TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Pergantian Tahun Baru Islam 1448 Hijriah dimanfaatkan masyarakat di Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang, untuk memperkuat nilai spiritual dan membangun ruang refleksi bersama melalui kegiatan Jauharul Muharram di Masjid Bekalrejo.
Di tengah masih kuatnya anggapan sebagian masyarakat yang mengaitkan malam Satu Suro dengan hal-hal mistis, kegiatan tersebut justru mengajak masyarakat melihat Muharram sebagai bulan yang penuh makna, pengharapan, dan perbaikan diri.
Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, KH Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, mengatakan Tahun Baru Islam semestinya menjadi pengingat bagi umat untuk melakukan evaluasi perjalanan hidup dan memperbaiki arah kehidupan ke depan.
“Ini menjadi bentuk refleksi bahwa tanggal 1 Muharram adalah tahun barunya umat Islam yang mungkin hari ini mulai dilupakan oleh anak-anak muda. Kita ingin mengingatkan bahwa inilah tahun baru kita, saatnya melakukan refleksi diri dan menyusun niat menjadi lebih baik,” ujarnya.
Menurut Gus Yusuf, Muharram termasuk bulan yang dimuliakan dalam Islam sehingga penyambutannya tidak harus diwujudkan dalam kemeriahan berlebihan.
“Kita tidak perlu berlebihan. Yang penting berdoa bersama, kenduri, tumpengan, dan berkumpul dengan masyarakat. Nilai utamanya adalah rasa syukur, kebersamaan, dan introspeksi,” katanya.
Ia juga menyoroti pandangan yang selama ini berkembang di masyarakat mengenai malam Satu Suro.
Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa Muharram bukan momentum yang identik dengan rasa takut, melainkan waktu untuk memperbanyak ibadah dan mengambil pelajaran hidup.
“Kita ingin meluruskan bersama bahwa Muharram adalah bulan yang mulia. Banyak nabi Allah mendapatkan pertolongan dan lulus dari berbagai ujian pada bulan Muharram. Jadi semestinya bulan ini menjadi momentum meningkatkan ibadah dan mengambil hikmah, bukan justru dipenuhi ketakutan,” jelasnya.
Gus Yusuf menilai pesan Muharram menjadi semakin relevan di tengah situasi sosial yang penuh tantangan.
“Kita berharap bangsa Indonesia yang hari ini mendapatkan banyak ujian bisa menjadikan Muharram sebagai momentum refleksi bersama. Semoga Indonesia tetap damai, tetap kondusif, dan mendapatkan keberkahan Muharram,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa semangat tahun baru Islam seharusnya juga memperkuat hubungan sosial dan kepedulian antarsesama.
“Pemerintah juga harus mencintai masyarakatnya agar masyarakat benar-benar merasa diayomi dan mendapatkan keberkahan di bulan Muharram ini,” tambahnya.
Sementara itu, mantan Kepala Desa Tegalrejo, Basuki, mengatakan tradisi Jauharul Muharram telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Menurutnya, kegiatan tersebut bukan hanya ritual tahunan, tetapi juga ruang untuk menjaga silaturahmi dan memperkuat kebersamaan.
“Harapan masyarakat tentunya mendapatkan barokah di tahun yang baru ini. Semoga masyarakat Tegalrejo hidup tenteram, sejahtera, dan diberikan rezeki yang melimpah,” katanya.
Ia menambahkan bahwa doa tutup tahun dan doa awal tahun selalu menjadi inti kegiatan sebagai simbol rasa syukur dan harapan baru.
“Pondok pesantren dan masyarakat selalu bersatu mengadakan kegiatan ini setiap tahun,” tutupnya.
Melalui Jauharul Muharram, masyarakat Tegalrejo menunjukkan bahwa pergantian tahun Hijriah dapat menjadi ruang untuk memperkuat spiritualitas sekaligus mempererat kebersamaan sosial.