Setelah Iran, Laut China Selatan Potensial Jadi Medan Perang Berikutnya: Filipina Hadapi China
TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan di Laut China Selatan (LCS) dan Selat Taiwan kembali meningkat, memicu kekhawatiran bahwa kawasan Indo-Pasifik dapat menjadi titik awal konflik besar berikutnya.
Serangkaian insiden antara China dengan sejumlah negara pengklaim wilayah, terutama Filipina dan Taiwan, dinilai memperbesar risiko salah perhitungan yang dapat berujung pada konfrontasi militer.
Salah satu perkembangan terbaru terjadi setelah otoritas Filipina mengonfirmasi berhasil menyingkirkan platform terapung milik China dari kawasan Bajo de Masinloc (Scarborough Shoal).
Baca juga: China Diam-diam Bangun Pangkalan Militer di Laut China Selatan
Sehari kemudian, media Filipina melaporkan kemunculan kapal riset China di perairan sekitar wilayah sengketa tersebut.
Filipina saat ini menjadi negara yang paling sering berhadapan langsung dengan Beijing di Laut China Selatan.
Dalam beberapa bulan terakhir, kedua negara saling melontarkan tuduhan terkait aktivitas kapal penjaga pantai, kapal riset, kapal nelayan, hingga pembangunan berbagai fasilitas di kawasan sengketa.
Menurut sejumlah laporan internasional, kapal Penjaga Pantai China juga terus melakukan patroli di sekitar Second Thomas Shoal, Sabina Shoal, dan Reed Bank, wilayah yang diklaim Filipina sebagai bagian dari zona ekonomi eksklusifnya.
Di saat bersamaan, ASEAN, yang tahun ini dipimpin Filipina, terus mendorong penyelesaian Code of Conduct (CoC) Laut China Selatan sebelum akhir 2026 sebagai upaya meredakan sengketa yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Selain Laut China Selatan, ketegangan di Selat Taiwan juga terus meningkat. Dalam beberapa pekan terakhir terjadi sejumlah insiden antara kapal penjaga pantai China dan Taiwan di sekitar Kepulauan Pratas (Dongsha).
Media Taiwan sebelumnya juga melaporkan pesawat nirawak pengintai China melintasi wilayah tersebut.
Insiden itu menambah daftar panjang pelanggaran wilayah udara dan laut yang melibatkan pesawat tempur maupun kapal militer China di sekitar Taiwan.
Beijing terus mengecam dukungan militer Amerika Serikat kepada Taipei, termasuk penjualan senjata dan kerja sama pertahanan.
Kondisi tersebut dinilai meningkatkan risiko bentrokan yang dapat berkembang menjadi konflik berskala lebih besar apabila terjadi kesalahan perhitungan di lapangan.
Ketegangan dengan China tidak hanya dialami Filipina dan Taiwan.
Vietnam memprotes aktivitas reklamasi serta pembangunan fasilitas China di Antelope Reef, Kepulauan Paracel.
Sejumlah analis menilai pembangunan tersebut berpotensi mencakup landasan pacu baru yang dapat memperkuat kehadiran militer Beijing di kawasan.
Sementara itu, Malaysia mengungkapkan meningkatnya kehadiran kapal Penjaga Pantai China di sekitar ladang gas Kasawari, yang berada di zona ekonomi eksklusif Malaysia.
Kuala Lumpur menegaskan bahwa gangguan fisik terhadap instalasi energi merupakan "garis merah" yang tidak dapat ditoleransi.
Adapun Indonesia terus menghadapi apa yang disebut sebagai grey-zone tactics, yakni aktivitas kapal penjaga pantai dan kapal riset China di sekitar Laut Natuna Utara tanpa menggunakan kekuatan militer secara langsung.
Taktik ini dinilai bertujuan menguji respons Indonesia terhadap klaim Beijing di kawasan.
Meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump belakangan kembali menyuarakan pentingnya hubungan ekonomi dengan China, para pengamat menilai rivalitas strategis Washington-Beijing tidak akan mereda dalam jangka panjang.
Negara-negara yang bersengketa dengan China di Laut China Selatan, terutama Filipina dan Taiwan, diperkirakan masih berpotensi memperoleh dukungan militer Amerika Serikat apabila situasi berkembang menjadi konflik terbuka.
Analis memperingatkan bahwa meningkatnya patroli militer, latihan gabungan, dan aktivitas kapal maupun pesawat di kawasan membuat risiko salah perhitungan semakin besar. Dalam situasi seperti itu, insiden kecil sekalipun berpotensi memicu eskalasi yang lebih luas.