Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dinilai mulai memberikan tekanan terhadap berbagai sektor, termasuk dunia konstruksi yang bergantung pada biaya distribusi dan harga material.
Baca Juga: Kenaikan BBM Tekan Biaya Proyek Jalan Rp1,25 Triliun di Lampung
Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Lampung, Yusnadi, mengatakan dampak kenaikan BBM tidak hanya dirasakan proyek pemerintah, tetapi juga pekerjaan konstruksi swasta.
Menurutnya, kondisi ini diperparah dengan fluktuasi nilai tukar dolar yang turut memengaruhi harga barang dan material.
“Tidak hanya pekerjaan pemerintah, swasta juga banyak yang terdampak karena adanya kenaikan harga barang yang dipengaruhi kondisi ekonomi dan fluktuasi dolar,” kata Yusnadi saat diwawancarai, Rabu (17/6/2026).
Meski demikian, Yusnadi menegaskan proyek yang sudah berjalan dan telah terikat kontrak tidak boleh menurunkan standar kualitas pekerjaan hanya karena terjadi kenaikan biaya.
Menurut dia, dalam kontrak kerja telah tercantum spesifikasi mutu, satuan harga, hingga standar hasil pekerjaan yang wajib dipenuhi penyedia jasa konstruksi.
“Kalau kontrak sudah ditandatangani, tidak bisa kemudian kualitas pekerjaan dikurangi. Kualitas tetap harus sesuai yang sudah disepakati,” ujarnya.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi bagian dari risiko usaha yang perlu diantisipasi kontraktor.
Namun, apabila terdapat kondisi di luar kendali atau keadaan luar biasa, maka perlu dikaji lebih lanjut apakah masuk kategori force majeure sesuai ketentuan dalam kontrak kerja.
Terkait kemungkinan adanya keluhan dari pelaku konstruksi, Yusnadi mengaku hingga saat ini Komisi IV DPRD Lampung belum menerima audiensi maupun laporan resmi dari pihak kontraktor mengenai dampak kenaikan harga terhadap proyek berjalan.
Meski begitu, ia menilai perlu ada jalan tengah agar kondisi tersebut tidak merugikan seluruh pihak.
“Jangan sampai kualitas jalan menurun, kontraktor dirugikan, dan pemerintah juga terdampak. Semua harus melihat persoalan ini secara menyeluruh agar pekerjaan tetap berjalan sebagaimana mestinya,” katanya.
Selain sektor konstruksi, Yusnadi menyebut kenaikan BBM juga berpotensi memukul sektor lain yang sangat bergantung pada konsumsi bahan bakar seperti pengemudi ojek online, nelayan, dan aktivitas produksi masyarakat.
Ia mengajak masyarakat mulai melakukan penghematan dan efisiensi penggunaan BBM di tengah situasi ekonomi global yang dinilai masih penuh tantangan.
“Yang bisa dilakukan sekarang adalah menggunakan BBM secara lebih bijaksana dan melakukan efisiensi aktivitas yang konsumsi bahan bakarnya tinggi,” tandasnya.
(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama)