10 Naskah Ceramah Tahun Baru Islam 1448 H: Beragam Tema Kebaikan dan Fadilah Bulan Muharam 
ferri amiril June 16, 2026 04:35 PM

TRIBUNPRIANGAN.COM - Kalender Tahun Baru Islam (Hijriah) tengah berlangsung di awal tanggal, pekan, dan bulan.

Hal ini berdasarkan, perhitungan tanggal dari tahun Qamariah yang digunakan dalam Isalam, adapun berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2026, Tahun Baru Islam 1448 H jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026 dan ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Pergantian awal tahun sendiri akan bertemu dengan bulan Muharram yang merupakan bulan pertama dalam sistem penanggalan Islam atau kalender Hijriah.

Beragam perayaan yang mewarnai pergantian tahun dalam ajaran Islam ini, juga kerap identik dengan sambutan juga tausiah atau ceramah, yang baru akan digelar bertepatan pada tanggal 1 Muharam.

Banyak komunitas dan kelompok pengajian, serta instansi baru akan menggelar tasyakuran pada awal tahun tersebut, termasuk menyediakan tausiah atau ceramah.

Ya, ceramah tentang 1 Muharram atau menyambut Tahun Baru Islam bisa menjadi referensi dan refkelksi saat memasuki tahun baru.

Pesan-pesan Islam yang disampaikan juga harus jelas dan mudah dipahami.

Untuk itu, berikut ini telah terangkum beberapa diantaranya sebagai referensi.

10 Naskah Ceramah Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 H

Naskah 1: Mengawali Tahun Baru Islam dengan Peningkatan Ibadah

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Swt. yang telah memberikan kita banyak sekali nikmat sehingga kita dapat berkumpul pada kesempatan yang mulia ini untuk memperingati Tahun Baru Islam, 1 Muharram. Selawat serta salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw., keluarga, sahabat, dan umatnya hingga akhir zaman.

Para hadirin yang dirahmati Allah,

Tidak terasa kita telah sampai di Tahun Baru Islam. Pada kesempatan yang berbahagia ini, marilah kita mengambil tema "Mengawali Tahun Baru Islam dengan Peningkatan Ibadah."

Para hadirin yang berbahagia,

Tahun baru adalah momen yang tepat untuk refleksi diri dan memperbaiki kualitas ibadah kita. Ibadah adalah salah satu cara kita mendekatkan diri kepada Allah Swt. dan meraih rida-Nya. Oleh karena itu, mari kita jadikan Tahun Baru Islam ini sebagai titik awal untuk meningkatkan ibadah kita.

Pertama, marilah kita meningkatkan kualitas salat kita.

Salat adalah tiang agama dan ibadah yang paling utama dalam Islam. Dalam Al-Qur'an, Allah Swt. berfirman:

"Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar." (QS. Al-Ankabut: 45)

Mari kita berusaha untuk lebih khusyuk dalam salat, memperbaiki bacaan dan gerakan, serta melaksanakannya tepat waktu. Salat yang khusyuk dan benar akan memberikan dampak positif dalam kehidupan kita sehari-hari.

Kedua, mari kita tingkatkan membaca Al-Qur'an dan memahami isinya.

Al-Qur'an adalah petunjuk hidup bagi umat manusia. Membaca Al-Qur'an dengan tartil (pelan-pelan dan benar) dan memahami maknanya akan memberikan pencerahan dan petunjuk dalam menjalani kehidupan. Rasulullah saw. bersabda:

"Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari)

Mari kita sisihkan waktu setiap hari untuk membaca dan merenungi Al-Qur'an, serta mengamalkan ajarannya dalam kehidupan kita.

Ketiga, mari kita perbanyak zikir dan doa.

Zikir adalah cara kita mengingat Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Allah Swt. berfirman:

"Maka ingatlah Aku, Aku pun akan ingat kepadamu." (QS. Al-Baqarah: 152)

Dengan berzikir, hati kita akan menjadi tenang dan kita akan selalu merasa dekat dengan Allah. Selain itu, perbanyaklah berdoa, memohon ampunan, dan meminta petunjuk serta keberkahan dari Allah dalam setiap langkah kita.

Keempat, mari kita tingkatkan sedekah dan amal kebaikan.

Sedekah adalah salah satu bentuk ibadah yang sangat dianjurkan. Dengan bersedekah, kita tidak hanya membantu sesama yang membutuhkan, tetapi juga membersihkan harta kita dan menambah keberkahan. Rasulullah saw. bersabda:

"Sedekah itu menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api." (HR. Tirmidzi)

Mari kita jadikan sedekah sebagai kebiasaan dan meningkatkan amal kebaikan lainnya, seperti membantu orang tua, menyantuni anak yatim, dan menjaga lingkungan.

Para hadirin yang dirahmati Allah,

Tahun Baru Islam adalah saat yang tepat untuk memulai perubahan positif dalam hidup kita. Mari kita manfaatkan momen ini untuk meningkatkan kualitas ibadah kita dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Semoga di tahun yang baru ini, kita semua menjadi pribadi yang lebih baik, lebih taat, dan lebih dekat dengan Allah.

Semoga Allah Swt. senantiasa memberikan kita kekuatan, petunjuk, dan keberkahan dalam setiap langkah kita. Amin ya Rabbal 'alamin.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Naskah 2: Muharam Momen Refleksi dan Evaluasi

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat iman, Islam, dan kesehatan sehingga kita dapat berkumpul pada kesempatan yang berbahagia ini untuk memperingati Tahun Baru Islam, 1 Muharram. Selawat serta salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw., keluarga, sahabat, dan umatnya hingga akhir zaman.

Para hadirin yang saya hormati,

Setiap pergantian tahun adalah momen refleksi dan evaluasi. Muharram sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriyah, mengingatkan kita pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw. dari Makkah ke Madinah. Hijrah bukan sekadar perpindahan fisik, tetapi juga transformasi spiritual dan sosial yang mendalam.

Pertama, hijrah mengajarkan kita tentang pentingnya pengorbanan.

Rasulullah saw. dan para sahabat meninggalkan tanah kelahiran mereka, harta benda, dan kenyamanan demi tegaknya agama Allah. Ini mengajarkan kita bahwa dalam hidup ini, kita harus siap berkorban demi mencapai tujuan yang lebih besar dan mulia.

Kedua, hijrah mengajarkan kita tentang tekad dan ketabahan.

Perjalanan hijrah bukanlah perjalanan yang mudah. Banyak rintangan dan cobaan yang dihadapi oleh Rasulullah saw. dan para sahabat. Namun, dengan keteguhan hati dan keyakinan kepada Allah, mereka berhasil sampai ke Madinah dan membangun peradaban Islam yang gemilang. Dari sini kita belajar untuk tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan hidup.

Ketiga, hijrah mengajarkan kita tentang pentingnya persaudaraan dan kerja sama.

Sesampainya di Madinah, Rasulullah saw. mempersaudarakan kaum Muhajirin (pendatang dari Makkah) dengan kaum Ansar (penduduk asli Madinah). Mereka saling membantu dan mendukung dalam segala aspek kehidupan. Inilah teladan bagi kita untuk selalu menjaga ukhuwah Islamiyah dan tolong-menolong dalam kebaikan.

Para hadirin yang dirahmati Allah,

Momen Tahun Baru Islam ini adalah saat yang tepat bagi kita untuk melakukan muhasabah atau introspeksi. Sudah sejauh mana kita menjalankan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari? Apakah kita sudah menjadi pribadi yang lebih baik dari tahun sebelumnya?

Mari kita jadikan Tahun Baru Islam ini sebagai titik awal untuk berhijrah menuju kebaikan. Hijrah dari keburukan menuju kebaikan, dari kemalasan menuju kerja keras, dari kelalaian menuju ketakwaan.

Semoga Allah Swt. senantiasa membimbing kita, memberikan kekuatan, dan keberkahan dalam setiap langkah kita. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Naskah 3 "Muharam Bulan Penuh Kemuliaan"

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil 'alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan kepada kita sehingga dapat memasuki bulan Muharram, bulan pertama dalam kalender Hijriah. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti sunnah beliau hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang sangat dimuliakan dalam Islam. Kemuliaannya ditegaskan langsung oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Artinya: "Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan-bulan itu." (QS. At-Taubah: 36)

Para ulama menjelaskan bahwa empat bulan haram tersebut adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Pada bulan-bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan.

Jamaah yang berbahagia,

Keutamaan Muharram juga dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Muslim:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

Artinya: "Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam." (HR. Muslim)

Perhatikan bagaimana Rasulullah menyebut Muharram sebagai Syahrullah atau "bulan Allah". Penyandaran nama bulan ini kepada Allah menunjukkan betapa istimewa dan mulianya bulan Muharram dibandingkan bulan-bulan lainnya.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Selain sebagai bulan yang penuh keutamaan, Muharram juga menandai dimulainya tahun baru Hijriah. Momentum ini hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai pergantian angka dalam kalender, tetapi juga sebagai waktu untuk melakukan muhasabah, mengevaluasi perjalanan hidup dan ibadah selama setahun yang telah berlalu.

Kita perlu bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kualitas ibadah kita meningkat? Sudahkah kita menjadi pribadi yang lebih baik dari tahun sebelumnya? Ataukah justru masih terjebak dalam kebiasaan dan kesalahan yang sama?

Rasulullah SAW mengingatkan pentingnya terus memperbaiki diri. Karena itu, datangnya Muharram seharusnya membangkitkan semangat baru untuk memperbanyak ibadah, memperkuat hubungan dengan Allah, memperbanyak sedekah, menjaga silaturahmi, dan meningkatkan kepedulian kepada sesama.

Jamaah sekalian,

Mari jadikan bulan Muharram sebagai titik awal perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Kita isi hari-hari di bulan yang mulia ini dengan amal saleh, memperbanyak istighfar, membaca Al-Qur'an, bersedekah, dan melaksanakan puasa sunnah, khususnya puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram yang memiliki keutamaan besar.

Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mampu memanfaatkan kemuliaan bulan Muharram untuk meningkatkan ketakwaan dan meraih keberkahan hidup di dunia maupun akhirat.

Amin ya Rabbal 'alamin.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Naskah 4: "Keutamaan Bulan Muharram yang Banyak Dilewati"

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Swt. yang telah memberikan kita nikmat iman, Islam, dan kesehatan sehingga kita dapat berkumpul pada kesempatan yang mulia ini untuk memperingati Tahun Baru Islam, 1 Muharram. Selawat serta salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw., keluarga, sahabat, dan umatnya hingga akhir zaman.

Para hadirin yang dirahmati Allah,

Tidak terasa kita telah sampai di Tahun Baru Islam. Pada kesempatan yang berbahagia ini, marilah kita mengambil tema "Keutamaan Bulan Muharram dalam Menyambut Tahun Baru Islam."

Para hadirin yang berbahagia,

Bulan Muharram adalah satu di antara bulan yang istimewa dalam kalender Hijriyah. Allah Swt. menjadikan bulan ini sebagai salah satu dari empat bulan yang dihormati. Dalam Al-Qur'an, Allah Swt. berfirman:

"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram." (QS. At-Taubah: 36)

Keempat bulan yang dimaksud adalah Zulqa'dah, Zulhijjah, Muharram, dan Rajab. Bulan-bulan ini memiliki keutamaan khusus dan kita dianjurkan untuk meningkatkan amal ibadah di dalamnya.

Pertama, Muharram adalah bulan yang penuh keberkahan dan kebaikan.

Rasulullah saw. menyebut bulan Muharram sebagai "Syahrullah" yang berarti "Bulan Allah". Ini menunjukkan betapa mulianya bulan ini di sisi Allah. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda:

"Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram." (HR. Muslim)

Puasa di bulan Muharram, terutama pada hari Asyura (10 Muharram), sangat dianjurkan. Rasulullah saw. bersabda:

"Puasa Asyura itu menghapus dosa-dosa setahun yang lalu." (HR. Muslim)

Kedua, Muharram adalah bulan introspeksi dan peningkatan spiritual.

Sebagai permulaan tahun baru Islam, bulan Muharram adalah waktu yang tepat untuk melakukan muhasabah atau introspeksi. Mari kita renungkan perjalanan hidup kita selama setahun yang lalu. Apakah kita sudah menjalankan perintah Allah dengan baik? Apakah kita sudah menjauhi larangan-Nya? Apakah kita sudah memperbaiki hubungan kita dengan sesama?

Ketiga, Muharram adalah bulan untuk memperbanyak amal kebaikan.

Di bulan yang mulia ini, mari kita tingkatkan ibadah dan amal kebaikan kita. Perbanyak salat sunnah, membaca Al-Qur'an, berzikir, dan bersedekah. Selain itu, mari kita jaga hubungan baik dengan keluarga, tetangga, dan saudara-saudara kita. Rasulullah saw. bersabda:

"Tidak ada satu hari pun di mana amal saleh padanya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini (10 hari pertama Zulhijjah)." (HR. Bukhari)

Meskipun hadis ini berbicara tentang 10 hari pertama Zulhijjah, semangat untuk meningkatkan amal saleh ini bisa kita terapkan juga di bulan Muharram.

Para hadirin yang dirahmati Allah,

Marilah kita jadikan bulan Muharram ini sebagai momentum untuk memperbaiki diri dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Semoga di tahun yang baru ini, kita semua mendapatkan kekuatan dan bimbingan dari Allah untuk menjadi 

pribadi yang lebih baik, lebih taat, dan lebih dekat dengan-Nya.

Semoga Allah Swt. senantiasa memberkahi setiap langkah kita dan menjadikan kita hamba-Nya yang selalu berada di jalan yang diridhai-Nya. Amin ya Rabbal 'alamin.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Naskah 5: "Muharram Bulan Berbenah"

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil 'alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan kepada kita sehingga pada hari ini kita dapat berkumpul dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti sunnah beliau hingga akhir zaman.

Jamaah yang dirahmati Allah SWT,

Pergantian tahun Hijriah bukan sekadar pergantian angka dalam kalender. Tahun Baru Islam mengingatkan kita pada peristiwa besar dalam sejarah Islam, yaitu hijrah Rasulullah SAW bersama para sahabat dari Makkah menuju Madinah. Peristiwa hijrah inilah yang kemudian menjadi dasar penanggalan Hijriah yang digunakan umat Islam hingga saat ini.

Meskipun hijrah Rasulullah terjadi pada bulan Rabiul Awal, para sahabat di masa Khalifah Umar bin Khattab RA menetapkan Muharram sebagai awal tahun Hijriah. Sebab Muharram merupakan bulan dimulainya tekad dan persiapan hijrah setelah Baiat Aqabah yang terjadi pada bulan Dzulhijjah.

Karena itu, setiap datang bulan Muharram, kita tidak hanya mengenang sejarah hijrah, tetapi juga merenungkan makna hijrah dalam kehidupan kita sehari-hari. Apakah kita sudah berhijrah menuju kehidupan yang lebih baik? Apakah kualitas ibadah kita semakin meningkat? Ataukah masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya?

Jamaah yang berbahagia,

Muharram adalah salah satu dari empat bulan mulia yang disebut dalam Al-Qur'an. Nama Muharram sendiri berarti bulan yang dihormati dan dimuliakan. Sejak zaman dahulu, bulan ini telah mendapat tempat istimewa di tengah masyarakat Arab.

Banyak peristiwa besar yang dikaitkan dengan bulan Muharram. Di antaranya diterimanya taubat Nabi Adam AS, selamatnya Nabi Ibrahim AS dari api Namrud, terbebasnya Nabi Yusuf AS dari penjara, selamatnya Nabi Yunus AS dari perut ikan, sembuhnya Nabi Ayyub AS dari penyakit, hingga kemenangan Nabi Musa AS dan kaumnya dari kejaran Fir'aun.

Semua kisah tersebut mengajarkan bahwa pertolongan Allah selalu hadir bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan bersabar.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Di sebagian masyarakat masih terdapat anggapan bahwa bulan Muharram atau bulan Suro merupakan bulan sial. Karena keyakinan tersebut, sebagian orang menghindari pernikahan, perjalanan jauh, atau kegiatan penting lainnya pada bulan ini.

Padahal dalam Islam tidak ada bulan yang membawa kesialan. Semua waktu yang Allah ciptakan adalah baik. Rasulullah SAW bersabda:

"Janganlah kalian mencela masa, karena sesungguhnya Allah adalah pemilik dan pengatur masa."

Keyakinan bahwa suatu bulan membawa kesialan merupakan warisan tradisi jahiliyah yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Yang menentukan baik dan buruk bukanlah waktu, melainkan kehendak Allah SWT.

Karena itu, mari kita tinggalkan berbagai mitos yang tidak memiliki dasar syariat dan memperkuat keyakinan bahwa seluruh waktu adalah kesempatan untuk berbuat kebaikan.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Muharram juga menjadi momentum untuk memperbanyak amal saleh. Rasulullah SAW menyebut puasa di bulan Muharram sebagai puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan.

Beliau bersabda:

"Sebaik-baik puasa setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu bulan Muharram." (HR Muslim)

Di antara amalan yang sangat dianjurkan adalah Puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa puasa Asyura menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil selama setahun yang telah lalu.

Selain itu, umat Islam juga dianjurkan melaksanakan Puasa Tasu'a pada tanggal 9 Muharram untuk membedakan diri dari kebiasaan kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram.

Oleh karena itu, mari kita manfaatkan bulan yang mulia ini dengan memperbanyak puasa sunnah, membaca Al-Qur'an, bersedekah, memperbanyak dzikir, serta memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

Jamaah sekalian,

Esensi terbesar Muharram adalah hijrah. Hijrah bukan hanya berpindah tempat, tetapi berpindah dari kebiasaan buruk menuju kebiasaan baik, dari kemalasan menuju semangat beribadah, dari maksiat menuju taat, dan dari kelalaian menuju kedekatan dengan Allah SWT.

Tahun baru Hijriah seharusnya menjadi momen evaluasi diri. Kita bertanya kepada diri sendiri, apakah hari ini lebih baik dari hari kemarin? Apakah amal ibadah kita bertambah? Apakah akhlak kita semakin baik?

Jangan sampai pergantian tahun hanya menjadi seremoni tanpa perubahan berarti dalam kehidupan kita.

Mari jadikan tahun baru ini sebagai titik awal untuk memperbaiki diri, memperbaiki keluarga, memperkuat persaudaraan, dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Semoga di tahun yang baru ini Allah memberikan keberkahan dalam hidup kita, melapangkan rezeki kita, mengampuni dosa-dosa kita, serta membimbing kita untuk menjadi hamba-hamba yang lebih baik dari tahun sebelumnya.
Amin ya Rabbal 'alamin.

Naskah 6: " Menyerap Pelajaran Penting Tahun Baru Hijriah

Waktu mengalir terus. Dan "tanpa terasa" kita sampai kepada pergantian tahun hijriah untuk kesekian kalinya. Detik menuju menit, jam, hari, bulan, hingga tahun senantiasa bergerak maju yang berarti semakin bertambah pula usia manusia. Yang perlu menjadi catatan adalah: apakah bertambah pula keberkahan usia kita? Ini pertanyaan singkat dan hanya bisa dijawab dengan merefleksikan secara panjang-lebar jejak perjalan hidup kita yang sudah lewat.

Tahun baru hijriah yang kita peringati setiap tahun terkandung sejarah dan nilai-nilai yang terus relevan hingga kini. Nabi sendiri tak pernah menetapkan kapan tahun baru Islam dimulai. Begitu pula tidak dilakukan oleh khalifah pertama, Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq. Awal penanggalan itu resmi diputuskan pada era khalifah kedua, Sayyidina Umar bin Khathab, sahabat Nabi yang terkenal membuat banyak gebrakan selama memimpin umat Islam.

Keputusan itu diambil melalui jalan musyawarah. Semula muncul beberapa usulan, di antaranya bahwa tahun Islam dihitung mulai dari masa kelahiran Nabi Muhammad. Ini adalah usulan yang cukup rasional. Rasulullah adalah manusia luar biasa yang melakukan revolusi ke arah peradaban yang lebih baik masyarakat Arab waktu itu. Karena itu kelahiran beliau adalah monumen bagi kelahiran perdaban itu sendiri. Tahun baru Masehi pun dimulai dari masa kelahiran figur yang diyakini membawa perubahan besar, yakni Isa al-Masih.

Yang menarik, Umar bin Khatab menolak usulan ini. Singkat cerita, forum musyawarah menyepakati momen hijrah Nabi dari Makkah menuju Madinah sebagai awal penghitungan kalender Islam atau kalender qamariyah yang merujuk pada perputaran bulan (bukan matahari). Karenanya kelak dikenal dengan tahun hijriah yang berasal dari kata hijrah (migrasi, pindah).

Jamaah shalat Jum'at hafidhakumullah,

Memilih momen hijrah daripada momen kelahiran Nabi yang dilakukan Umar dan para sahabat lainnya mengandung makna yang sangat dalam. Kelahiran yang dialami manusia adalah peristiwa alamiah yang tak bisa ditolaknya. Nabi Muhammad pun saat lahir tak serta merta diangkat menjadi nabi kecuali setelah berusia 40 tahun. Beliau kala itu hanyalah bayi putra Abdullah bin Abdul Muthalib. Hal ini berbeda dari hijrah yang mengandung tekad, semangat perjuangan, perencanaan, dan kerja keras ke arah tujuan yang jelas: terealisasinya nilai-nilai kemanusiaan universal yang berlandaskan asas ketuhanan dalam Islam (rahmatan lil 'alamin).

Nabi memutuskan hijrah setelah melalui proses panjang selama 13 tahun di Makkah dengan berbagai tantangan dan jerih payahnya. Mula-mula beliau berdakwah secara tersembunyi, dimulai dari keluarga, orang-orang terdekat, dan pelan-pelan lalu kepada masyarakat luas secara terbuka. Selama itu, Rasulullah mendapat cukup banyak rintangan, mulai dari dicaci-maki, dilempar kotoran unta, kekerasan fisik, hingga percobaan pembunuhan. Semua dilalui dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan. Modal utama hingga hingga beliau berhasil menyadarkan sejumlah orang adalah akhlak mulia.

Rasulullah tampil sebagai agen perubahan di tengah masyarakat Arab yang begitu bejat. Asas tauhid melenceng jauh karena menganggap berhala sebagai Tuhan. Nilai-nilai kemanusiaan juga nyaris tak ada lantaran masih maraknya perbudakan, fanatisme suku, harta riba, penguburan hidup-hidup bayi perempuan, dan lain-lain. Rasulullah yang hendak mengubah cara pandang dan perilaku masyarakat jahiliyah mesti berhadapan para pembesar suku yang iri dan tamak kekuasaan, termasuk dari paman beliau sendiri, Abu Jahal dan Abu Lahab. Pengikut Islam bertambah, dan secara bersamaan bertambah pula tekanan dari musyrikin Quraisy. Hingga akhirnya atas perintah Allah, Nabi Muhammad bersama para sahabatnya berhijrah dari Makkah ke kota Yatsrib yang kelak dikenal dengan sebutan Madinah.

Perjalanan hijrah dilakukan di malam hari dengan cara sembunyi-sembunyi dan penuh kecemasan, menghindari kejaran kaum musyrikin Quraisy. Beruntung kala di kota Yatsrib, Rasulllah bersama sahabat-sahabatnya disambut positif penduduk setempat. Sebagian dari mereka mengenal Islam dan bahkan sudah berbaiat kepada Nabi saat di Makkah. Di sinilah Nabi membangun peradaban Islam yang kokoh. Jumlah penganut semakin banyak, semangat persaudaraan antara Muhajirin dan Ansor dipupuk, dan kesepakatan-kesepakatan dengan kelompok di luar Islam diciptakan, demi terwujudnya kehidupan masyarakat yang damai.

Mula-mula yang dilakukan Nabi setelah hijrah adalah mengubah nama dari Yatsrib menjadi Madinah. Mengapa Madinah (yang sekarang dimaknai sebagai "kota")? Secara bahasa madînah berarti tempat peradaban. Perubahan nama ini memberi pesan tentang pergeseran pola perjuangan Nabi yang semula di Makkah banyak dipusatkan pada penyadaran pribadi-pribadi, menuju dakwah dalam konteks sosial yang terorganisisasi dalam negara Madinah. Di sini konstitusi (mitsaq al-madinah atau Piagam Madinah) dibangun, struktur pemerintahan disusun, dan aturan-aturan Islam seputar muamalah (hubungan antarsesama) banyak dikeluarkan di sana. Tentang Piagam Madinah, Nabi menjadikannya sebagai titik temu dari masyarakat Madinah yang plural saat itu, yang meliputi orang Muslim, orang Yahudi, suku-suku di Madinah, dan lain-lain. Demikianlah hijrah Nabi yang monumental itu seperti mendapatkan momentum puncaknya, yakni terwujudnya masyarakat yang beradab.

Jamaah shalat Jum'at hafidhakumullah,

Setidaknya ada dua poin yang perlu digarisbawahi dari ulasan tersebut. Pertama, tahun baru hijriah harus dimaknai dalam kerangka perjuangan Nabi dalam merealisasikan nilai-nilai kemanusiaan universal yang berlandaskan asas ketuhanan dalam Islam (rahmatan lil 'alamin). Nabi sebagai sosok-termasuk momen kelahirannya-memang layak dihormati, tapi ada yang lebih penting lagi yakni spirit dan prestasi beliau sepanjang periode risalah. Dalam perjuangan itu ada ikhtiar, pengorbanan, keteguhan prinsip, keseriusan, kesabaran, dan keikhlasan. Yang terakhir ini menjadi sangat penting karena Rasulullah bersabda:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Artinya: "Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan."

Nabi dan para sahabatnya menunjukkan ketulusan yang luar biasa semata hanya untuk jalan Allah. Namun justru karena niat seperti inilah mereka mendapatkan banyak hal, termasuk persaudaraan, keluarga baru, hingga kekayaan dan kesejahteraan selama di Madinah. Keikhlasan dan kerja kerasa dalam membangun masyarakat berketuhanan sekaligus berkeadaban berbuah manis meskipun tantangan akan selalu ada. Inilah teladan yang berikan Nabi dari hasil berhijrah.

Poin kedua adalah kenyataan bahwa Nabi tidak membangun negara berdasarkan fanatisme kelompok atau suku. Rasulullah menginisasi terciptanya kesepakatan bersama kepada seluruh penduduk Yatsrib untuk kepentingan jaminan kebasan beragama, keamanan, penegakan akhlak mulia, dan persaudaraan antaranggota masyarakat. Tujuan dari kesepakatan tersebut masih relevan kita terapkan hingga sekarang. Inilah hijrah yang tak hanya bermakna secara harfiah "pindah tempat", melainkan juga pindah orientasi: dari yang buruk menjadi yang baik, dari yang baik menjadi lebih baik. Dan Rasulullah meneladankan, perubahan tersebut tak hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk masyarakat secara kolektif.

Semoga pergantian tahun hijriah membawa keberkahan bagi umur kita dengan belajar dari peristiwa hijrah Rasulullah yang monumental lengkap dengan nilai-nilai positif di dalamnya. Wallahu a'lam.

باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ والذِّكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ

Naskah 7: "Keutamaan dan Amalan di Bulan Muharram

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقَهُ الْقُرْآنُ

أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا مُوْسٰى بِاٰيٰتِنَآ اَنْ اَخْرِجْ قَوْمَكَ مِنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ ەۙ وَذَكِّرْهُمْ بِاَيّٰىمِ اللّٰهِ ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُوْرٍ (إبراهيم: ٥)

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Pada kesempatan yang penuh keberkahan ini, mari kita semua untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah subhanahu wata'ala, dengan senantiasa berupaya melakukan semua kewajiban dan meninggalkan semua larangan. Beberapa hari lagi kita akan meninggalkan Dzulhijjah, bulan terakhir di tahun 1445 H dan memasuki Muharram, bulan pertama di tahun baru 1446 H.

Kaum Muslimin wal Muslimat yang dirahmati oleh Allah SWT,

Muharram merupakan salah satu dari empat bulan yang dimuliakan (al-Asyhur al-Hurum). Empat bulan yang dimuliakan itu adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Di antara amalan bulan Muharram adalah, pertama, memperbanyak puasa sebagaimana disabdakan oleh Baginda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam:

أَفْضَلُ الصَّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ (رواه مسلم)

Artinya: "Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa bulan Muharram dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam" (HR Muslim).

Hadits di atas secara jelas menyatakan bahwa kita disunnahkan berpuasa di bulan Muharram, terutama pada hari kesepuluh Muharram yang disebut dengan puasa 'Asyura'. Begitu juga hari kesembilan yang disebut puasa tasu'a'. Bahkan Imam Syafi'i menyatakan dalam kitab al-Umm bahwa disunnahkan puasa tiga hari sekaligus, yaitu 9, 10 dan 11 Muharram.

Ketika ditanya mengenai puasa 'Asyura', Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab:

يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

Artinya: "Menghapus dosa setahun yang telah berlalu" (HR Muslim).

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah

Kedua, kita disunnahkan untuk meluaskan belanja kepada keluarga pada hari kesepuluh Muharram. Hal itu berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ (رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ وَالْبَيْهَقِيُّ وَغَيْرُهُمَا)

Artinya: "Barang siapa melapangkan nafkah belanja kepada keluarganya (istri, anak dan orang-orang yang ia tanggung nafkahnya) pada hari 'Asyura', maka Allah akan melapangkan rezeki baginya sepanjang tahun" (HR ath Thabarani, al-Baihaqi dan lainnya).

Setelah menyebutkan beberapa jalur periwayatan dari hadits di atas dalam kitab Syu'abul Iman, Imam al-Baihaqi berkomentar:

هٰذِهِ الْأَسَانِيدُ وَإِنْ كَانَتْ ضَعِيفَةً فَهِيَ إِذَا ضُمَّ بَعْضُهَا إِلَى بَعْضٍ أَخَذَتْ قُوَّةً

Artinya: "Sanad-sanad ini meskipun lemah, namun jika digabungkan menjadi kuat."

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah

Dua amalan di atas ini lah yang secara eksplisit disebutkan dalam hadits, yaitu berpuasa dan melapangkan nafkah belanja kepada keluarga. Adapun amalan-amalan lain di hari 'Asyura' yang disebutkan oleh sebagian ulama, seperti melakukan shalat tasbih, sedekah, mengunjungi ulama, menjenguk orang sakit, mengusap kepala anak yatim, memakai celak, bersilaturahmi dan lain-lain, maka boleh-boleh saja diamalkan pada hari 'Asyura' meskipun tidak ada hadits yang secara khusus menganjurkannya. Karena itu semua adalah amalan-amalan yang baik dan dianjurkan untuk dilakukan, baik pada hari 'Asyura' ataupun lainnya.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah

Sedangkan mengenai peristiwa penting bulan Muharram, terutama pada hari 'Asyura', di antaranya adalah:

Para hari 'Asyura', Allah menerima taubat Nabi Adam 'alaihis salam dari maksiat yang beliau lakukan, yang bukan kufur, bukan dosa besar dan bukan dosa kecil yang mengandung unsur kehinaan jiwa.

Pada hari 'Asyura', Allah menyelamatkan Nabi Nuh alaihissalam dan kaumnya yang beriman dari air bah yang menenggelamkan seluruh apa yang ada di atas muka bumi. Pada hari 'Asyura', Allah menenggelamkan Fir'aun dan menyelamatkan Nabi Musa 'alaihissalam dan kaumnya yang beriman.

Pada hari 'Asyura', Allah menyelamatkan Nabi Yunus 'alaihissalam dari dalam perut ikan Hut. Pada hari 'Asyura', Allah menganugerahkan kekuasan dan kerajaan kepada Nabi Sulaiman alaihis salam. Pada hari 'Asyura', Allah menyembuhkan penyakit Nabi Ayyub 'alaihissalam yang diderita selama 18 tahun. Penyakit itu bukanlah penyakit yang menjijikkan.

Tidak benar bahwa beliau sakit sampai-sampai keluar ulat atau belatung dari tubuhnya. Pada hari 'Asyura' tahun 4 H, terjadi perang Dzatur Riqa'. Pada hari 'Asyura' tahun 61 H, Sayyiduna al-Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhuma terbunuh sebagai syahid di tangan orang-orang yang berbuat zalim kepadanya di Karbala, Iraq.

Dan masih banyak lagi kejadian dan peristiwa penting lainnya yang terjadi pada bulan Muharram yang kesemuanya menunjukkan kemuliaan dan keutamaan bulan Muharram.

Hadirin rahimakumullah

Demikian khutbah singkat pada siang hari yang penuh keberkahan ini. Semoga bermanfaat dan membawa berkah bagi kita semua. Amin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Naskah 8: Muharam Bukan Bulan Sial

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan kepada kita begitu banyak nikmat. Nikmat iman, nikmat Islam, nikmat kesehatan, dan kesempatan sehingga kita dapat berkumpul dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti sunnah beliau hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Sering kali ketika memasuki bulan Muharram atau yang dalam tradisi Jawa dikenal sebagai bulan Suro, masih ada sebagian masyarakat yang menganggap bulan ini sebagai bulan sial, bulan yang harus dihindari untuk mengadakan hajatan atau kegiatan tertentu. Padahal anggapan seperti ini tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.

Sebaliknya, Muharram justru merupakan salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

"Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu bulan Muharram." (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa Muharram adalah bulan yang penuh keberkahan dan kesempatan untuk memperbanyak amal saleh. Jika bulan ini dianggap buruk atau membawa kesialan, tentu Rasulullah SAW tidak akan menganjurkan umatnya untuk memperbanyak ibadah di dalamnya.

Hadirin yang berbahagia,

Islam mengajarkan bahwa tidak ada waktu yang membawa sial dengan sendirinya. Semua waktu adalah ciptaan Allah SWT. Karena itu, menyandarkan kesialan kepada bulan tertentu, hari tertentu, atau tempat tertentu merupakan keyakinan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Dalam sebuah hadits qudsi, Allah SWT berfirman:

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

"Anak Adam menyakitiKu. Ia mencela waktu, padahal Akulah yang mengatur waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang." (HR. Muslim)

Karena itu, ketika seseorang mengatakan bahwa bulan Suro adalah bulan sial, sesungguhnya ia telah keliru memahami hakikat waktu yang diciptakan Allah.

Al-Qur'an juga mengingatkan bahwa musibah dan kesulitan yang menimpa manusia bukan disebabkan oleh waktu, melainkan sering kali karena perbuatan manusia itu sendiri. Allah SWT berfirman:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri." (QS. Asy-Syura: 30)

Ayat ini mengajarkan kepada kita pentingnya muhasabah. Ketika menghadapi kesulitan hidup, jangan buru-buru menyalahkan waktu, keadaan, atau orang lain. Justru kita perlu melihat diri sendiri, memperbaiki amal, memperbanyak istighfar, dan kembali kepada Allah SWT.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Momentum Tahun Baru Islam seharusnya menjadi kesempatan untuk meninggalkan berbagai keyakinan yang tidak sesuai dengan syariat. Jangan sampai kita masih mempercayai ramalan, hari sial, bulan sial, atau berbagai bentuk tahayul lainnya. Sebaliknya, mari kita isi bulan Muharram dengan amal saleh, memperbanyak puasa sunnah, membaca Al-Qur'an, bersedekah, dan memperbaiki hubungan dengan sesama.

Mari jadikan 1 Muharram sebagai momentum hijrah menuju kehidupan yang lebih baik, lebih dekat kepada Allah SWT, dan lebih kuat dalam memegang ajaran Islam.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Baca juga: 1 Muharam 1448 H Jatuh Bada Magrib, Ini Bacaan Afdal Doa Akhir dan Awal Tahun, Lengkap Zikirnya

Naskah 9: Pelajaran Penting dari Puasa Asyura

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil 'alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan kepada kita sehingga dapat berkumpul dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti ajarannya hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Muharram merupakan salah satu bulan yang sangat dimuliakan oleh Allah SWT. Bulan ini termasuk dalam empat bulan haram yang memiliki keutamaan istimewa. Karena kemuliaannya, Rasulullah SAW menyebut Muharram sebagai Syahrullah atau bulan Allah.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:

"Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram." (HR. Muslim)

Karena itu, memasuki Tahun Baru Islam hendaknya menjadi momentum untuk meningkatkan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan pada bulan ini adalah puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram serta puasa Tasu'a pada tanggal 9 Muharram.

Hadirin yang berbahagia,

Puasa Asyura memiliki keutamaan yang sangat besar. Rasulullah SAW bersabda:

"Puasa Asyura dapat menghapus dosa-dosa setahun yang telah lalu." (HR. Muslim)

Dari hadits ini, setidaknya ada dua pelajaran penting yang dapat kita ambil.

Pertama, besarnya rahmat dan ampunan Allah SWT.

Puasa yang dilakukan dengan penuh keikhlasan menjadi salah satu sebab diampuninya dosa-dosa seorang hamba. Ini menunjukkan betapa luas kasih sayang Allah kepada umat-Nya. Oleh karena itu, memasuki tahun baru Hijriah hendaknya menjadi saat yang tepat untuk melakukan muhasabah, memperbanyak istighfar, dan memperbaiki diri.

Jangan sampai pergantian tahun hanya menjadi seremoni belaka tanpa perubahan sikap dan amal. Tahun baru Islam seharusnya menjadi momentum hijrah menuju kehidupan yang lebih baik, lebih taat, dan lebih dekat kepada Allah SWT.

Kedua, pentingnya menjaga identitas dan jati diri seorang Muslim.

Ketika Rasulullah SAW mengetahui bahwa orang-orang Yahudi juga berpuasa pada hari Asyura, beliau menganjurkan umat Islam untuk menambah puasa pada tanggal 9 Muharram agar memiliki perbedaan dengan mereka.

Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk memiliki karakter dan identitas yang kuat. Umat Islam boleh hidup berdampingan dengan siapa saja, menghormati siapa saja, dan bekerja sama dalam kebaikan dengan siapa saja. Namun, seorang Muslim tetap harus bangga dengan ajaran agamanya dan tidak kehilangan jati dirinya.

Di era modern seperti sekarang, tantangan menjaga identitas semakin besar. Banyak budaya, gaya hidup, dan tren yang datang dari berbagai penjuru dunia. Sebagai Muslim, kita perlu bijak dalam menyikapinya. Ambillah hal-hal yang baik dan bermanfaat, namun jangan sampai mengikis nilai-nilai Islam yang menjadi pedoman hidup kita.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Kisah Asyura juga mengingatkan kita pada kemenangan Nabi Musa AS dan kaumnya yang diselamatkan Allah dari kezaliman Fir'aun. Peristiwa tersebut mengajarkan bahwa pertolongan Allah akan selalu datang kepada orang-orang yang beriman dan bersabar.

Karena itu, mari jadikan Tahun Baru Islam ini sebagai momentum untuk memperkuat iman, memperbanyak amal saleh, mempererat ukhuwah, dan menumbuhkan optimisme dalam menjalani kehidupan. Semoga tahun yang baru ini menjadi tahun yang penuh keberkahan, kedamaian, dan kebaikan bagi kita semua.

Akhirnya, marilah kita berdoa semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, serta membimbing langkah kita agar senantiasa berada di jalan yang diridhai-Nya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Naskah 10: Muharram Bulan Mulia

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil 'alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan kepada kita sehingga dapat memasuki bulan Muharram, bulan pertama dalam kalender Hijriah. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti sunnah beliau hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang sangat dimuliakan dalam Islam. Kemuliaannya ditegaskan langsung oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Artinya: "Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan-bulan itu." (QS. At-Taubah: 36)

Para ulama menjelaskan bahwa empat bulan haram tersebut adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Pada bulan-bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan.

Jamaah yang berbahagia,

Keutamaan Muharram juga dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Muslim:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

Artinya: "Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam." (HR. Muslim)

Perhatikan bagaimana Rasulullah menyebut Muharram sebagai Syahrullah atau "bulan Allah". Penyandaran nama bulan ini kepada Allah menunjukkan betapa istimewa dan mulianya bulan Muharram dibandingkan bulan-bulan lainnya.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Selain sebagai bulan yang penuh keutamaan, Muharram juga menandai dimulainya tahun baru Hijriah. Momentum ini hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai pergantian angka dalam kalender, tetapi juga sebagai waktu untuk melakukan muhasabah, mengevaluasi perjalanan hidup dan ibadah selama setahun yang telah berlalu.

Kita perlu bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kualitas ibadah kita meningkat? Sudahkah kita menjadi pribadi yang lebih baik dari tahun sebelumnya? Ataukah justru masih terjebak dalam kebiasaan dan kesalahan yang sama?

Rasulullah SAW mengingatkan pentingnya terus memperbaiki diri. Karena itu, datangnya Muharram seharusnya membangkitkan semangat baru untuk memperbanyak ibadah, memperkuat hubungan dengan Allah, memperbanyak sedekah, menjaga silaturahmi, dan meningkatkan kepedulian kepada sesama.

Jamaah sekalian,

Mari jadikan bulan Muharram sebagai titik awal perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Kita isi hari-hari di bulan yang mulia ini dengan amal saleh, memperbanyak istighfar, membaca Al-Qur'an, bersedekah, dan melaksanakan puasa sunnah, khususnya puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram yang memiliki keutamaan besar.

Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mampu memanfaatkan kemuliaan bulan Muharram untuk meningkatkan ketakwaan dan meraih keberkahan hidup di dunia maupun akhirat.

Amin ya Rabbal 'alamin.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.