TRIBUNBANYUMAS.COM, Purwokerto — Universitas Terbuka (UT) Purwokerto terus memperkuat komitmennya dalam mendukung pengembangan potensi lokal melalui penyusunan Roadmap Ekowisata Berkelanjutan di Dusun Kalipagu, Desa Ketenger, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas.
Roadmap tersebut dirumuskan melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang dilaksanakan pada Kamis, 18 Juni 2026.
Kegiatan diawali dengan pemaparan Direktur UT Purwokerto, Dr. Prasetyarti Utami, S.Si., M.Si., mengenai berbagai program pengabdian kepada masyarakat yang telah dilakukan UT Purwokerto sejak tahun 2023 hingga 2026.
Dalam pemaparannya, Dr. Prasetyarti menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk komitmen UT Purwokerto dalam mendampingi masyarakat, terutama dalam pengembangan potensi lokal, pemberdayaan ekonomi, penguatan sumber daya manusia, dan pelestarian lingkungan.
FGD ini menjadi ruang kolaborasi lintas sektor untuk merumuskan arah pengembangan ekowisata Kalipagu agar lebih terarah, berkelanjutan, dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh berbagai unsur pemangku kepentingan, mulai dari akademisi, pemerintah daerah, aparat kewilayahan, pemerintah desa, pengelola kawasan wisata, tokoh masyarakat, hingga mahasiswa.
Peserta yang hadir antara lain Direktur UT Purwokerto, Tim Dosen UT Purwokerto, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto, perwakilan Dinas Pariwisata,
Baca juga: Wisata Tersembunyi di Banyumas Dapat Dukungan UT Purwokerto, Punya Air Terjun Indah
Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Koperasi dan UMKM, Kapolsek, Danramil, Kepala Desa Ketenger, Koperasi Multi Pihak (KMP) Mitra Jenggala Sejahtera, tokoh masyarakat, serta mahasiswa. Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan kuatnya sinergi lintas sektor dalam menyusun roadmap ekowisata berkelanjutan di Kalipagu.
Curug Jenggala dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata alam berbasis budaya, edukasi, religi, kesehatan, dan konservasi. Kawasan ini juga memiliki peluang menjadi wisata ikonik yang merepresentasikan nilai toleransi Pancasila, termasuk melalui rencana pembangunan beberapa tempat ibadah sebagai bagian dari penguatan wisata spiritual dan budaya.
Dalam forum tersebut, sejumlah isu strategis menjadi perhatian bersama. Dinas Pariwisata menyoroti pentingnya legalitas desa wisata sebagai dasar pengelolaan destinasi yang lebih profesional. Legalitas dinilai penting agar desa wisata memiliki arah pengembangan yang jelas, memperoleh dukungan program, serta dapat masuk dalam jejaring pariwisata daerah.
Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup menekankan pentingnya pengelolaan lingkungan dalam pengembangan ekowisata. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain penataan kawasan, pengelolaan sampah, pembatasan plastik sekali pakai, pemilahan limbah, perlindungan sumber air, penguatan vegetasi, stabilitas tebing, serta pendataan flora dan fauna sebagai bahan edukasi wisata.
Dari sektor ekonomi, Dinas Koperasi dan UMKM menyoroti pentingnya penguatan pemasaran dan permodalan bagi pelaku usaha lokal. Produk UMKM Kalipagu dapat diintegrasikan ke dalam paket wisata sebagai suvenir, oleh-oleh, maupun bagian dari atraksi edukatif. Strategi promosi juga perlu diperkuat melalui media sosial, kolaborasi dengan influencer, serta keterlibatan dalam berbagai event lokal.
Dalam pembahasan, peserta FGD juga mendorong pengembangan paket wisata yang lebih beragam, seperti paket edu wisata, eco wisata, play wisata, kunjungan UMKM, wisata sejarah, pengenalan kehidupan warga, hingga penguatan homestay. Kolaborasi dengan sekolah juga dinilai penting untuk menjadikan Kalipagu sebagai ruang belajar berbasis alam, budaya, dan kehidupan masyarakat desa.
Aspek sumber daya manusia turut menjadi perhatian dalam roadmap ini. Pengelola wisata perlu didukung melalui pelatihan pemandu, penerapan standar keselamatan, jalur evakuasi, titik kumpul, serta SOP kegiatan wisata. Penerapan standar tersebut diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan wisatawan dan memperkuat kualitas layanan di kawasan Curug Jenggala.
Baca juga: PKM UT Purwokerto Pacu Pengembangan Wisata Curug Jenggala Banyumas
Mahasiswa dan tokoh masyarakat turut memberikan masukan agar pengembangan wisata tidak hanya bertumpu pada satu objek. Beberapa gagasan yang muncul antara lain penyelenggaraan pasar tradisional rutin, event budaya seperti pertunjukan wayang, pameran produk warga, serta kegiatan lokal lain yang dapat memperpanjang lama kunjungan wisatawan dan meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat.
Dari unsur keamanan, Kapolsek Baturraden menyoroti perlunya promosi yang lebih luas, termasuk melalui media luar ruang seperti videotron di Alun-Alun Banyumas. Promosi dinilai penting untuk meningkatkan kembali kunjungan wisatawan dan memperluas dampak ekonomi bagi kawasan Baturraden, termasuk wisata mandiri atau semi-swasta yang dikelola masyarakat.
Sebagai tindak lanjut, pengembangan ekowisata Kalipagu diarahkan pada program yang berdampak nyata. Beberapa agenda yang dapat dilakukan antara lain riset sumber mata air, pendataan tanaman endemik, pengembangan tanaman obat, penguatan situs budaya, serta pendampingan dan evaluasi berkelanjutan. Pasca banjir, kawasan ini juga direncanakan mengadakan kegiatan penanaman pohon dan penebaran bibit ikan sebagai bagian dari upaya pemulihan lingkungan.
Melalui Roadmap Ekowisata Berkelanjutan ini, UT Purwokerto berharap Kalipagu dapat berkembang menjadi contoh desa wisata masa depan yang mengintegrasikan penguatan manajemen wisata, optimalisasi UMKM, pelestarian budaya lokal, wisata religi, edukasi, dan konservasi lingkungan. Dengan kolaborasi lintas sektor, Curug Jenggala diharapkan terus tumbuh sebagai destinasi ekowisata unggulan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Desa Ketenger dan sekitarnya. (*)