Pasar Trasidional di Semarang Sepi Aktivitas, Pemerintah Perlu Pahami Perilaku Konsumen
Vito June 17, 2026 10:55 PM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Deretan kios kosong, lorong yang lengang, hingga lapak yang berubah fungsi menjadi tempat penyimpanan barang bekas menjadi pemandangan yang ditemukan DPRD Kota Semarang saat meninjau sejumlah pasar tradisional.

Kondisi itu memunculkan kekhawatiran bahwa revitalisasi pasar yang selama ini identik dengan pembangunan fisik belum tentu mampu menghidupkan kembali aktivitas perdagangan.

Komisi B DPRD Kota Semarang pun meminta Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Semarang tidak terburu-buru membangun ulang pasar yang sepi.

Sebelum anggaran digelontorkan, pemerintah diminta melakukan kajian mendalam agar pasar yang direvitalisasi tidak kembali menjadi bangunan kosong.

Ketua Komisi B DPRD Kota Semarang, Joko Widodo mengatakan, saat ini terdapat sedikitnya delapan pasar tradisional yang membutuhkan perhatian serius karena aktivitas perdagangannya terus menurun.

"Kami meminta Dinas Perdagangan melakukan kajian yang komprehensif. Jangan hanya merobohkan lalu membangun kembali pasar, tetapi harus dipastikan terlebih dahulu fungsi dan konsep pengembangannya agar benar-benar bermanfaat," katanya, Rabu (17/6).

Satu pasar yang menjadi sorotan adalah Pasar Tanah Mas. Saat melakukan inspeksi mendadak, DPRD menemukan sebagian besar kios sudah tidak lagi digunakan untuk berdagang.

Bahkan, beberapa ruang berubah fungsi menjadi tempat tidur dan gudang penyimpanan barang bekas.

"Di Pasar Tanah Mas tinggal beberapa kios yang digunakan, selebihnya kosong. Bahkan, ada yang menjadi tempat tidur dan penyimpanan rongsokan," bebernya.

Selain Pasar Tanah Mas, Joko menyebut, pasar lain yang masuk daftar evaluasi yakni Pasar Gedawang, Pasar Banjardowo, Pasar Mateseh, Pasar Klitikan Waru, Pasar Udan Riris, Pasar Banyumanik, dan Pasar Surya Kusuma.

Menurut dia,  Ia menilai, revitalisasi tidak harus selalu berujung pada pembangunan pasar baru.

Pemerintah perlu melihat potensi kawasan dan kebutuhan masyarakat yang terus berubah.

"Kalau memang lebih cocok menjadi sentra kuliner atau fungsi ekonomi lainnya, itu bisa dipertimbangkan. Yang penting setelah dibangun tidak kembali sepi," ucapnya.

Temuan menarik juga didapat saat DPRD meninjau Pasar Sampangan. Pasar itu masih tergolong ramai dan memiliki potensi ekonomi cukup besar. Namun, lantai atas bangunan pasar belum termanfaatkan secara maksimal.

Dia menambahkan, fenomena serupa ternyata banyak ditemukan di pasar-pasar tradisional Kota Semarang. Aktivitas perdagangan cenderung terkonsentrasi di lantai dasar, sementara lantai atas sepi pengunjung.

"Basement dan lantai bawah ramai, tetapi lantai atas tidak berfungsi. Ini harus menjadi bahan evaluasi agar pengembangan pasar ke depan benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat," tukasnya.

Menurutnya, perubahan pola belanja masyarakat menjadi satu penyebab menurunnya aktivitas pasar tradisional.

Selain itu, menjamurnya pedagang kaki lima dan pusat perdagangan alternatif di luar pasar turut memengaruhi jumlah pengunjung.

Karena itu, Joko mengungkapkan, revitalisasi pasar tidak cukup hanya mempercantik bangunan.

Pemerintah perlu memahami perubahan perilaku konsumen agar pasar tetap relevan dan mampu bersaing di tengah perkembangan kota.

"Kami berharap sejak sekarang Disdag menyiapkan kajian secara matang, sehingga pada 2027 program revitalisasi pasar bisa tepat sasaran dan memberikan dampak nyata bagi perekonomian masyarakat," tuturnya. (Budi Susanto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.