Aksi Heroik Reza Berebut Senpi dengan Maling Motor, Selamat meski Tertembak
Noval Andriansyah June 16, 2026 06:19 PM

Tribunlampung.co.id, Palembang - Di atas kasur tipis di dalam rumahnya yang bersahaja di Jalan Pangeran Antasari, Lorong Ketandan, Kelurahan 14 Ilir, Palembang, Reza Pahlepi (34) hanya bisa terbaring lemas. Sesekali ia meringis menahan perih.

Baca juga: Cerita Niko Lolos dari Maut, meski Ditembak 4 Kali oleh Maling Motor di Lampung

Di balik baju yang dikenakannya, selembar perban putih membentang erat dari samping dada hingga ke pinggang, menutupi luka gores akibat hantaman timah panas yang nyaris merenggut nyawanya, Senin (15/6/2026) malam.

Reza bukanlah seorang polisi, bukan pula petugas keamanan. Ia hanyalah seorang buruh serabutan yang menyambung hidup sebagai pengemudi ojek.

Namun, malam itu, nuraninya bergerak lebih cepat daripada rasa takutnya saat mendengar jeritan meminta tolong dari para tetangganya.

"Waktu itu terdengar warga ribut-ribut teriak. Saya ikut keluar dan ternyata ada maling motor yang kabur dari Alfamart lalu dikejar warga," kenang Reza saat ditemui di kediamannya, Selasa (16/6/2026), dilansir Sripoku.com.

Nekat Duel Tangan Kosong Rebut Senjata Api

Aksi kejar-kejaran yang menegangkan itu berlanjut hingga ke gang sempit di kawasan Lorong Keroncongan. Pelaku percobaan curanmor bernama Ahmad Mustofa yang mulai terdesak karena dikepung massa, tiba-tiba berpapasan langsung dengan Reza.

Tanpa memikirkan keselamatan dirinya sendiri, Reza langsung pasang badan menghadang pelarian sang pelaku.

"Saat saya mau mengamankan, pelaku langsung berontak," cerita Reza.

Situasi kian mencekam ketika pelaku yang panik mendadak mencabut sebilah senjata api dari balik pinggangnya untuk menakut-nakuti warga.

Berada di posisi paling depan dan paling dekat dengan bahaya, Reza tidak mundur selangkah pun. Ia justru merangsek maju, mencengkeram tangan pelaku, dan mencoba merebut pistol tersebut hingga terjadi aksi tarik-menarik yang dramatis.

Dalam pergulatan hidup dan mati itu, suara ledakan menggelegar sebanyak tiga kali. Satu peluru pertama bersarang di tubuh Reza, menggores kulit dadanya dengan sangat fatal sebelum ia akhirnya ambruk.

Meski Reza roboh bersimbah darah, aksi heroiknya berhasil mengulur waktu bagi warga lain untuk mengepung pelaku yang sempat membacok warga lain dan kabur ke semak-semak, hingga akhirnya pelaku berhasil diringkus massa.

"Setelah saya tertembak, saya langsung dibawa warga berobat ke rumah sakit, jadi tidak tahu proses penangkapan pelaku sampai tuntas," ungkapnya lirih.

Berkah di Balik Ketulusan dan Keterbatasan

Bagi seorang buruh serabutan seperti Reza, urusan perut hari esok adalah perjuangan harian yang berat, apalagi ditambah dengan urusan biaya rumah sakit yang mencekik.

Saat dilarikan ke ruang instalasi gawat darurat, pikiran Reza sempat kalut memikirkan bagaimana cara membayar pengobatan medisnya, mengingat ia tidak memiliki simpanan finansial sama sekali.

Namun, ketulusan dan keberaniannya berbuah manis. Malam itu juga, Kapolrestabes Palembang datang langsung menjenguknya di bangsal rumah sakit dan menyatakan akan menanggung seluruh biaya perawatan Reza hingga sembuh total sebagai bentuk apresiasi atas aksi heroiknya membantu tugas kepolisian.

"Semalam ada Pak Kapolrestabes datang ke rumah sakit. Biaya perawatan ditanggung beliau. Saya bersyukur sekali, karena kalau pakai uang sendiri saya memang tidak ada biaya, kerja cuma serabutan dan ngojek," tutup Reza dengan mata berkaca-kaca, menyiratkan rasa syukur yang mendalam di balik luka yang dideritanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.