Pimpin Panen dan Tanam Tebu Serentak di Malang, Gubernur Khofifah Ingin Genjot Produktivitas
Januar June 18, 2026 08:14 PM

 

TRIBUNJATIM.COM, MALANG – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memimpin kegiatan Panen dan Tanam Tebu Serentak Program Bongkar Ratoon dan Perluasan Areal Tebu Tahun 2026 di Desa Putukrejo, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Kamis (18/6/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari gerakan panen dan tanam tebu yang dilaksanakan secara serentak di sejumlah sentra produksi tebu Jawa Timur. 

Selain di Kabupaten Malang, Gubernur Khofifah juga menyapa secara daring pelaksanaan panen dan tanam tebu di Kabupaten Kediri, Magetan, Jombang, Situbondo, Bondowoso, Mojokerto, dan Lamongan.

Hal ini menunjukkan bahwa penguatan sektor gula tidak dilakukan secara parsial, melainkan melalui gerakan bersama yang melibatkan sentra-sentra produksi tebu di berbagai daerah sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan dan mewujudkan swasembada gula nasional.

Penegasan tersebut tidak terlepas dari besarnya kontribusi Jawa Timur terhadap industri pergulaan nasional. Saat ini Jawa Timur menyumbang sekitar 51 persen produksi gula nasional. 

Bahkan pada tahun 2025, produksi gula kristal putih Jawa Timur mencapai sekitar 1,34 juta ton, tertinggi dalam satu dekade terakhir.

Baca juga: Meski Masuk Awal Musim Panen, Nelayan Prigi Trenggalek Tak Melaut saat Gelombang Capai 2,5 Meter

"Kegiatan hari ini memiliki makna yang sangat strategis. Kita tidak hanya melaksanakan panen dan tanam tebu, tetapi juga memperkuat fondasi dalam mewujudkan swasembada gula nasional," ujar Khofifah.

Sebagai provinsi penghasil gula terbesar di Indonesia, Jawa Timur kembali mendapat kepercayaan pemerintah pusat dalam pelaksanaan Program Bongkar Ratoon dan Perluasan Areal Tebu Tahun 2026.

Tahun ini Jawa Timur memperoleh target Program Bongkar Ratoon seluas 48.315 hektare dan Perluasan Areal Tebu seluas 6.582 hektare. Dengan demikian, total target yang harus dicapai mencapai 54.897 hektare yang tersebar di 24 kabupaten sentra tebu di Jawa Timur.

"Target ini sekaligus menjadi bentuk kepercayaan pemerintah pusat terhadap kapasitas dan kesiapan Jawa Timur dalam memperkuat ketahanan pangan nasional," katanya.

Khofifah menjelaskan bahwa fokus utama program tahun ini adalah bongkar ratoon atau peremajaan tanaman tebu melalui replanting menggunakan bibit unggul. Seluruh kebutuhan benih program tersebut disiapkan melalui dukungan Kementerian Pertanian sebagai bagian dari upaya meningkatkan produktivitas tebu nasional.

Menurutnya, penggunaan bibit unggul menjadi kunci peningkatan produktivitas lahan. Berbagai varietas yang digunakan saat ini, seperti varietas Bululawang (BL) memiliki potensi hasil rata-rata di atas 110 ton per hektare, bahkan beberapa di antaranya mampu mencapai sekitar 150 ton per hektare.

Program Bongkar Ratoon dan Perluasan Areal Tebu tersebut menjadi instrumen penting dalam meningkatkan produktivitas, rendemen, serta kapasitas produksi gula nasional secara berkelanjutan.

Pada pelaksanaannya, pengembangan tanaman tebu dilakukan menggunakan sejumlah varietas unggul berpotensi hasil tinggi, yakni NX 04, NX 03, NXI-4T, SGN 01, NX 02, dan NX 01. Varietas-varietas tersebut dipilih karena memiliki produktivitas yang baik sekaligus mendukung peningkatan rendemen gula. Pemanfaatannya menjadi bagian dari transformasi sektor tebu yang terus didorong Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Transformasi tersebut mencakup penerapan teknologi budidaya modern, mekanisasi pertanian, efisiensi irigasi, penguatan kelembagaan petani, serta peningkatan kapasitas industri gula agar semakin kompetitif dan berdaya saing.

Khofifah juga mengungkapkan bahwa Kabupaten Malang memiliki pengalaman historis yang membuktikan tingginya produktivitas tebu. Di Kecamatan Gondanglegi, produktivitas tebu pernah mencapai sekitar 250 ton per hektare. 

Menurut Khofifah, capaian tersebut menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas tebu dapat dicapai melalui kombinasi penggunaan varietas unggul, dukungan teknologi, penguatan riset, serta kolaborasi antara petani, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan pemerintah.

"Dengan dukungan teknologi yang semakin maju, laboratorium yang semakin canggih, dukungan perguruan tinggi dan Kementerian Pertanian, saya rasa bukan sesuatu yang mustahil jika produktivitas tebu dapat terus kita tingkatkan. Gondanglegi pernah membuktikannya," kata Khofifah.

Namun demikian, keberhasilan sektor pergulaan Jawa Timur tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan inovasi, melainkan juga oleh kerja keras para petani yang selama ini menjadi ujung tombak pengembangan perkebunan tebu.

Menurutnya, keberhasilan sektor pergulaan Jawa Timur tidak terlepas dari sinergi pemerintah pusat dan daerah, pabrik gula, lembaga penelitian, perguruan tinggi, lembaga keuangan, penyuluh pertanian, serta para petani yang terus menjaga produktivitas lahan tebu.

"Keberhasilan tersebut tentu tidak diraih secara instan. Di balik capaian itu terdapat kerja keras para petani tebu, dukungan pabrik gula, pemerintah pusat dan daerah, lembaga penelitian, perguruan tinggi, lembaga keuangan, serta seluruh pemangku kepentingan yang terus bersinergi memperkuat sektor pergulaan dari hulu hingga hilir," tegasnya.

Lebih lanjut, Khofifah menegaskan bahwa target utama berbagai program pengembangan tebu tersebut adalah terwujudnya swasembada gula konsumsi nasional. 

Karena itu, pembangunan sektor pergulaan harus dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir, mulai peningkatan produktivitas di tingkat petani hingga penguatan tata niaga dan perlindungan pasar gula nasional.

Menurutnya, seluruh pemangku kepentingan perlu memastikan agar gula rafinasi tidak merembes ke pasar konsumsi yang menjadi ruang bagi gula produksi petani.

"Kita membangun ekosistem pergulaan dari hulu sampai hilir. Produksi petani harus terlindungi sehingga mereka mendapatkan kepastian pasar yang sehat," ujarnya.

Karena itu, ia mengajak seluruh pihak untuk terus memperkuat transformasi sektor tebu melalui penggunaan benih unggul, penerapan teknologi budidaya modern, mekanisasi pertanian, efisiensi irigasi, penguatan kelembagaan petani, serta peningkatan kapasitas industri pengolahan gula agar semakin kompetitif dan berdaya saing tinggi.

Khofifah juga menyoroti peran strategis Kabupaten Malang sebagai salah satu sentra tebu terbesar di Jawa Timur. Dengan luas areal tebu sekitar 41 ribu hektare yang didukung keberadaan PG Krebet Baru dan PG Kebon Agung, Kabupaten Malang dinilai memiliki posisi penting dalam pengembangan industri gula nasional.

"Ini merupakan kekuatan strategis yang harus terus kita dorong agar Kabupaten Malang semakin menjadi salah satu pusat pertumbuhan industri gula nasional," ujarnya.


Sebagai bentuk dukungan nyata kepada petani, Pemprov Jawa Timur menyerahkan berbagai bantuan alat dan mesin pertanian, sarana produksi perkebunan, serta bantuan pemberdayaan ekonomi kepada kelompok tani di Kabupaten Malang.

Untuk mendukung irigasi komoditas tebu, diserahkan bantuan dua unit pompa air kepada Gapoktan Sidoberes Desa Sumberejo Kecamatan Gedangan dan Poktan Budi Luhur Desa Sumber Petung Kecamatan Kalipare. 

Selain itu diberikan satu unit handtraktor kepada Poktan Lawang Sari 06 Desa Kluwut Kecamatan Wonosari serta satu unit pompa air kepada Poktan Raharjo III Desa Gajahrejo Kecamatan Gedangan guna mendukung budidaya tembakau.

Pada sektor perkebunan kopi, melalui Program Pemberdayaan Ekonomi Kolaboratif, Inklusif, Berkelanjutan, Mandiri, dan Sejahtera (Peti Koin Bermantra), Pemprov Jawa Timur menyerahkan satu unit pulper dan satu unit huller kepada Poktan Sumber Asri Jaya Desa Sumberdem Kecamatan Wonosari, serta satu unit huller kepada Poktan Sumarah Desa Wirotaman Kecamatan Ampelgading.

Untuk mendukung budidaya kopi juga diserahkan sepuluh unit alat pemotong rumput kepada Poktan Kopi Sari Desa Plaosan Kecamatan Wonosari dan Poktan Kawi Sari Desa Balesari Kecamatan Ngajum. 

Sementara itu, bantuan benih cengkeh diberikan kepada Poktan Serba Usaha Desa Sumberdem Kecamatan Wonosari sebanyak 1.500 batang untuk pengembangan usaha seluas 15 hektare dan kepada Poktan Tani Lestari Desa Babadan Kecamatan Ngajum sebanyak 800 batang untuk luasan 8 hektare.

Khofifah menegaskan bahwa berbagai bantuan tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha tani, kualitas hasil panen, serta nilai tambah komoditas pertanian dan perkebunan guna memperkuat kesejahteraan petani.

Selain produktivitas lahan, Khofifah juga menyoroti pentingnya peningkatan rendemen gula. Menurutnya, rendemen tidak hanya ditentukan oleh kualitas bibit, tetapi juga dipengaruhi proses budidaya, penebangan, hingga pengolahan di pabrik gula.

Ia menjelaskan bahwa teknik penebangan yang tepat serta optimalisasi kapasitas giling pabrik gula dapat meningkatkan efisiensi ekstraksi dan menghasilkan rendemen yang lebih tinggi. Karena itu, pendampingan petugas lapangan menjadi sangat penting untuk mengawal seluruh proses produksi agar berjalan sesuai standar.

"Selain kualitas bibit, proses penebangan dan penggilingan juga harus dikawal dengan baik. Karena itu pendampingan petugas lapangan menjadi sangat penting agar produktivitas dan rendemen dapat terus meningkat," tegasnya.

Di akhir, Khofifah mengingatkan bahwa sektor perkebunan ke depan akan menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan iklim, keterbatasan lahan, hingga tuntutan peningkatan produktivitas dan daya saing global. Karena itu, semangat kolaborasi, inovasi, dan gotong royong seluruh pemangku kepentingan harus terus diperkuat.

"Saya optimis, dengan kerja keras, inovasi, dan gotong royong seluruh pemangku kepentingan, Jawa Timur akan terus menjadi penggerak utama tercapainya swasembada gula nasional serta memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang berdaulat di bidang pangan," pungkasnya.


Informasi lengkap dan menarik lainnya baca di TribunJatim.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.