Hasil Temuan Bakteri Penyebab Keracunan Siswi SD, Dinkes Kepahiang Beri 6 Rekomendasi ke Dapur SPPG
Hendrik Budiman June 18, 2026 06:54 PM

 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, M. Bima Kurniawan  

TRIBUNBENGKULU.COM, KEPAHIANG - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kepahiang, Bengkulu, mengeluarkan enam poin rekomendasi kepada dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menyusul temuan bakteri pada sampel makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga menjadi penyebab keracunan sejumlah siswi sekolah dasar. 

Hal itu menindaklanjuti temuan hasil uji laboratorium sampel Makanan Bergizi Gratis dan muntahan korban.  

Diketahui, hasil pemeriksaan menunjukkan adanya bakteri Staphylococcus aureus pada sampel makanan MBG yang sebelumnya telah diuji bersama sampel muntahan korban. 

Jumlah korban dugaan keracunan berjumlah 16 orang yang terdiri dari siswa, guru, dan penjaga sekolah yang dilarikan ke Puskesmas Kelobak dan Puskesmas Pasar Kepahiang. 

Menindaklanjuti temuan tersebut Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kepahiang, Tajri Fauzan mengeluarkan enam point rekomendasi. 

"Dari hasil itu kami mengeluarkan 6 rekomendasi terhadap dapur SPPG terkait," ucap Tajri kepada TribunBengkulu.com, Kamis (18/6/2026)

Sejumlah rekomendasi tersebut dikoordinasikan kepada pihak kepolisian dan pihak Korwil SPPG selaku pengambil kebijakan. 

"Kita juga koordinasi dengan pihak kepolisian, pemda dan kepada pihak BGN selaku pengambil kebijakan," jelas Tajri. 

Dalam rekomendasi tersebut Tajri mengusulkan scurity food atau uji pengecekan bakteri makanan sebelum didistribusikan. 

"Bentuknya seperti stik yang dapat memeriksa bakteri yang terkandung dalam makanan, semacam uji laboratorium sederhana," pungkas Tajri.

Berikut enam rekomendasi Dinkes Kepahiang terkait temuan bakteri tersebut :

1. Melakukan pembinaan higiene dan sanitasi terhadap pengelola serta penjamah makanan.
2. Melakukan pemeriksaan kesehatan penjamah makanan secara berkala.
3. Memastikan penerapan prosedur keamanan pangan secara internal dalam proses pengolahan dan penyajian makanan.
4. Melakukan pengawasan dan monitoring internal secara berkala terhadap kualitas makanan yang disajikan.
5. Melakukan tindakan perbaikan sanitasi lingkungan dan sarana pengolahan makanan.
6. Dapur SPPG menyediakan food security untuk pemeriksaan sampel makanan.

Respon Korwil SPPG Kepahiang

Hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan dalam kasus dugaan keracunan yang dialami sejumlah siswi sekolah dasar di Kabupaten Kepahiang, Bengkulu, mengungkap adanya bakteri yang diduga menjadi penyebab gangguan kesehatan tersebut.

Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya bakteri Staphylococcus aureus pada sampel makanan MBG yang sebelumnya telah diuji bersama sampel muntahan korban. 

Baca juga: Mual, Muntah dan Sesak Napas, Gejala Keracunan Massal Siswa SD di Kepahiang usai Konsumsi MBG

Menanggapi temuan itu, Koordinator Wilayah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) buka suara terkait evaluasi yang dilakukan serta nasib operasional dapur penyedia makanan program tersebut.

Koordinator Wilayah (Korwil) Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kabupaten Kepahiang Vera mengungkapkan masih menunggu keputusan pihak pimpinan dalam menindak lanjuti dapur terkait. 

"Kami masih konfirmasi dengan pimpinan, laporan sudah diteruskan kepada pimpinan. Nanti pihak pimpinan dari regional yang memberikan keputusan," pungkas Vera kepada TribunBengkulu.com, Kamis (18/6/2026).

Hasil Uji Lab

Penyebab keracunan yang dialami sejumlah siswa penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kepahiang mulai menemukan titik terang.

Berdasarkan hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan, ditemukan adanya kontaminasi bakteri yang diduga menjadi pemicu munculnya gejala keracunan pada para siswa.

Temuan tersebut kini menjadi dasar bagi pihak terkait untuk melakukan evaluasi dan penelusuran lebih lanjut terhadap proses pengolahan serta distribusi makanan.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kepahiang menjelaskan terkait dampak bakteri Staphylococcus Aureus temuan hasil uji laboratorium sampel Makanan Bergizi Gratis dan muntahan korban. 

Diketahui, Dinkes Kabupaten Kepahiang telah menerima hasil uji laboratorium terkait dugaan keracunan massal yang menimpa sejumlah siswa SD Negeri 18 Kepahiang usai mengonsumsi makanan dari program MBG. 

Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya bakteri Staphylococcus aureus pada sampel makanan MBG yang sebelumnya telah diuji bersama sampel muntahan korban. 

Jumlah korban dugaan keracunan berjumlah 16 orang yang terdiri dari siswa, guru, dan penjaga sekolah yang dilarikan ke Puskesmas Kelobak dan Puskesmas Pasar Kepahiang. 

Kepala Dinkes Kepahiang, Tajri Fauzan menjelaskan efek dari terkontaminasi bakteri Staphylococcus Aureus. 

"Kalau untuk jangka panjang umumnya tidak ada, efeknya kebanyakan langsung biasanya yang sudah mengkonsumsi bakteri itu langsung merasakan mual muntah pada korbannya," ucap Tajri. 

Menurutnya bakteri tersebut tidak terlalu berbahaya jika cepat di atasi dan dapat menyebar melalui udara maupun sentuhan. 

"Bakteri yang menyerang itu tidak terlalu berbahaya dan bakteri ini bisa menyebar lewat udara maupun sentuhan," ujar Tajri. 

Sementara dari kajian hasil uji laboratorium kemungkinan bakteri tersebut timbul dari petugas dapur MBG terkait. 

"Dari kajian ini asal bakteri ini kemungkinan dari petugas yang mengelola, menyiapkan atau yang mendistribusikan makanan tersebut yang kurang bersih atau kondisi petugas yang kurang sehat," beber Tajri. 

Beruntung korban dari bakteri tersebut langsung ditangani dengan baik sehingga korban berangsur pulih. 

"Sehingga jika tidak cepat di atasi korbannya bisa dehidrasi atau kekurangan cairan bahkan menyebabkan kematian. Alhamdulillah kejadian kemarin segera diatasi sehingga korban tidak sampai dehidrasi dan bisa sembuh," terang Tajri.

Ketua DPRD Desak Evaluasi

Ketua DPRD Kepahiang Gregory Dayefiandro meminta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) segera melakukan evaluasi  menyusul insiden dugaan keracunan massal yang dialami sejumlah siswa SD Negeri 18 Kepahiang usai mengonsumsi makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Langkah evaluasi dinilai penting untuk mengetahui penyebab kejadian sekaligus mencegah peristiwa serupa terulang di kemudian hari.

Diketahui, sebanyak 16 korban keracunan tersebut yang terdiri dari 14 siswa, satu guru dan satu penjaga sekolah SD di Kabupaten Kepahiang dilarikan ke UPT Puskesmas Kelobak Kepahiang akibat mengalami keracunan, pada Kamis (4/6/2026).

Gregory atau Igor sapaan akrabnya mengungkapkan rasa prihatin atas insiden keracunan yang terjadi. 

"Pertama kami turut prihatin, karena ini sudah ranahnya pihak pengelola yakni SPPG dan MBG," ucap Igor kepada TribunBengkulu.com, Senin (8/6/2026).  

Gregory menegaskan, ke depan SPPG dapat mengevaluasi dan mengantisipasi hal tersebut dengan memperketat kebersihan dan memaksimalkan pelayanan. 

"Kami berharap ke depannya hal seperti ini dapat diantisipasi dengan memperketat kebersihan dan juga pelayanan di masing-masing SPPG sehingga tidak terulang lagi," harap Igor.

Reaksi Bupati Kepahiang

Bupati Kepahiang Zurdi Nata menanggapi terkait insiden dugaan keracunan massal yang menimpa sejumlah siswa SD Negeri 18 Kepahiang usai mengonsumsi makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Diketahui, sebanyak 16 korban keracunan tersebut yang terdiri dari 14 siswa, satu guru dan satu penjaga sekolah SD di Kabupaten Kepahiang dilarikan ke UPT Puskesmas Kelobak Kepahiang akibat mengalami keracunan, pada Kamis (4/6/2026).

Nata mengungkapkan, dirinya telah memerintahkan pihak kesehatan untuk memberikan fasilitas dan penanganan terbaik untuk para korban. 

Baca juga: Keracunan Massal Siswa SD 18 Kepahiang usai Konsumsi MBG Sisakan Trauma bagi Orangtua dan Anak

"Saya sudah perintahkan tim kita dalam hal ini kesehatan untuk turun memberikan bantuan pertama, salah satunya kita menyiapkan fasilitas kesehatan di puskesmas terdekat," ucap Nata kepada TribunBengkulu.com, Senin (8/6/2026). 

Harapannya dapur MBG dapat mengevaluasi dan betul-betul memenuhi standarisasi serta menerapkan SOP yang berlaku. 

"Harapan kita kedepan dapur mbg ini betul-betul memenuhi standar," harap Nata.

Orangtua Akui Masih Trauma

Orang tua pelajar yang mengalami keracunan mengaku trauma dan khawatir usai anaknya dilarikan ke puskesmas usai mengkonsumsi makan bergizi gratis (MBG), pada Kamis (4/6/2026). 

Hingga saat ini, jumlah korban dugaan keracunan berjumlah 16 orang yang terdiri dari siswa, guru, dan penjaga sekolah yang dilarikan ke puskesmas Kelobak dan Puskesmas Pasar Kepahiang. 

Salah satu orang tua korban Risti mengungkapkan, kondisi anaknya sempat mengalami muntah, gatal-gatal, hingga sesak napas setelah menyantap MBG di sekolah. 

“Anak mulai mengeluh mual, muntah, pusing, dan gatal-gatal,” ujar Risti kepada Reporter TribunBengkulu.com, Kamis (4/6/2026).

Kondisi anak kemudian memburuk hingga mengalami sesak napas sebelum dibawa ke fasilitas kesehatan. 

Risti mengatakan anaknya kini mengalami ketakutan untuk kembali mengonsumsi makanan dari program MBG. 

“iya ada trauma dan khawatir,” kata Risti. 

Ia berharap ada evaluasi menyeluruh terhadap kualitas makanan yang dibagikan kepada siswa. 

“Harapannya ke depan tidak terjadi lagi dan makanan lebih selektif sebelum diberikan ke anak-anak,” katanya. 

Senada dengan Rio yang anaknya juga mengalami keracunan usai mengkonsumsi makanan dari program MBG. 

"Iya anak saya keracunan dengan gejala muntah hingga dibawa ke Puskesmas Kelobak sekitar jam 10.00 WIB. Kalau penyebab nya kita kurang tau yang jelasnya dia ini sempat makan dari makanan MBG itu," jelas Rio. 

Dirinya mengaku trauma atas apa yang dialami anaknya yang masih berusia sembilan tahun dan duduk di bangku kelas tiga SD 18 Kepahiang tersebut. 

"Trauma dan kekhawatiran kita jelas ada, kedepannya kalau masih ada program ini harus ditingkatkan lagi dan yakinkan masyarakat agar tidak terjadi lagi" pungkas Rio.

Alami Gejala Mual Hingga Sesak Nafas

Belasan siswa SD di Kabupaten Kepahiang mengalami gejala yang diduga akibat keracunan makanan usai mengonsumsi menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Para siswa dilaporkan mengalami mual, muntah, sesak napas, hingga gatal pada tenggorokan sehingga harus mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan setempat.

Diketahui, belasan Pelajar SD Kepahiang yang mengalami keracunan massal hingga di larikan ke puskesmas, pada Kamis (5/6/2026). 

Keracunan tersebut diduga terjadi setelah mengonsumsi makanan dari program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di SD 18 Kepahiang. 

Sehingga, usai mengalami keracunan tersebut, sejumlah siswa dilarikan ke UPT Puskesmas Kelobak dan Puskesmas pasar Kepahiang sejak pukul 09.00 WIB. 

Kepala UPT Puskesmas Kelobak Kepahiang, Rosdiana Sidabutar (51), menerangkan jumlah orang yang sudah masuk ke puskesmasnya. 

"Pasien yang datang ke puskesmas Kelobak tadi sebanyak 12 orang yang terdiri dari 11 orang pelajar dan satu penjaga sekolah," ucap Rosdiana. 

Lanjut Rosdiana menjelaskan gejala yang dialami pasien keracunan yang datang ke puskesmas kelobak.

"Saat baru datang pasien mengalami pusing, gatal di tenggorokan dan juga ada yang muntah," terang Rosdiana. 

Dari keluhan tersebut pihaknya menindak lanjuti dengan memberikan infus serta obat. 

"Penanganan yang kita berikan yakni kita infus supaya tidak sampai kekurangan cairan dan juga kita berikan obat. Selain itu ada juga pemberian susu dari polres Kepahiang," jelas Rosdiana. 

Dari penanganan tersebut seluruh pasien drngan keluhan tersebut berangsur pulih dan kembali ke rumah masing-masing. 

Sementara untuk pembiayaan berobat para pasien ditangganggung BPJS dan dari pihak SPPG terkait. 

"Kalau misalnya pasien punya BPJS kita klaimnya ke BPJS, tetapi pasien yang tidak punya BPJS kita klaimnya ke pihak SPPG," ujar Rosdiana. 

Disisi lain pasien di puskesmas Pasar kepahiang berjumlah empat orang yang mengalami keracunan. 

"Ada tiga orang pelajar laki-laki dan satu orang ibu gurunya," ucap Plt Kepala Puskesmas Pasar Kepahiang Misfawiyanti. 

Senada dengan pasien puskesmas kelobak, para pasien juga mengalami gejala pusing dan mual. 

"Mereka mual dan pusing. Sudah kami periksa dan kami berikan obat," jelas Misfawiyanti. 

Usai penanganan para pasien juga berangsur pulih dan kembali ke rumah masing-masing.

Menu MBG yang Dikonsumsi

Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikonsumsi siswa SD Negeri 18 Kepahiang kini menjadi fokus penyelidikan setelah 16 siswa mengalami dugaan keracunan massal. 

Aparat kepolisian bersama pihak terkait telah mengamankan sampel makanan yang disajikan pada hari kejadian untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium guna memastikan penyebab para siswa mengalami mual, muntah, dan pusing.

Polisi mulai menyelidiki kasus dugaan keracunan massal yang dialami 16 siswa sekolah dasar di Kabupaten Kepahiang usai mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Sejumlah sampel makanan yang diduga menjadi penyebab para siswa mengalami keracunan telah diamankan untuk diperiksa lebih lanjut.

Diketahui, sebanyak 16 korban keracunan tersebut yang terdiri dari 14 siswa, satu guru dan satu penjaga sekolah SD di Kabupaten Kepahiang dilarikan ke UPT Puskesmas Kelobak Kepahiang akibat mengalami keracunan, pada Kamis (4/6/2026).

Keracunan tersebut diduga terjadi setelah mengonsumsi makanan dari program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di SD 18 Kepahiang. 

Atas kejadian tersebut Kapolres Kepahiang AKBP Yuriko Fernanda mengunjungi Puskesmas Kelobak untuk meninjau korban keracunan tersebut.  

"Perlu kami sampaikan bahwa terjadi siswa, guru dan penjaga sekolah sekitar 16 orang terkontaminasi makanan MBG," ucap AKBP Yuriko Fernanda kepada TribunBengkulu.com, Kamis (4/6/2026). 

Selain itu Yuriko menyampaikan pihaknya juga telah melakukan penyidikan lebih dalam dengan mengambil sampel untuk diuji laboratorium.

"Iya pasti kita melakukan penyidikan lebih dalam. Kita sudah mengambil sampel makanan dan sudah dibawa ke laboratorium serta kita akan periksa hasil laboratoriumnya," kata Yuriko.  

Salah satu orang tua korban keracunan bernama Risti mengungkapkan menu MBG yang dikonsumsi oleh anaknya sebelum dilarikan ke Puskesmas Kelobak Kepahiang. 

"Keterangan anak saya menu makanan MBG yang dia (anak korban_red) makan itu ada nasi prekedel, telur, sayur kol dan jagung serta buah salak," ungkap Risti. 

Dari menu tersebut Risti mengungkapkan makanan seperti prekedel yang dirasakan cukup masam oleh anaknya.

"Katanya makanan prekedelnya yang terasa asam," pungkas Risti.

Jumlah korban dugaan keracunan usai mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kepahiang, Bengkulu, bertambah pada Kamis (4/6/2026).

Sebelumnya, sejumlah pelajar SD di Kabupaten Kepahiang dilarikan ke UPT Puskesmas Kelobak Kepahiang akibat mengalami keracunan.

Keracunan tersebut diduga terjadi setelah mengonsumsi makanan dari program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di SD 18 Kepahiang.

Kapolres Kepahiang AKBP Yuriko Fernanda mengatakan, jumlah korban dugaan keracunan tersebut mencapai 16 orang.

"Perlu kami sampaikan bahwa terjadi siswa, guru dan penjaga sekolah sekitar 16 orang terkontaminasi makanan MBG," ucap AKBP Yuriko Fernanda.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.