TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Satu tahun sudah Sekolah Rakyat (SR) Rintisan berjalan di berbagai daerah.
Mulai dari jenjang SD, SMP, hingga SMA sudah berlangsung tahun pertama pendidikan.
Di Kabupaten Jepara, 75 siswa jenjang pendidikan SD menjadi bagian dari berlangsungnya Sekolah Rakyat Dasar 1 Jepara.
Baca juga: UPDATE Pembangunan Sekolah Rakyat di Cilacap, Tahun Pertama Terima 270 Siswa
Para siswa dari berbagai background kondisi berbaur dalam satu lokasi.
Belajar dan bermain bersama, membawa satu tekad dan semangat menuju cita-cita yang mulia.
Satu potret unik datang dari sosok Rangga Sidiq Saputra (9).
Siswa kelas 3 SRD 1 Jepara itu menjadi satu di antara siswa SR yang ekspresif.
Dia gemar mengikuti berbagai kegiatan ekstra yang menjadi program SRD 1 Jepara.
Mulai dari sepakbola, pramuka, pencaksilat, dan beberapa ekstra pendidikan lainnya.
Rangga juga gemar bermain pianika untuk menghibur diri dan teman-temannya selama berkegiatan di sekolah rakyat.
Di balik keceriaan laki-laki 9 tahun itu, terlukis kisah perjuangan yang menjadi cerita hebat, bagaimana Rangga sudah bisa hidup dan menghidupi keluarga.
Mulai dari mencari sejumput penghasilan dari kegiatan memulung, masak dan cuci baju sendiri, bahkan bagaimana dia ikut andil dalam membantu kecukupan kebutuhan sehari-hari bersama nenek, buyut, dan dua adik kandungnya.
Rangga Sidiq Saputra merupakan bagian dari 75 siswa SRD 1 Jepara yang terpilih.
Dia merupakan putra pertama dari tiga bersaudara yang kini tinggal di Desa Pecangaan Kulon, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara.
Meski usianya belum genap 10 tahun, Rangga dipaksa dewasa lebih cepat oleh keadaan.
Kedua orangtuanya bahkan meninggalkan Rangga dan kedua adiknya bertahun-tahun tanpa kabar.
Rangga pun harus berperan sebagai kakak sekaligus ayah bagi kedua adiknya.
Mulai dari memasak kebutuhan keluarga, menemani adik-adiknya bermain, juga mengantarkannya ke sekolah.
Tak hanya itu, dia juga membantu neneknya mencari uang dengan cara memulung sampah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Setidaknya agar kebutuhan makan satu keluarga yang terdiri dari seorang nenek, buyut, rangga dan kedua adik rangga berkecukupan dan tidak kekurangan.
Menjadi pemulung rosok atau barang bekas sudah dilakukan Rangga sejak duduk di bangku sekolah jenjang TK.
Kondisi keadaan yang memaksanya terlibat langsung bekerja mulung sejak dini.
Sedangkan beban ekonomi keluarga Rangga tidak bisa hanya mengandalkan neneknya sebagai tulang punggung keluarga satu-satunya.
Belum lagi sang nenek harus mengurus keperluan dua adiknya yang masih membutuhkan campur tangan orang dewasa.
Saat ditemui di sela-sela kegiatan di Asrama Sekolah Rakyat Dasar (SRD) 1 Jepara, Rangga bercerita, dia membantu neneknya menjadi tukang rosok (pemulung) berjalan kurang lebih tiga tahun karena keinginannya.
Biasanya dia mencari barang bekas pagi hari sebelum sekolah dan siang hari selepas pulang sekolah.
Sesekali dia juga memulung di waktu sore hari jika tidak ada kegiatan.
Tak heran jika dia sering kali terlambat sekolah karena terlalu asik mulung barang bekas dari satu desa ke desa lain, hingga tidak mengenal waktu dan kewajibannya sebagai peserta didik.
Semua itu dilakukan bukan karena abai akan tanggungjawabnya untuk belajar, namun lebih berharap bisa mengumpulkan rosok sebanyak-banyaknya agar bisa mendapatkan sedikit tambahan penghasilan untuk nenek.
"Dari TK cari rosoknya. Awalnya bareng mbah, terus jalan sendiri. Seringnya keluar desa nanti pulang lagi. Ada botol, tembaga, kardus, kaleng, besi, pokoknya banyaklah yang bisa dijual," terangnya, Selasa (16/6/2026).
Sebelum menjadi siswa SRD 1 Jepara, Rangga merupakan siswa sekolah dasar di wilayah Kecamatan Pecangaan.
Dia tidak pernah malu dari teman-temannya hanya karena kesibukan menjadi pemulung.
Bahkan, di usianya yang belum genap sepuluh tahun itu, Rangga lebih bangga bisa mendapatkan uang dengan cara halal, meski tak jarang dia terlambat sekolah.
Bagi dia, sedikit pendapatannya dari hasil mulung lebih berharga dan bisa membantu neneknya dalam mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari.
Tidak hanya soal makanan semata, juga kebutuhan lain terkait sabun mandi, sabun cuci, baju bahkan perabot rumah seperti lemari hingga perlengkapan dapur.
"Rosoknya dikumpulin dulu biar banyak, kalau sudah banyak baru jual ke tukang rosok (pengepul). Uangnya ditabung, setiap jual biasanya seminggu sekali Rp 50.000 - 100.000.
Kalau sudah banyak (tabungannya), baru dikasihkan mbah buat beli beras, kompor, gas, sabun, biar bisa makan," tuturnya.
Kisah perjalanan hidup yang tidak mudah bagi Rangga, namun dia tidak pernah mengeluh dengan kondisi yang dialami.
Dalam tutur dia bercerita tersirat rasa sayang yang begitu dalam dari seorang Rangga kepada neneknya, kedua adiknya, bahkan mbah buyutnya yang kini tinggal dalam satu atap.
Rasa sayangnya yang besar juga tertuju kepada orangtuanya, meski kini meninggalkan dia dan adik-adiknya tanpa kabar.
Buah kesabaran seorang anak laki-laki 9 tahun itu terbayar. Disaat sedang sibuk mulung, Rangga diajak menjadi bagian dari siswa Sekolah Rakyat Dasar di Jepara.
Ajakan tersebut direspons baik oleh neneknya dengan mengizinkan sang cucu memulai jalan panjang menempuh pendidikan baru yang dinilai bisa menjamin fasilitas lebih layak.
Minimal Rangga sudah bisa mengenyam pendidikan gratis hingga jenjang SMA sederajat nanti dengan jaminan asrama sebagai tempat tinggal dan makan yang cukup setiap harinya.
Dukungan sang nenek memantapkan tekad Rangga pindah dari sekolah lama ke tempat baru bernama Sekolah Rakyat.
Sekaligus memulai babak baru bagi Rangga untuk menata ulang cita-cita yang sempat terkubur saat disibukkan membantu sang nenek mencari sesuap nasi.
"Setelah pindah dari sekolah lama ke sini (Sekolah Rakyat), sudah enggak mulung lagi. Sehari-hari belajar, main, tidur ya di sini," ujar dia.
Sekuat apapun hati Rangga, dia tetaplah anak kecil yang masih membutuhkan kasih sayang orang dewasa.
Dengan mata berkaca-kaca, Rangga mengaku sedih karena tidak bisa lagi membantu neneknya mancari uang.
Kini dia juga tidak bisa lagi membersamai adik-adiknya setiap hari. Tidak bisa bermain bersama untuk satu misi menyongsong cita-cita dan harapan.
Rasa rindu itu pun sering kali muncul membersamai proses rangga belajar di Sekolah Rakyat. Menjadi teman sekaligus semangat dan motivasi dia agar belajar lebih giat, guna mengangkat martabat keluarga.
Sebagai seorang anak, Rangga selalu ingat pesan sang nenek yang memintanya belajar lebih rajin lagi di tempat baru, semata-mata agar bisa mewujudkan apa yang dicita-citakan.
Dia juga diingatkan agar tidak khawatir dengan adik-adiknya yang kini dijaga dan dirawat sepenuh hati oleh nenek Rangga.
"Kalau kangen adek dan mbah, kadang datang jengukin ke sini. Tapi jarang, enggak setiap bulan. Mbah cuma bilang belajar yang rajin, enggak usah mulung lagi. Jadi harus belajar yang rajin apa kata mbah," ucapnya.
Rangga masuk ke Sekolah Rakyat membawa mimpi besar.
Dia dipungut dari pemulung demi mewujudkan satu cita-cita menjadi pilot, agar bisa menerbangkan pesawat ke berbagai negara tujuan.
Satu harapan mulianya adalah ingin mengajak nenek dan adik-adiknya bisa naik pesawat terbang berkunjung ke tempat-tempat yang jauh.
Impian tersebut sudah ada sejak Rangga duduk di bangku sekolah dasar kelas 1.
Saat itu, dia sering membuat pesawat mainan dari kertas sebagai gambaran cita-cita yang diimpikan.
Tak hanya itu, dia bahkan pernah juara lomba kreasi anak di sekolahnya saat berada di kelas 2 SD dengan membuat pesawat menggunakan rosok yang dikumpulkan.
Sejak saat itu, menjadi pilot menjadi tujuannya yang ingin dicapai. Meski cita-cita itu muncul di kala usia Rangga masih sangat belia, namun kecintaannya pada dunia penerbangan cukup tinggi.
Bahkan dia mengenal sosok Bacharuddin Jusuf Habibie sebagai bapak teknologi Indonesia yang namanya tersohor tidak hanya sebagai Presiden Indonesia ketiga, juga tidak terlepas dari dunia teknologi penerbangan (pesawat).
"Mau jadi itu seperti Pak Habibie, tapi enggak buat pesawatnya, mau jadi pilotnya saja biar bisa menerbangkan pesawat," tutur dia.
Pandai Mengolah Masakan
Selain gemar dalam berbagai bidang kompetensi, Rangga juga pandai dalam mengolah masakan. Mulai dari menu nasi goreng, ayam krispy, sayur kangkung, sayur bayam dan beberapa menu masakan lain sudah pernah dibuat.
Kemampuannya dalam memasak itu hasil didikan neneknya. Saat sang nenek capek atau sedang memulung, Rangga dipercaya sebagai juru masak keluarga setiap sore hari untuk menu makan malam.
Dia juga dilatih oleh neneknya menjadi pribadi yang tidak gampang mengeluh dengan keadaan.
Dan selalu dididik untuk bekerja lebih keras dengan modal tenaga dan semangat juang.
"Bisa masak sendiri itu sejak kelas 2 SD diajarin mbah. Kalau mbah di rumah sore hari yang masak mbah, kalau eggak ada mbah ya masak sendiri untuk adik juga," kata dia.
Di sekolah rakyat rintisan, Rangga kini memiliki puluhan teman bermain dan belajar.
Dia bahkan merasakan sosok orangtua dengan hadirnya guru, wali asuh dan wali asrama yang menemaninya 24 jam tanpa putus.
Dia juga kini sudah bisa merasakan makan dengan enak tanpa beban bagaimana mendapatkannya. Meski terkadang Rangga teringat dengan kedua adiknya yang ada di rumah.
Kepala Sekolah Rakyat Dasar (RSD) 1, Asri Linda Listyaningrum (49) menyampaikan, saat ini ada 75 siswa yang belajar di SRD 1 Jepara. Terdiri dari 37 siswa putra, dan sisanya siswa putri.
Kata dia, semua kegiatan siswa dipantau dan dimonitoring oleh 3 guru kelas, dua guru bantuan olahraga dan PAI, 4 tenaga kependidikan, 5 wali asrama dan 12 wali asuh.
Sekolah Rakyat Dasar 1 Jepara sebagai rintisan diresmikan pada 30 November 2025.
Setiap siswa mengikuti rangkaian kegiatan pendidikan dan kegiatan asrama dengan pantauan wali asrama dan wali asuh.
Selain kegiatan pendidikan, ada juga kegiatan ekstra yang menjadi tambahan skill bagi siswa SR.
Baca juga: Pemkab Batang Kejar Pembangunan Sekolah Rakyat, Diproyeksi Dongkrak Ekonomi Warga Subah
Khusus di SRD 1 Jepara, ada tujuh kegiatan ekstra mulai dari tari, tahfidz, sepakbola, pramuka, pencaksilat, rebana, juga kursus bahasa Inggris.
Masing-masing siswa dipersilakan untuk memilih jenis ekstra yang diinginkan.
Kecuali ekstra pramuka wajib diikuti semua anak didik. (Sam)