Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Jafaruddin I Aceh Utara
SERAMBINEWS.COM,LHOKSUKON – Ketika banyak orang seusianya memilih beristirahat di rumah, M Yusuf R (76) yang lebih dikenal Yusuf Nago justru menghabiskan malam-malamnya mengajari anak-anak dan remaja menabuh Rapai Pase.
Di usia yang semakin senja, lelaki asal Desa Hueng, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara itu masih tetap berdiri di tengah para remaja, mengajarkan notasi dan lagu rapai budaya warisan leluhur.
Sebuah rapai tua bernama Raja Nago menjadi saksi perjalanan Yusuf Nago bersama tiga generasi keluarganya.
Dari buyut, kakek, ayah, hingga kini, alat musik tradisional masih dirawat dengan baik.
Rapai raja nago bukan hanya menyimpan cerita masa lalu, tetapi juga harapan agar warisan Rapai Pase tetap hidup di tengah generasi mendatang.
Baca juga: Tumbuh Bersama Pertukangan dan Tradisi Rapai, Kisah Hammadi Mengawali Membuat Alat Musik Perkusi
Bagi masyarakat Desa Hueng, Yusuf Nago bukan sekadar pemain rapai. Ia adalah penjaga mata rantai tradisi yang telah bertahan selama ratusan tahun.
Tradisi itu mengalir dalam darah keluarganya.
Yusuf merupakan anak pertama dari tiga bersaudara.
Ia memiliki dua putra dan empat putri. Kedua putranya mampu menabuh rapai sebagai anggota grup, tapi belum sempat secara serius menekuni peran sebagai penerus utama.
Namun harapan itu mulai terlihat pada cucunya, Suwir Amani (16).
Remaja tersebut kini telah mampu menjadi syekh kecil bagi teman-teman sebayanya setelah berlatih selama empat tahun di bawah bimbingan sang kakek.
"Sekarang cucu saya sudah bisa memimpin latihan untuk anak-anak seusianya," ujar Yusuf dengan nada bangga.
Kecintaan Yusuf terhadap Rapai Pase bukan sesuatu yang lahir tiba-tiba. Ia tumbuh dalam lingkungan yang menjadikan rapai sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Di rumahnya masih tersimpan sebuah rapai tua bernama Raja Nago, peninggalan buyutnya, Tgk Cut Ben, yang diperkirakan hidup pada penghujung abad ke-18.
Rapai tersebut diwariskan secara turun-temurun kepada Tgk Sabi, kakek Yusuf, kemudian kepada Rasyid, ayahnya, sebelum akhirnya berada di tangan Yusuf saat ini.
Rapai tua itu bukan sekadar alat musik. Ia menjadi saksi perjalanan panjang sebuah tradisi yang bertahan melintasi generasi.
"Seingat saya, tradisi meu uroh sudah ada sejak saya masih sekolah dasar, tapi ketika saya tanyakan kepada kakek masa beliau juga sudah ada, tapi belum ada grup saat itu" kenang Yusuf.
Sedangkan Yusuf mulai aktif bermain rapai sekitar tahun 1970,
Pada masa mudanya, Yusuf bergabung dengan Grup Rapai Keutapang di Kecamatan Matangkuli yang dipimpin Syekh Daud, sosok yang dikenal luas sebagai salah satu maestro Rapai Pase Aceh Utara.
Dari kelompok itulah ia belajar berbagai teknik tabuhan, pola ritme, hingga filosofi yang terkandung dalam seni Rapai Pase.
Kini, puluhan tahun kemudian, Yusuf memimpin Grup Rapai Barona Jaya, salah satu kelompok dibentuknya untuk menjaga keberlangsungan tradisi tersebut di Kecamatan Tanah Luas.
Empat tahun terakhir, Barona Jaya secara rutin menggelar latihan dua kali sepekan, setiap Sabtu dan Minggu malam.
Namun latihan tidak dilakukan sembarangan.
Yusuf sengaja memulai kegiatan sekitar pukul 22.00 WIB agar para peserta yang mayoritas remaja dapat terlebih dahulu mengikuti pengajian di balai dan dayah.
"Latihan kami adakan setelah anak-anak selesai mengaji. Jadi mereka tetap bisa belajar agama dan juga belajar budaya," katanya.
Menariknya, lokasi latihan tidak menetap di satu tempat. Yusuf dan anggota Barona Jaya bergantian menggelar latihan di tiga desa, yakni Hueng, Paya Beurandang, dan Deng.
"Pekan ini di Desa Deng, pekan depan di Paya Beurandang, begitu seterusnya," ujarnya.
Cara tersebut dilakukan untuk mendekatkan Rapai Pase kepada masyarakat sekaligus mengajak generasi muda di berbagai gampong agar ikut mengenal budaya leluhur mereka.
Saat ini Barona Jaya memiliki sekitar 25 anggota aktif. 15 di antaranya merupakan remaja dan pemuda.
Mereka diajarkan mulai dari notasi tabuhan, teknik memegang rapai, hingga posisi tubuh saat tampil dalam pertunjukan.
Bagi Yusuf, latihan itu bukan sekadar menyalurkan hobi atau mengisi waktu luang.
Ada amanah yang selalu ia ingat.
Sebelum meninggal dunia, sang ayah pernah berpesan agar tradisi rapai terus diajarkan kepada generasi muda.
"Pernah ayah berpesan, kalau mampu, ajarkan budaya rapai ini kepada generasi muda agar tetap terjaga," kenangnya.
Pesan sederhana itu terus melekat dalam ingatannya hingga sekarang.
Karena itulah Yusuf tetap bertahan menjaga rapai, bahkan ketika berbagai tantangan datang silih berganti.
Salah satu ujian terberat yang pernah dihadapinya terjadi saat banjir bandang melanda Aceh Utara pada akhir 2025.
Ketika sebagian warga sibuk menyelamatkan barang-barang rumah tangga, Yusuf memiliki prioritas lain setelah memastikan keluarganya dalam keadaan aman.
Ia bergegas menuju lokasi penyimpanan rapai.
Dengan kondisi air yang terus naik, ia mengangkat dan menggantung rapai-rapai miliknya ke bagian atas seung atau tempat latihan agar tidak terendam banjir.
"Saya berusaha menyelamatkan rapai supaya tidak rusak. Alhamdulillah semuanya selamat," ujarnya.
Peristiwa itu masih diingat oleh para anggota Barona Jaya.
"Saya melihat beliau sudah setengah badan terendam banjir dan terengah-engah. Ternyata beliau baru saja meninggikan posisi rapai agar tidak terkena air," tutur salah seorang anggota grup yang mendampingi Yusuf saat diwawancarai Serambinews.com di kawasan Landing Kecamatan Lhoksukon, Senin (15/6/2026).
Bagi Yusuf, rapai bukan sekadar alat musik perkusi.
Di setiap badan rapai tersimpan cerita keluarga, sejarah kampung, dan jejak para pendahulu.
Saat ini Grup Barona Jaya memiliki lebih dari belasan rapai. Dua belas di antaranya merupakan milik pribadi Yusuf.
Masing-masing memiliki nama yang sarat makna, seperti Raja Nago, Tualang Rimba, Si Matang, Boh Beureutoh, Putro Ijo, dan Raja Geulanteu.
Di antara semuanya, Raja Nago menjadi yang paling istimewa karena merupakan peninggalan leluhur yang telah berusia ratusan tahun.
Sementara Tualang Rimba memiliki kisah tersendiri.
"Itu peninggalan ayah saya. Saya juga ikut membuatnya pada tahun 1987 dalam rimba pase," kenang Yusuf.
Meski berbagai tantangan pernah dihadapi, termasuk vakumnya aktivitas akibat pandemi Covid-19 selama beberapa tahun, Yusuf tidak pernah kehilangan semangat untuk mempertahankan tradisi.
"Kalau masa konflik dulu tidak masalah, kami masih bisa latihan. Justru yang membuat kegiatan berhenti cukup lama adalah saat Covid-19," katanya.
Yusuf hanya memiliki satu harapan sederhana, bagaimana suara Rapai Pase tetap terdengar di Desa Hueng dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sebab baginya, rapai bukan hanya warisan keluarga, melainkan identitas budaya yang harus terus hidup.(*)