Petambak Udang Sitto Pangkep Rindukan Harga Ekspor di Era Krismon, Dollar AS Rp12 Ribu
Edi Sumardi June 17, 2026 06:20 AM

PANGKAJENE, TRIBUN-TIMUR.COM - Nelayan dan pengusaha tambak udang sitto atau udang windu (Penaeus monodon) di Kabupaten Pangkep dan Maros, Sulawesi Selatan mulai kembali bergairah dalam tiga tahun terakhir.

Harga komoditas perikanan unggulan tersebut naik, meski hingga kini pemasarannya masih didominasi pasar domestik.

Produksi udang windu dari kedua daerah pesisir Sulawesi Selatan itu sebagian besar diserap oleh pasar lokal, restoran, hotel, dan rumah makan.

Kondisi tersebut berbeda dengan masa kejayaan udang windu pada era krisis moneter akhir 1990-an ketika komoditas ini menjadi primadona ekspor.

"Sayang sekali, udang sitto kita belum bisa menembus pasar ekspor seperti saat krisis moneter dulu," kata Haji Jafar (55), petani sekaligus pengusaha tambak udang windu asal Kampung Bulubulu, Kelurahan Boriappaka, Kecamatan Pangkajene, Kabupaten Pangkep, Selasa (16/6/2026).

Hal senada disampaikan Zainal Abidin Tekko (63), pembenih udang windu asal Tumalia, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros.

Menurutnya, minat petambak terhadap benur udang windu masih rendah karena harga jual hasil panennya belum cukup menarik dibanding komoditas lain.

"Sekarang menjual benur udang sitto hampir sama seperti menjual nener bandeng. Peminatnya masih sedikit karena harga jual udangnya relatif rendah," ujarnya saat ditemui di Maccopa, Maros.

Haji Jafar mengenang, sebelum dan saat krisis moneter 1997–1998, udang windu menjadi komoditas yang sangat menguntungkan bagi masyarakat pesisir Sulawesi Selatan.

Menurutnya, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat saat itu justru mendongkrak nilai ekspor udang windu secara signifikan.

"Bayangkan, ketika dolar melonjak dari sekitar Rp2.500 menjadi Rp10.000 hingga Rp12.000 per dolar AS, harga udang sitto yang sebelumnya sekitar Rp20.000 per kilogram langsung naik menjadi sekitar Rp75.000 per kilogram," katanya mengenang.

Ia mengatakan, pada masa itu banyak investor dari Jepang dan Taiwan membangun fasilitas penyimpanan dingin (cold storage) di Makassar untuk mendukung ekspor hasil perikanan Sulawesi Selatan.

Menurutnya, sejumlah perusahaan nasional, termasuk Grup Bosowa, turut menikmati masa keemasan industri udang windu tersebut.

Haji Jafar meyakini bahwa apabila akses ekspor kembali terbuka luas dan mampu memenuhi standar mutu internasional, harga udang windu berpotensi mencapai Rp180.000 hingga Rp200.000 per kilogram.

Dalam beberapa pekan terakhir, nilai tukar rupiah sempat berada di kisaran Rp18.000 per dolar AS. Kondisi ini dinilai dapat menjadi peluang bagi komoditas ekspor, termasuk udang windu.

Ia menambahkan, sejak pemulihan ekonomi pascapandemi, harga udang windu ukuran sedang kembali menembus Rp120.000 per kilogram setelah sebelumnya berada di bawah Rp100.000 per kilogram.

Berdasarkan data perdagangan dan perikanan di Kabupaten Pangkep, harga udang windu pada Mei hingga Juni 2026 terbagi dalam beberapa kategori:

Ukuran jumbo (10–20 ekor/kg): Rp220.000–Rp350.000 per kilogram.

Ukuran sedang (30–35 ekor/kg): Rp130.000–Rp195.000 per kilogram.

Ukuran kecil: Rp95.000–Rp120.000 per kilogram.

Meski harga mulai membaik, sebagian besar produksi udang windu dari Pangkep, Maros, Barru, dan Pinrang masih dipasarkan di dalam negeri.

Berbeda dengan masa lalu ketika hasil panen udang windu Sulawesi Selatan dapat diekspor ke Jepang, Hong Kong, Singapura, China, hingga Amerika Serikat.

Di Kabupaten Pangkep, budidaya udang windu masih dilakukan secara tradisional dan semiintensif, terutama di Kecamatan Marang, Pangkajene, Bungoro, dan sebagian wilayah lainnya.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Pangkep, Arsyad Djamal Hatibu, mengatakan sentra produksi udang windu saat ini masih terkonsentrasi di Kecamatan Marang dan Pangkajene.

"Kalau di Labakkang, sebagian petambak masih membudidayakan bandeng, tetapi banyak yang mulai beralih ke udang vaname dan rumput laut," ujarnya.

Alumnus Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin tersebut menjelaskan, produksi udang windu di Pangkep dalam lima tahun terakhir rata-rata masih berada di bawah 510 ton per tahun.

"Sekarang sulit lagi menembus produksi 1.000 ton per tahun, apalagi menyamai masa kejayaan krisis moneter ketika produksinya pernah mencapai sekitar 12.000 ton per tahun," katanya.

Saat ini luas kawasan tambak budidaya di Kabupaten Pangkep tercatat sekitar 12.561 hektare.

Luasan tersebut berkurang sekitar 2.000 hektare dibanding dua dekade lalu akibat alih fungsi lahan menjadi kawasan permukiman, perumahan, dan tambak wisata.

Arsyad menambahkan, sentra budidaya udang windu kini terbesar berada di Kecamatan Marang dan Pangkajene, sedangkan di Segeri dan Mandalle jumlahnya relatif lebih sedikit.

"Di Bungoro pada 2025 hampir tidak ada lagi produksi udang windu. Sementara di Labakkang dan Minasatene masih tersisa dalam jumlah terbatas," ujarnya.

Ia menjelaskan, tujuh dari 15 kecamatan di Kabupaten Pangkep kini mulai berkembang menjadi sentra budidaya rumput laut karena dianggap lebih mudah dikelola, tahan terhadap perubahan cuaca, serta memiliki harga yang relatif stabil.

Menurutnya, pergeseran komoditas dari udang windu ke rumput laut dan udang vaname dipengaruhi faktor ekonomi maupun perubahan pola usaha petambak.

Padahal, Kecamatan Labakkang hingga kini masih tercatat sebagai salah satu wilayah dengan lahan budidaya perikanan terluas di Kabupaten Pangkep.

Sementara itu, berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Selatan, dalam satu dekade terakhir hanya udang windu asal Kabupaten Pinrang yang secara konsisten mampu menembus pasar ekspor, terutama ke Jepang, Hong Kong, dan Singapura.

Di Kabupaten Pinrang, kawasan budidaya udang windu ramah lingkungan di Kecamatan Lanrisang dan Waetuoe dikelola dengan pendekatan yang lebih modern serta meminimalkan penggunaan bahan kimia dalam proses budidaya.

Dari total luas areal tambak sekitar 15.026 hektare, kawasan Lanrisang dan Waetuoe menjadi salah satu sentra utama pengembangan udang windu yang berorientasi pada pasar ekspor.(thamzil thahir)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.