TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pelaku industri kreatif di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang memproduksi mebel, home decor, hingga batik kini dihadapkan pada tantangan baru di pasar global.
Tidak lagi sekadar mengandalkan keunikan dan kualitas visual, para perajin lokal kini dituntut mampu membuktikan transparansi, keberlanjutan, serta ketertelusuran produk mereka secara digital.
Menjawab tantangan tersebut, PERURI meluncurkan teknologi inovatif bernama PERURI RFID Blockchain. Inovasi ini merupakan solusi terintegrasi hasil kolaborasi antara PERURI Smart Card, PERURI Digital Security, dan PUNDI untuk memberikan Digital Product Passport (DPP) serta jaminan keaslian yang dapat diverifikasi secara global.
CEO PUNDI Group dan INA Trading, Amiranto Adi Wibowo, menekankan pentingnya adopsi teknologi ini bagi para eksportir lokal untuk menembus regulasi ketat di berbagai belahan dunia, khususnya Uni Eropa.
“Digital Product Passport wajib dimiliki oleh pelaku usaha karena pembeli internasional membutuhkan kepastian asal-usul produk dan keaslian dokumen ekspor,“ ujar Amiranto dalam acara Seminar & Kurasi Jaminan Ke-ASLI-an Produk Yogyakarta dengan PERURI RFID Blockchain & Kurasi di Yogyakarta, beberapa waktu lalu. Agenda ini turut dihadiri oleh Direktur Keuangan & Manajemen Risiko PERURI, Fajar Rizki, serta Ketua YAPETRI, Syahril.
Melalui platform INA Trading, teknologi ini tidak hanya mengunci aspek keaslian, tetapi juga merekam carbon footprint atau jejak karbon sepanjang proses produksi.
Seluruh emisi dari transportasi berbahan bakar fosil, konsumsi energi pabrik atau oven pengolahan, hingga aktivitas manufaktur akan tercatat transparan.
Baca juga: Dishub DIY Gelar Bimtek Kelistrikan bagi Pengemudi Becak Listrik dan Andong
CEO PERURI Smart Card, Muchrizal, memberikan ilustrasi nyata pemanfaatan teknologi RFID ini pada salah satu komoditas unggulan Yogyakarta.
“Sebuah produk kerajinan bambu dari Yogyakarta kini dapat memiliki rekam jejak digital lengkap sejak tahap budidaya. Proses panen, transportasi, pengeringan, produksi oleh perajin, hingga distribusi ke pasar internasional semuanya tercatat dalam Digital Product Passport,” papar Muchrizal.
Ketika produk tiba di tangan pembeli di Eropa atau negara tujuan lainnya, mereka cukup memindai (scanning) stiker RFID yang tertanam pada produk tersebut menggunakan aplikasi mobile INA Trading.
Seketika, informasi mengenai asal bahan baku, identitas perajin, jejak karbon, sertifikasi, hingga status keaslian produk berbasis blockchain akan langsung terpampang.
Di sisi keamanan, PERURI Digital Security mengamankan data-data sensitif tersebut lewat teknologi digital sign dan smart contract untuk mencegah manipulasi data.
Langkah proteksi ini dinilai sangat krusial mengingat ketatnya hukum internasional terkait rantaian pasok berkelanjutan (sustainability reporting, ESG, dan circular economy) di Uni Eropa, Amerika Serikat, Australia, Jepang, hingga Korea Selatan.
Jika pelaku usaha tidak mampu beradaptasi secara digital, produk mereka di masa depan terancam menghadapi hambatan perdagangan serta penolakan pasar di negara-negara ekonomi maju.
Pemerhati Blockchain, Ginung Pratidina, menambahkan bahwa inovasi ini menjadi fondasi baru yang mengangkat level daya saing produk lokal.
“Melalui PERURI RFID Blockchain, kami ingin memastikan produk Indonesia tidak hanya dikenal indah, tapi juga siap memenuhi standar perdagangan internasional yang terus berkembang,” katanya.
Sebagai langkah awal, produk-produk Yogyakarta yang berhasil lolos kurasi dalam ajang ini akan langsung dikirim ke pasar Eropa dengan ditempeli stiker khusus PERURI RFID Blockchain, memberikan garansi penuh bagi konsumen global bahwa produk yang mereka beli adalah produk yang asli, ramah lingkungan, dan terlacak dengan sempurna. (*)