TRIBUNNEWS.COM - Amerika Serikat mengumumkan bahwa Komando Indo-Pasifik AS (INDOPACOM) akan kembali menggunakan nama lamanya, yakni Komando Pasifik AS (USPACOM atau PACOM).
Komando Indo-Pasifik merupakan komando tempur terpadu militer Amerika Serikat yang bertanggung jawab atas operasi di kawasan Asia-Pasifik dan Samudra Hindia, mencakup sekitar setengah permukaan bumi.
Meski berganti nama, wilayah tanggung jawab geografis PACOM tidak berubah, yakni membentang dari Pantai Barat Amerika Serikat hingga perbatasan barat India.
Misi utamanya untuk menjaga kawasan yang bebas dan terbuka juga tetap sama.
Indonesia berada tepat di pusat kawasan Indo-Pasifik, di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, sehingga menjadi titik penghubung penting bagi jalur perdagangan dan keamanan global.
Mengutip TRT World, penjelasan resmi Departemen Pertahanan AS atau Pentagon adalah bahwa mereka hanya mengembalikan nama PACOM yang telah digunakan sejak 1947 sebelum pemerintahan pertama Presiden Donald Trump mengubahnya menjadi INDOPACOM pada 2018.
Namun dalam geopolitik, nama memiliki arti penting karena mencerminkan prioritas strategis.
"Perubahan nama tersebut menghormati akar sejarah yang dalam dari komando tersebut, menumbuhkan rasa bangga dan semangat kolektif di antara semua yang bertugas di Pasifik," kata Departemen Pertahanan AS dalam sebuah pernyataan.
Komando Pasifik AS didirikan oleh Presiden Harry Truman setelah Perang Dunia II.
PACOM beroperasi dengan nama tersebut selama lebih dari 70 tahun sebelum berganti menjadi Komando Indo-Pasifik AS pada 2018 sebagai pengakuan atas semakin pentingnya Samudra Hindia dalam strategi global Amerika Serikat.
Baca juga: Pentagon Rilis Dokumen UFO Batch Ketiga, Ungkap Penampakan Benda Misterius Berbentuk Kentang
Ketika Menteri Pertahanan saat itu, Jim Mattis, mengumumkan perubahan nama dari PACOM menjadi INDOPACOM pada 2018, langkah tersebut dimaksudkan untuk mencerminkan perubahan besar dalam strategi Amerika Serikat.
Dasarnya adalah pandangan bahwa Samudra Hindia dan Samudra Pasifik telah menjadi satu teater geopolitik yang saling terhubung.
Hal ini dipicu oleh ekspansi angkatan laut China, meningkatnya kehadiran Beijing dari Laut China Selatan hingga Samudra Hindia bagian barat, pentingnya jalur pelayaran yang menghubungkan Asia Timur dan Timur Tengah, serta munculnya India sebagai kekuatan maritim utama.
Konsep Indo-Pasifik mengangkat India dari sekadar kekuatan Asia Selatan menjadi salah satu pilar utama dalam politik keseimbangan kekuatan di Asia.
Pergantian nama tersebut juga sejalan dengan kebangkitan Quad yang beranggotakan India, Amerika Serikat, Jepang, dan Australia, serta upaya AS membangun jaringan keamanan yang dapat membatasi pengaruh China tanpa membentuk aliansi formal seperti NATO.
Mattis secara eksplisit mengaitkan nama baru tersebut dengan semakin pentingnya kemitraan di kawasan Samudra Hindia.
Karena itu, istilah "Indo" bukan sekadar penanda geografis, melainkan juga pesan strategis.
Dalam situasi normal, pengembalian nama PACOM mungkin tidak akan menimbulkan banyak perhatian.
Namun keputusan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan India yang berkaitan dengan konflik Iran.
Salah satu pemicunya adalah serangan AS baru-baru ini di Selat Hormuz yang menyebabkan tiga pelaut India tewas saat berada di kapal tanker komersial.
India merespons dengan keras, memanggil diplomat AS dan menuntut pertanggungjawaban serta jaminan keselamatan yang lebih baik bagi para pelautnya.
Hingga kini, AS belum menyampaikan permintaan maaf secara resmi.
Bagi para pengamat di India, pertanyaan yang muncul adalah mengapa istilah "Indo", yang merujuk pada Samudra Hindia (India Ocean) dan secara simbolis mencerminkan posisi India, justru dihapus ketika India seharusnya menjadi salah satu mitra strategis terpenting Amerika Serikat.
Respons terhadap perubahan nama ini beragam, mulai dari sikap menerima, rasa kecewa, seruan untuk meningkatkan kemandirian strategis, hingga kritik tajam di media sosial.
Politikus dan penulis India, Shashi Tharoor, bahkan mempertanyakan apakah langkah tersebut merupakan "paku terakhir di peti mati Quad" melalui unggahannya di X.
Sebagian pihak menilai perubahan nama itu mencerminkan berkurangnya bobot strategis India setelah insiden Hormuz dan di tengah fokus Amerika Serikat pada isu-isu lain.
Keputusan tersebut juga berpotensi memperkuat narasi bahwa AS mulai mengurangi keterlibatannya di Samudra Hindia, terutama setelah gesekan di Selat Hormuz dan tercapainya kesepakatan dengan Iran.
Tiga pelaut India yang sebelumnya dilaporkan hilang akhirnya ditemukan meninggal dunia setelah kapal yang mereka tumpangi diserang pasukan AS di lepas pantai Oman pada 10 Juni 2026.
Menteri Perhubungan India, Sarbananda Sonowal, mengumumkan kabar tersebut sehari setelah serangan terjadi.
Ia menyebut insiden tersebut sebagai kehilangan yang "tragis" dan mengonfirmasi bahwa jenazah ketiga pelaut yang hilang telah ditemukan.
Mengutip NDTV, kapal tanker minyak berbendera Palau, Settebello, membawa 28 awak yang terdiri dari 24 warga negara India dan empat warga negara asing, yakni dua warga Pakistan, satu warga Ukraina, dan satu warga Rusia.
Militer AS mengatakan kapal tersebut diserang karena diduga tidak mematuhi instruksi dan membawa minyak dari Iran.
Awalnya, 21 pelaut India berhasil diselamatkan, sementara tiga lainnya yang kemudian dinyatakan meninggal dunia adalah kadet dek Aditya Sharma, mekanik mesin Shivanand Chaurasiya, dan kepala insinyur Patnala Suresh.
Komando Pusat AS kemudian mengakui serangan terhadap kapal tersebut dan menyatakan bahwa kapal itu melanggar blokade yang diberlakukan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dengan mencoba mengangkut minyak dari negara tersebut.
Menurut militer AS, sebuah pesawat tempur menembaki kapal tanker itu di Teluk Oman hingga kapal tersebut lumpuh.
Dalam unggahan di X, Komando Pusat AS menyatakan bahwa awak kapal berulang kali gagal mematuhi arahan dari pasukan Amerika.
Saat menghadiri KTT G7 di Prancis pada Rabu (17/6/2026), Donald Trump menyinggung kematian tiga pelaut India tersebut.
Ia menyebut profesi pelaut sebagai "pekerjaan yang keras" dan mengatakan insiden serupa telah terjadi sepanjang sejarah.
Mengutip News18, meskipun Trump menyampaikan belasungkawa kepada para pekerja maritim dan menyatakan bahwa AS serta India akan bekerja sama, ia tidak menyampaikan permintaan maaf secara langsung.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)