Laporan Wartawan Serambi Indonesia Jafaruddin | Aceh Utara
SERAMBINEWS.COM, LHOKSUKON – Di tengah semakin sedikitnya generasi yang menguasai seni pembuatan Rapa-i Pase, masih ada sosok yang setia menjaga salah satu tahapan terpenting dalam proses lahirnya alat musik tradisional Aceh tersebut.
Dialah M Hasan Kadir, warga Desa Matang Tunong, Kecamatan Lapang, Kabupaten Aceh Utara, yang hingga kini tetap mempertahankan keahlian memasang membran atau kulit rapa-i.
Keahlian itu bukan diperoleh secara instan.
Hasan belajar langsung dari mertuanya, almarhum Utoh Muhammad Diyah, maestro pembuat Rapa-i Pase yang namanya dikenal luas di Aceh Utara.
Dari tangan sang guru itulah, Hasan mewarisi teknik pemasangan kulit sapi yang menjadi penentu kualitas suara rapa-i saat dimainkan.
Selama bertahun-tahun, keahlian tersebut membuat banyak kelompok Rapa-i Pase dari berbagai daerah mempercayakan pemasangan membran kepada Hasan.
Mulai dari grup rapa-i di Aceh Timur hingga sejumlah kemukiman di Aceh Utara, rutin menggunakan jasanya, terutama menjelang berbagai festival budaya dan perlombaan.
Baca juga: Raja Mulieng Padukan Rapa-i Tua dengan Karya Milenial dari Kayu Tualang untuk Jaga Warisan Indatu
Menurut Hasan, memasang kulit rapai membutuhkan ketelitian tinggi dan tidak dapat dilakukan seorang diri.
Sedikitnya tiga orang harus bekerja bersama selama hampir satu hari penuh untuk menghasilkan ketegangan kulit yang sempurna sehingga suara rapa-i terdengar nyaring dan seimbang.
Prosesnya pun cukup rumit.
Bambu pilihan yang digunakan sebagai bingkai harus direndam selama sekitar sepuluh hari sebelum diasapi hingga benar-benar kuat dan lentur.
Pasak pengikat dibuat dari kayu laban yang terkenal keras dan tahan lama.
Sementara setiap tahapan pemasangan dilakukan secara manual di atas tanah padat agar tarikan kulit tetap stabil.
Bahan utama membran berasal dari kulit sapi lokal Aceh yang dipilih secara khusus.
Hasan mengatakan, kualitas suara rapa-i sangat bergantung pada kualitas kulit yang digunakan.
Karena itu, ia hanya memilih sapi dengan kondisi kulit terbaik yang telah melalui proses penjemuran selama sekitar satu bulan dan pengasapan hingga enam bulan sebelum siap dipasang.
Baca juga: Ironi Rapa-i Pase, Diakui Negara sebagai Warisan Budaya Takbenda, Tapi Kini Kian Kehilangan Pewaris
Ia mengaku pernah mengalami pengalaman yang sulit dilupakan ketika memasang membran pada salah satu rapa-i milik kelompok seni terkenal.
Setelah seluruh proses selesai, kulit rapa-i tiba-tiba terlepas dan seluruh pasak tercabut dari tanah.
Setelah mengingat pesan pemilik rapa-i mengenai tradisi tertentu yang harus dilakukan sebelum pemasangan, ritual tersebut akhirnya dilaksanakan dan proses berikutnya berjalan lancar.
Pengalaman itu menjadi bagian dari cerita panjang yang mengiringi perjalanan Rapa-i Pase sebagai warisan budaya masyarakat Aceh yang sarat nilai tradisi dan spiritual.
Kini, di usianya yang tidak lagi muda, Hasan masih menerima pesanan pemasangan membran Rapa-i Pase maupun Rapa-i Geleng dengan upah sekitar Rp400 ribu hingga Rp500 ribu per unit.
Baginya, pekerjaan tersebut bukan semata mencari penghasilan, tetapi juga bentuk tanggung jawab untuk menjaga kelestarian seni tradisional Aceh agar tidak hilang ditelan zaman.
Baca juga: Kisah Rapa-i Raja Siwah Tanah Pasir Aceh Utara, Penjaga Tradisi Rapa-i Geurimpheng
Ia berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik mempelajari teknik pemasangan membran rapa-i sehingga warisan budaya yang telah hidup sejak ratusan tahun lalu itu tetap lestari dan terus menggema di Tanah Rencong.(*)