TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Agama (Kemenag) mulai menyusun standarisasi kosa isyarat keagamaan bagi kelompok disabilitas sensorik rungu wicara (Tuli) di Indonesia.
Program Kosa Isyarat Keislaman Indonesia (KOSMIN) ini diluncurkan untuk memetakan serta menyatukan bahasa isyarat istilah-istilah keislaman yang selama ini belum memiliki standar baku.
Baca juga: Bicara Lewat Warisan Budaya: Cerita Tangan Istimewa Anak-anak Tuna Rungu di Rumah Batik TBIG
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad, mengatakan penyusunan KOSMIN dilatarbelakangi banyaknya istilah keagamaan yang selama ini membingungkan sahabat Tuli.
"Istilah-istilah yang terkait dengan keislaman itu cukup banyak, tetapi belum ada standar yang menyatukan teman-teman Tuli ketika mengungkapkan pikiran atau menyampaikan penjelasan," kata Abu dalam keterangan tertulis, Rabu (17/6/2026).
"Konon, konsep mendasar tentang surga dan neraka saja belum ada kesepakatan isyarat bakunya. Termasuk istilah fikih harian seperti haid, nifas, istihadhah, hingga mimpi basah. Oleh karena itu, Kemenag hadir untuk memberikan capaian luar biasa berupa standarisasi ini," tambahnya.
Kick-Off KOSMIN digelar bertepatan peringatan Tahun Baru Islam, 1 Muharam 1448 Hijriah, di Masjid Istiqlal, Jakarta.
Kementerian Agama telah menuntaskan penyusunan Master Al-Qur'an Isyarat, lengkap beserta komponen tafsirnya.
Tahun ini, Kemenag akan menyelesaikan standarisasi kosa isyarat keislaman agar literasi keagamaan bagi sahabt Tuli dapat paripurna.
Melalui momentum Tahun Baru Hijriah ini, Kemenag juga mengajak generasi muda untuk inklusif.
"Kami mengajak, terutama bagi generasi muda, Gen Z, untuk mengisi hari ini hingga hari-hari ke depan di tahun baru ini dengan berbagai macam kegiatan yang positif," katanyam
Acara kick-off ini ditutup dengan prosesi simbolik. Menteri Agama bersama jajaran pejabat Eselon I, staf khusus, dan seluruh peserta yang hadir di atas panggung melakukan tepuk tangan isyarat bersama komunitas Tuli muslim se-Indonesia.