Jenderal Bambang Utoyo, Pejuang Kemerdekaan dari Palembang yang Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
Welly Hadinata June 16, 2026 02:27 PM

SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Nama Jenderal TNI (Anumerta) Bambang Utoyo kembali menjadi perhatian publik setelah berbagai kalangan mendorong pengusulannya sebagai Pahlawan Nasional.

Sosok perwira kelahiran Palembang ini dinilai memiliki kontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan serta menjaga soliditas Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada masa-masa awal berdirinya Republik Indonesia.

Hal tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional Nilai-Nilai Perjuangan Jenderal Bambang Utoyo yang digelar di Gedung Sudirman Kodam II/Sriwijaya, Senin (15/6/2026).

Seminar menghadirkan sejarawan nasional Prof. Dr. Anhar Gonggong sebagai narasumber utama dan dihadiri sejumlah tokoh militer, akademisi, serta keluarga besar Bambang Utoyo.

Dalam pemaparannya, Anhar Gonggong menegaskan bahwa Bambang Utoyo merupakan salah satu figur penting yang berperan menjaga persatuan TNI di tengah dinamika politik dan militer pasca kemerdekaan.

"Bambang Utoyo dianggap sebagai perwira yang mampu memberikan ruang bagi berbagai kelompok yang memiliki perbedaan pandangan untuk tetap berada dalam satu tujuan, yakni menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia," ujar Anhar.

Menurut Anhar, Indonesia menghadapi berbagai persoalan internal setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Salah satu momen yang paling menentukan adalah pasca Peristiwa 17 Oktober 1952, ketika terjadi ketegangan antara sebagian unsur militer dan parlemen.

Dalam situasi tersebut, Presiden Soekarno melihat Bambang Utoyo sebagai sosok yang mampu menjembatani berbagai kepentingan dan menjaga persatuan di lingkungan Angkatan Darat.

"Meski persoalan internal belum sepenuhnya selesai, beliau berupaya menjaga persatuan serta profesionalisme militer," kata Anhar.

Baca juga: Jenderal Bambang Utoyo Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional, Ini Menurut Sejarawan Anhar Gonggong

Pejuang Kemerdekaan dari Palembang

Bambang Utoyo lahir di Palembang pada 20 Agustus 1920. Ia menempuh pendidikan di MULO Palembang dan lulus pada 1938.

Semasa muda, ia aktif dalam organisasi kepemudaan Perkumpulan Indonesia Muda yang banyak menanamkan nilai nasionalisme kepada generasi muda kala itu.

Saat pendudukan Jepang, Bambang mengikuti pendidikan militer Giyu Gun di Pagar Alam pada 1943.

Pengalaman tersebut menjadi modal penting ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 1945.

Setelah kemerdekaan, Bambang bergabung dengan Tentara Republik Indonesia (TRI) dan dipercaya memimpin Resimen I Divisi II dengan pangkat Letnan Kolonel. Kariernya terus berkembang hingga menjadi Komandan Divisi II.

Namanya semakin dikenal saat memimpin pasukan dalam Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang pada akhir 1946 hingga awal 1947.

Pertempuran tersebut menjadi salah satu simbol perlawanan rakyat Sumatera Selatan terhadap pasukan Sekutu dan Belanda yang berusaha kembali menguasai Indonesia.

Dalam masa perjuangan itu, Bambang mengalami kecelakaan ledakan granat yang menyebabkan salah satu tangannya harus diamputasi. Peristiwa tersebut membuatnya dikenal luas sebagai "jenderal bertangan satu".

Dipanggil Kembali oleh Soekarno

Pada masa reorganisasi dan rasionalisasi TNI tahun 1948, karier Bambang sempat mengalami perubahan. Kondisi kesehatannya juga membuat ia pensiun dari dinas aktif militer pada 5 September 1952 dengan pangkat Kolonel.

Namun setelah Peristiwa 17 Oktober 1952, Bambang kembali dipanggil untuk aktif berdinas. Ia kemudian dipercaya menjabat sebagai Panglima Tentara dan Teritorium II di Palembang.

Kepercayaan Presiden Soekarno terhadap Bambang Utoyo semakin besar. Pada 10 Juni 1955, Soekarno menetapkannya sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), dan pelantikan resmi dilakukan pada 27 Juni 1955.

Meski masa jabatannya sebagai KSAD hanya berlangsung sekitar empat bulan hingga Oktober 1955, keberadaannya dinilai penting dalam menjaga stabilitas internal Angkatan Darat pada masa yang penuh dinamika politik.

Penghargaan pada Era Soeharto

Setelah tidak lagi menjabat sebagai KSAD, Bambang Utoyo tetap dikenang sebagai salah satu tokoh senior Angkatan Darat yang memiliki jasa besar terhadap bangsa.

Bambang Utoyo wafat di Bonn, Jerman Barat, pada 4 Juli 1980 dalam usia 59 tahun. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata, Jakarta Selatan.

Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, jasa-jasanya kembali mendapat pengakuan. Pada November 1997, pemerintah memberikan kenaikan pangkat kehormatan satu tingkat lebih tinggi kepada sejumlah mantan KSAD, termasuk Bambang Utoyo yang dianugerahi pangkat Jenderal (Kehormatan).

Diusulkan Menjadi Pahlawan Nasional

Putra Bambang Utoyo, Indra Bambang Utoyo, mengaku bersyukur atas dukungan berbagai pihak terhadap usulan gelar Pahlawan Nasional bagi ayahnya.

"Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada NU Sumsel yang telah mengajukan orang tua kami sebagai calon Pahlawan Nasional. Ini merupakan bentuk penghormatan yang sangat berarti bagi keluarga," ungkap Indra.

Ketua Tim Pengusul, Kemas Khoirul Mukhlis, menjelaskan bahwa proses pengusulan telah dilakukan oleh PWNU Sumatera Selatan sejak tahun lalu.

Pada Mei 2026, berkas usulan telah diserahkan kepada Dinas Sosial Kota Palembang untuk menjalani proses verifikasi berjenjang.

Sementara itu, Kasubdirektorat Pelestarian Sejarah Kementerian Kebudayaan RI Agus Hermanto mengatakan bahwa penetapan Pahlawan Nasional harus melalui tahapan administrasi, akademik, dan historis yang ketat sebelum diajukan Menteri Sosial kepada Presiden.

Dengan rekam jejak sebagai pejuang kemerdekaan, pemimpin militer, serta tokoh yang berupaya menjaga persatuan TNI pada masa awal republik, Bambang Utoyo dinilai memiliki nilai perjuangan yang layak dikenang dan diwariskan kepada generasi bangsa.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.