Menjawab Tantangan Ketenagakerjaan, Ketua DPRD Sikka Dorong LPK Sanbela dalam Peningkatan SDM
Hilarius Ninu June 16, 2026 08:42 PM

 

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Ketua DPRD Sikka, Stefanus Sumandi, mendukung langkah strategis SMK Santa Elisabeth Lela dan Yayasan Simpul Indonesia dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Kabupaten Sikka melalui Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). 

Hal tersebut disampikan Stefanus Sumandi, saat menghadiri peluncuran Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Gas Kerja Santa Elisabeth Lela (Sanbela) di Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (16/6/2026). LPK ini merupakan hasil kolaborasi antara SMK Santa Elisabeth Lela dan Yayasan Simpul Indonesia.

"Lela ini satu-satunya dulu sekolah yang kualitasnya bagus. Saya kira tamatan dari SPK (sekarang SMK) Lela dulu telah melayani banyak orang di Kabupaten Sikka ini di mana saja. Sehingga kalau mau belajar dari sejarah, sebenarnya kita punya hutang sejarah terhadap sekolah ini," ujar Stefanus.

Baca juga: Luncurkan LPK Sanbela, SMK St Elisabeth Lela dan Simpul Indonesia Cetak Tenaga Kerja Terampil

Komitmen Politik Anggaran Daerah

Meskipun kewenangan administrasi dan pengelolaan SMA/SMK berada di tingkat pemerintah provinsi, Stefanus memastikan bahwa DPRD Sikka membuka ruang koordinasi bersama pemerintah daerah untuk mengalokasikan dukungan dana.

Dukungan tersebut, lanjut Stefanus, akan diformulasikan secara akuntabel demi keberlanjutan pusat pelatihan kerja di daerah.

"Kalau pun nanti kami akan berbagi anggaran, itu dalam bentuk hibah. Dan kalau hibah, tidak bisa setiap tahun, dia sesekali manakala dalam kajian pemerintah itu untuk kebutuhan pembangunan daerah mencukupi, kita bantu. Tapi secara teknis nanti dengan Bapak Bupati melalui Pak Sekda, kami di DPRD sekiranya itu kalau sudah ditelaah, kemudian kita bisa tentukan secara politik anggaran bisa memastikan itu," tegas Stefanus.

Baca juga: Wabup Sikka : Kami Mau Tata Pasar Alok Maumere Biar Rapi

Soroti Karakter dan Daya Juang SDM Sikka

Di hadapan para tokoh, Stefanus membeberkan data krusial kondisi ketenagakerjaan daerah. Berdasarkan data tahun 2025, sebanyak 70 persen masyarakat Kabupaten Sikka tercatat belum atau tidak tamat SMP. Di sisi lain, angka pengangguran dari kalangan lulusan menengah atas hingga sarjana justru tetap tinggi.

Menurut Stefanus, akar masalah ketidakserapan kerja ini bukan terletak pada minimnya penguasaan teori, melainkan rapuhnya aspek mentalitas pekerja.

"Menurut saya, yang kurang dari kita itu bukan ilmu pengetahuan dan keterampilan, tetapi karakter daya juang kita itu kurang. Sehingga adik-adik kita yang tamat SMP, pertanian, peternakan ke kampung, mereka bukan mengolah lahan pertanian atau mengolah ternak, tetapi mereka memilih usaha jasa ojek yang lebih mudah," ungkapnya kritis.

Oleh sebab itu, pihak legislatif menyambut baik kehadiran LPK Sanbela yang menempatkan pembentukan karakter dan etika kerja sebagai salah satu keuntungan (benefit) program utamanya, selain pengajaran keahlian teknis seperti perawat lansia (caregiver), perawat bayi (baby sitter), dan terapis.

"Kita masih punya optimisme ke depan bahwa melalui sekolah-sekolah kita, dan ditambah lagi dengan LPK yang masuk ke sekolah, bukan hanya warga sekolah yang dilatih keterampilan dan karakternya, tetapi juga kita mengharapkan saudara-saudara kita yang putus sekolah bisa mereka belajar di sini," kata Stefanus.

Ia menganalogikan para tenaga kerja terampil yang akan dikirim ke luar daerah maupun luar negeri ini layaknya seorang misionaris awam yang membawa martabat daerah asal mereka.

"Sebelum mereka pergi, ya kita bentuk mereka dengan keutuhan pribadinya, keterampilan, pengetahuan, dan juga karakternya. Supaya dia ke sana, dia tidak hanya membawa dirinya, tetapi dia membawa tentang siapa kita, masyarakat Kabupaten Sikka. Sehingga keutuhan dari kepribadian mereka itu akan mewartakan kabar sukacita di daerah rantauan," tambahnya.

Penjajakan Sektor Pertanian Terpadu

Selain membenahi sektor pendidikan vokasi, Ketua DPRD Sikka juga langsung menantang perwakilan Yayasan Simpul Indonesia, Rusli Kuswanto, untuk menduplikasi sistem pertanian organik terpadu di Sikka guna merawat ekologi tanah yang dinilai mengalami degradasi sejak era Revolusi Hijau (1969–1998).

"Saya ingin mengundang Yayasan Simpul untuk bersama Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, sebentar nanti melalui Pak Sekda saya kira bisa lebih secara teknisnya. Di komunitas kelompok-kelompok tani, kami di beberapa kecamatan bergandengan tangan dengan Pastor Paroki membentuk komunitas kecil yang bergerak di pertanian organik. Saya kira itu sebagai embrio untuk bisa kita kembangkan lebih luas supaya pertanian kita tidak bergantung pada mekanisme kapitalis," ujar Stefanus.

Solusi Konkret Memutus Pengangguran

Peluncuran LPK Gas Kerja Sanbela yang berpusat di Jalan Raya Lela ini diawali dengan misa syukur yang dipimpin langsung oleh Uskup Maumere, Mgr. Ewaldus Martinus Sedu. Acara ini juga dihadiri oleh Sekretaris Daerah Sikka Adrianus Firminus Parera serta Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT Wilayah IV Rofinus Laga Lamawato.

Berdasarkan data dinas pendidikan, angka keterserapan lulusan SMK di dunia kerja saat ini masih di bawah 10 persen akibat kurikulum yang kurang relevan dengan industri. Kolaborasi SMK Lela dan Yayasan Simpul Indonesia ini menjadi pilot project pertama di NTT untuk mempercepat penempatan kerja secara legal dan dilindungi.

Pada angkatan pertama ini, lembaga langsung memberikan pelatihan gratis dan memberangkatkan lima orang siswi alumnus SMK Santa Elisabeth Lela ke lokasi penempatan tanpa dibebankan modal biaya awal, melainkan menggunakan skema sirkulasi potong gaji berkala setelah mereka resmi menerima penghasilan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.