Diskusi Pejabat Pemerintah di UGM Ricuh, Mahasiswa Bentangkan Spanduk 'Tolak Pengkhianat Reformasi'
M Zulkodri June 16, 2026 02:03 PM

 

BANGKAPOS.COM--Forum diskusi yang menghadirkan sejumlah pejabat pemerintahan di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Senin (15/6/2026) malam, berakhir ricuh setelah puluhan mahasiswa menyampaikan protes dan menguasai area panggung.

Kegiatan bertajuk Kopdar Bareng Mas Dar yang digelar di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM awalnya berlangsung normal.

Acara menghadirkan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Nusron Wahid, serta Wakil Menteri Pertanian Sudaryono.

Namun suasana berubah tegang ketika sejumlah mahasiswa mulai melontarkan kritik terhadap para narasumber dan kebijakan pemerintah yang dibahas dalam forum tersebut.

Adu argumen antara peserta dan pembicara pun tak terhindarkan. Suara protes semakin keras hingga membuat jalannya diskusi sulit dikendalikan.

Mahasiswa Naik ke Panggung

Ketegangan memuncak saat Budiman Sudjatmiko menyampaikan pandangannya dalam diskusi.

Dalam momen tersebut, Budiman menantang mahasiswa untuk menyampaikan kritik secara langsung, bukan hanya melalui media sosial.

"Kalau mau kritik jangan di medsos, langsung saja di sini," ujar Budiman di hadapan peserta.

Pernyataan tersebut justru memicu reaksi keras dari sebagian mahasiswa yang hadir.

Tak lama kemudian, puluhan mahasiswa bergerak menuju panggung sambil meneriakkan berbagai kritik kepada para pejabat yang hadir.

Beberapa mahasiswa juga membentangkan spanduk bertuliskan "UGM Menolak Pengkhianat Reformasi" dan "UGM Menolak Penjilat Rezim".

Dalam sejumlah video yang beredar di media sosial, terdengar massa meneriakkan sebutan "pengkhianat reformasi" yang ditujukan kepada Budiman Sudjatmiko, sosok yang dikenal sebagai mantan aktivis gerakan reformasi 1998.

Aksi tersebut membuat suasana forum semakin memanas dan memaksa panitia bersama petugas keamanan mengambil langkah pengamanan.

Pejabat Dievakuasi dari Lokasi

Ketika situasi semakin tidak terkendali, pihak keamanan memutuskan mengevakuasi para narasumber dari lokasi acara.

Budiman Sudjatmiko lebih dulu meninggalkan arena diskusi. Sementara itu, Nusron Wahid dan Sudaryono sempat masuk ke kendaraan untuk meninggalkan lokasi.

Namun mobil yang ditumpangi keduanya diadang oleh mahasiswa.

Alih-alih langsung pergi, Nusron dan Sudaryono kemudian turun dari kendaraan dan memilih berdialog secara lesehan bersama mahasiswa di sekitar lokasi acara.

Meski sempat terjadi dialog terbuka, kondisi di lapangan dinilai tetap tidak kondusif sehingga pengamanan terus dilakukan hingga acara berakhir.

Budiman: Saya Siap Berdiskusi dengan Mahasiswa

Menanggapi insiden tersebut, Budiman Sudjatmiko mengaku menyayangkan diskusi yang seharusnya menjadi ruang dialog justru berakhir ricuh.

Menurut dia, dirinya tidak memiliki masalah untuk berdiskusi secara langsung dengan mahasiswa selama forum berlangsung tertib dan saling menghormati.

"Seharusnya kita bisa berdialog dengan sehat dan lancar. Saya mau kok berdiskusi dengan mahasiswa. Tapi tadi sayangnya kondisinya sudah tidak kondusif," kata Budiman dalam keterangannya, Selasa (16/6/2026).

Budiman mengaku memilih meninggalkan lokasi karena khawatir situasi semakin memanas apabila diskusi tetap dipaksakan berlangsung.

"Saya mengkhawatirkan kondisi yang semakin tidak kondusif apabila saat itu kita masih berada di dalam gedung," ujarnya.

Menurut Budiman, kampus seharusnya menjadi ruang terbuka bagi pertukaran gagasan dan perbedaan pandangan yang disampaikan secara argumentatif.

Sudaryono Sebut Ada Pelemparan Air

Keterangan serupa juga disampaikan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono.

Ia mengaku awalnya berniat tetap melanjutkan dialog bersama mahasiswa. Namun kondisi berubah setelah terjadi aksi pelemparan air dan dugaan kontak fisik di tengah kerumunan massa.

"Saya merasa ada yang memukul saya. Ada pelemparan air juga. Karena situasi sudah tidak kondusif, pihak keamanan menyarankan kami keluar," kata Sudaryono.

Meski demikian, Sudaryono menegaskan pemerintah tidak anti terhadap kritik.

Menurutnya, kritik merupakan bagian dari demokrasi yang harus dihormati selama disampaikan dengan cara yang baik.

"Kalau ada yang keliru, kita perbaiki. Itu cerminan demokrasi. Orang boleh punya pendapat, tetapi juga harus menghargai pendapat orang lain," ujarnya.

Kritik Mahasiswa Jadi Sorotan

Kericuhan dalam forum tersebut langsung menjadi perhatian publik setelah sejumlah video beredar luas di media sosial.

Berbagai potongan video memperlihatkan mahasiswa menyuarakan kritik terhadap pemerintah serta mempertanyakan posisi sejumlah tokoh yang dahulu dikenal sebagai aktivis reformasi namun kini berada dalam lingkaran kekuasaan.

Perdebatan mengenai peran aktivis reformasi yang bergabung ke pemerintahan kembali mencuat setelah insiden tersebut.

Sementara itu, hingga Selasa pagi, belum ada laporan mengenai korban serius maupun kerusakan fasilitas akibat kericuhan yang terjadi di lingkungan kampus tersebut.

Meski berlangsung panas, peristiwa ini kembali menunjukkan tingginya perhatian mahasiswa terhadap berbagai kebijakan pemerintah serta pentingnya ruang dialog yang terbuka antara pemerintah dan kalangan akademisi.(*)
 
(TribunTrends/Tribunnews/Anita K Wardhani)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.