahasiswa ke DPRD Malang, Amarah Brawijaya Desak MBG Dihentikan
“Saya sebagai mahasiswa, saya juga ada kewajiban. Kami turun ke sini karena ada permasalahan. Pun yang kami sampaikan, hasil dari belajar. Mulai konsolidasi sampai tema yang kami suarakan,” ujarnya, Senin (15/6/2026).
Layar laptop Ocha menampilkan dokumen tugas akhir semester untuk mata kuliah Metode Penelitian, sebuah pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan hari itu juga.
Bagi Ocha, seolah tak ada jeda panjang antara momen turun ke jalan dan menyusun tugas akademis kampus.
Bagi Ocha, demonstrasi dan belajar bukanlah dua hal yang saling meniadakan. Keduanya justru dinilai berjalan beriringan demi saling melengkapi.
“Kami kan belajar, tanpa melupakan kewajiban sebagai mahasiswa,” katanya.
Di balik keterlibatannya dalam aksi turun ke jalan, tersimpan sebuah kegelisahan mendalam yang bersifat sangat personal.
Pendidikan tinggi yang ia jalani hari ini dibiayai sepenuhnya oleh orang tua.
Ocha memahami betul bahwa situasi dan kebijakan ekonomi negara saat ini telah berdampak langsung pada kestabilan penghasilan orang tuanya.
Baca juga: Respons Wali Kota Batu Soal Kasus Dugaan Pengeroyokan Wakil Ketua KONI Kota Batu Sinal Abidin
“Saya juga dibiayai orang tua saya. Orang tua saya mengalami dampak kebijakan. Bagaimana caranya pendidikan saya tetap berjalan,” tutur Ocha menceritakan beban pikirannya.
Bahkan, keresahan itu menjangkau generasi yang lebih tua di keluarganya.
Sang kakek yang berprofesi sebagai petani kecil di desa, menurutnya, turut merasakan imbas dari kondisi ekonomi nasional yang sedang terjadi.
“Tuntutan soal APBN itu berdampak ke orang tua saya. Kakek saya petani juga terdampak,” katanya.
Menariknya, dalam beberapa waktu terakhir Ocha memang aktif melakukan penelitian dan mengikuti lomba esai. Topik ilmiah yang ia pilih pun lahir dari realitas yang ia saksikan sendiri di dalam keluarganya.
“Saya habis penelitian dan lomba esai. Topik yang saya ambil petani sejahtera,” ujarnya.
Bagi Ocha, ruang kelas pembelajaran kini telah berpindah ke jalanan, di mana tujuannya sama-sama mencari solusi atas tantangan ekonomi.
Apa yang Ocha pelajari di dalam ruang kuliah menjadi bahan refleksi untuk memahami situasi sosial, lalu dibawa kembali ke ruang publik untuk diperjuangkan.
Dalam kesempatan itu, Ocha juga menyoroti pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menurutnya telah menimbulkan kekecewaan publik akibat adanya dugaan penyimpangan oleh sejumlah pihak.
“Program MBG malah dimainkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab,” cetus Ocha kecewa.
Meski langit Kota Malang semakin gelap, Ocha masih bergeming di posisinya.
Baca juga: Dukung MBG, Dinas Perikanan Kabupaten Malang Usulkan 60 Desa Terima Bantuan Budidaya Ikan Lele
Ketika ditanya mengapa tidak memilih mengerjakan tugas tersebut di rumah atau area kampus yang lebih nyaman, Ocha hanya tersenyum singkat.
“Kalau bisa melakukan keduanya, ya kenapa tidak,” ujarnya retoris.
Bagi Ocha, turun ke jalan bukan sekadar aksi aktivisme musiman. Ada masa depan besar yang sedang ia perjuangkan, termasuk masa depannya sendiri untuk bisa terus menyandang status sebagai mahasiswa.
Ocha menyadari, jika kondisi ekonomi keluarganya terus memburuk, bangku kuliah bisa menjadi kemewahan yang sulit dijangkau.
“Kalau saya tidak demo, bisa saja tahun depan saya tidak kuliah karena UKT tidak terbayar, karena orang tua susah dengan kondisi seperti ini,” pungkasnya menutup percakapan.