Tanggapan Wakil Rektor UMY Soal Modus Aparat Mengawal Mahasiswa: Tidak Usah Ikut ke Kampus
Joko Widiyarso June 18, 2026 04:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kehadiran anggota kepolisian di lingkungan kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) tanpa koordinasi resmi berujung pada insiden pengejaran oleh massa mahasiswa, Rabu (17/6/2026) malam.

Peristiwa yang terjadi tak lama setelah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di Titik Nol Kilometer Yogyakarta ini sempat memicu ketegangan, sebelum akhirnya diselesaikan melalui mediasi. Pihak rektorat secara tegas mengkritik aktivitas aparat yang memicu kecurigaan di lingkungan akademik.

Wakil Rektor UMY, Zuly Qodir, membeberkan kronologi insiden tersebut. Ia menjelaskan bahwa seluruh mahasiswa peserta aksi dari Aliansi UMY Bergerak sebenarnya telah tiba kembali di kampus dalam kondisi aman. Pihaknya sejak awal juga telah mewanti-wanti mahasiswa untuk menjaga ketertiban selama demonstrasi.

"Yang demo teman-teman mahasiswa itu pulang kira-kira jam 17.00, bubar. Sampai kampus aman, biasa, tidak ada masalah. Saya sudah minta mereka, berangkat berapa jumlahnya, pulang jumlahnya berapa harus sama. Tidak boleh ada aksi ataupun tindakan kekerasan dan juga penghinaan kepada siapa pun. Harus aman dan damai," ungkap Zuly, Kamis (18/6/2026).

Situasi yang semula kondusif berubah ketika seorang pria berpakaian preman terpantau berada di area kampus dan memperhatikan mahasiswa yang baru kembali dari aksi. Kecurigaan massa memuncak ketika pria tersebut mencoba menghindari mahasiswa saat didekati.

"Ada salah seorang intel. Ya namanya juga intel, mungkin memata-matai. Kemudian dia memfoto mahasiswa, melihat-lihat mahasiswa. Mahasiswa curiga, tidak terima, lalu dikejar. Namanya orang lari malah tambah curiga," kata Zuly menuturkan.

Dalam upaya menghindari kejaran, anggota polisi tersebut terjatuh dan akhirnya diamankan oleh massa. Untuk mencegah terjadinya tindakan yang tidak diinginkan, mahasiswa kemudian membawa pria tersebut ke ruang rektorat.

Menerima laporan terkait situasi di lapangan, pihak Kepolisian Daerah (Polda) DIY langsung menghubungi pihak rektorat UMY untuk meminta bantuan pengamanan terhadap anggotanya.

"Saya ditelepon oleh intel Polda, ‘mohon diamankan anggota saya’. Lalu saya datang ke situ. Mahasiswa sudah banyak sekali, mungkin 300 orang. Tapi tidak ada masalah, damai, tenteram, aman saja. Cuma teriak-teriak, biasalah," ungkap Zuly.

Zuly yang turun tangan langsung meminta massa mahasiswa untuk menahan diri dari tindakan kekerasan maupun lontaran penghinaan. Di saat yang sama, mahasiswa menuntut anggota polisi tersebut untuk menjelaskan identitas, pangkat, satuan tugas, serta menyampaikan permintaan maaf.

"Alhamdulillah, intelnya menyebutkan namanya. Saya bilang, kalau kamu tidak nurut, saya tidak mau tanggung jawab karena massa sudah banyak sekali di luar," ujarnya.

Proses mediasi yang berlangsung selepas Magrib (sekitar pukul 18.30 WIB) ini menemui titik terang setelah pimpinan intel dari Polda DIY tiba di kampus.

Pimpinan intel minta maaf

Pimpinan tersebut secara langsung menyampaikan permintaan maaf kepada pihak universitas dan mahasiswa atas insiden tersebut. Mediasi berakhir kondusif sekitar pukul 20.00 WIB.

"Yang penting tidak ada tindakan kekerasan dan tidak ada penyentuhan anggota tubuh dengan kekerasan. Alhamdulillah hanya teriak-teriak saja," kata Zuly.

Ia turut mengapresiasi langkah kepolisian yang bersedia meminta maaf sebagai bentuk etika untuk meredam situasi. "Bagus. Harus minta maaf juga, karena kan berkeliaran begitu. Mahasiswa pasti marah. Saya sebagai pimpinan saja sebenarnya jengkel. Tapi karena saya pimpinan, saya bilang sudah, ini harus kamu minta maaf," tambahnya.

Tanggapan dan kritik kampus

Menyikapi insiden ini, Zuly memberikan kritik tajam terhadap pendekatan kepolisian. Ia menilai dalih kepolisian bahwa kehadiran intelijen tersebut untuk melakukan pengamanan justru bersifat kontraproduktif.

"Niatnya, bahasa polisi, untuk mengamankan mahasiswa. Mahasiswa tidak suka dengan bahasa mengamankan itu. Harusnya kalau sudah sampai kampus ya dilihat saja dari jauh. Tidak usah ikut ke kampus," katanya.

Ke depan, Zuly menegaskan dirinya tidak mengizinkan aparat intelijen berkeliaran di lingkungan kampus tanpa izin. Ia menuntut aparat menghormati otonomi kampus dan mengedepankan prosedur formal.

"Kalau memang ada keperluan, bikin surat ke kampus. Nanti ketemu pimpinan. Kalau mau ketemu mahasiswa, nanti saya hubungkan mahasiswa. Dialog baik-baik tidak ada masalah," tegasnya.
Ia berharap kejadian serupa tidak terulang kembali dan meminta polisi mengedepankan dialog. 

"Memang tidak usah pakai intel-intelan. Kalau ada kebutuhan, datang saja baik-baik, bicara dengan saya. Jangan bergerak-gerik yang mencurigakan karena itu pasti menimbulkan amarah dan kecurigaan di tingkat mahasiswa," tandasnya.

Klarifikasi Polda DIY

Insiden di UMY ini dengan cepat menarik perhatian publik setelah unggahan dua video di akun Instagram @umy_bergerak menjadi viral. Video tersebut memperlihatkan momen mahasiswa menginterogasi pria yang diduga intel tersebut di area kampus sesaat setelah massa kembali dari Titik Nol Kilometer Yogyakarta.

Merespons polemik tersebut, Kepala Bidang Humas Polda DIY Kombes Polisi Ihsan memberikan klarifikasi resmi pada Rabu malam. Ia membenarkan bahwa pria dalam video tersebut adalah personel aktif Polda DIY yang tengah menjalankan tugas resmi.

Pihak kepolisian menekankan bahwa petugas berada di lapangan semata-mata untuk menjamin keamanan dan keselamatan mahasiswa pasca-aksi penyampaian pendapat, sesuai dengan prosedur pengamanan.

"Terkait video yang beredar di media sosial, kami sampaikan bahwa pria yang ada dalam video tersebut adalah benar anggota Polda DIY dan merupakan petugas yang resmi terlibat dalam surat perintah pelayanan penyampaian pendapat di muka umum yang dilaksanakan pada hari ini di Titik Nol," ujar Ihsan melalui pernyataan resmi video di akun Instagram @poldajogja.

Lebih jauh, Ihsan meluruskan dugaan adanya pengawasan sepihak yang memicu ketegangan. Ia menegaskan tidak ada unsur pengintaian, melainkan murni upaya pengawalan kepulangan massa.

"Adapun kehadiran yang bersangkutan di lokasi adalah bagian dari pelaksanaan tugas dan murni dalam rangka mengawal keselamatan peserta aksi kembali ke kampusnya dalam keadaan aman dan selamat. Terkait miskomunikasi dan kesalahpahaman tersebut, telah diselesaikan dengan humanis. Kami telah melakukan komunikasi dan koordinasi dengan baik dengan pihak rektorat dan mahasiswa. Dan saat ini, anggota tersebut telah kembali ke Polda DIY. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih sekali lagi kepada pihak rektorat dan mahasiswa atas koordinasi yang sangat baik yang sudah terjalin saat ini. Kemudian dapat kami sampaikan bahwa situasi saat ini kondusif. Kami terus menjaga komunikasi dengan adik-adik mahasiswa sebagai mitra strategis Polri dalam menjaga demokrasi di Yogyakarta. Demikian," papar Ihsan.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.