Iran Temukan Rudal Tomahawk AS Utuh yang Gagal Meledak, Teknologi Navigasi Rawan AS Rawan Bocor
TRIBUNNEWS.COM - Media yang berafiliasi dengan pemerintah Iran melaporkan penemuan hulu ledak rudal jelajah BGM-109 Tomahawk milik Amerika Serikat yang disebut gagal meledak di dekat Varamin, tenggara Teheran.
Laporan tersebut memunculkan spekulasi mengenai potensi Iran mempelajari komponen teknologi navigasi rudal tersebut untuk kepentingan pengembangan sistem persenjataan domestik.
Baca juga: Iran Gandeng Rusia, Borong 20 Helikopter Mi-17 Perkuat Armada Udara di Tengah Tekanan Barat
Menurut laporan itu, bagian hulu ledak ditemukan dalam kondisi relatif utuh dan masih memperlihatkan pelat identifikasi Honeywell pada komponen Inertial Measurement Unit (IMU), yang merupakan salah satu sistem navigasi penting pada rudal Tomahawk.
Insiden tersebut diklaim terjadi setelah Amerika Serikat meningkatkan serangan rudal jarak jauh melalui Operation Epic Fury, yang melibatkan peluncuran ratusan rudal Tomahawk dari kapal perusak, kapal penjelajah, dan kapal selam Angkatan Laut AS di Laut Arab serta Mediterania Timur.
Media Iran menyebut tim penjinak bom berhasil mengamankan hulu ledak seberat sekitar 500 kilogram sebelum sejumlah komponen kritis dikirim ke laboratorium militer untuk dianalisis lebih lanjut.
Komponen IMU dinilai memiliki nilai intelijen tinggi karena berfungsi menjaga navigasi rudal, termasuk saat sinyal GPS terganggu akibat peperangan elektronik.
Namun, hingga kini belum ada verifikasi independen dari pihak Barat yang mengonfirmasi temuan tersebut maupun kondisi komponen yang diklaim ditemukan.
Sejumlah analis pertahanan internasional menilai, apabila laporan tersebut benar, setiap rudal yang gagal meledak berpotensi memberikan informasi teknis kepada pihak lawan.
Meski demikian, mereka juga mengingatkan bahwa belum ada bukti publik yang menunjukkan Iran mampu mereplikasi seluruh teknologi Tomahawk yang kompleks.
Laporan tersebut juga memunculkan perdebatan mengenai penyebab rudal tidak meledak.
Sebagian pengamat mempertanyakan apakah hal itu berkaitan dengan usia inventaris rudal Tomahawk, sementara pihak lain menduga adanya kemungkinan gangguan peperangan elektronik yang memengaruhi sistem panduan atau fius rudal.
Hingga kini, belum ada penjelasan resmi dari pemerintah Amerika Serikat mengenai penyebab insiden tersebut.
Iran selama bertahun-tahun dikenal mengembangkan berbagai sistem persenjataan melalui proses rekayasa balik (reverse engineering) terhadap teknologi asing yang diperoleh dari berbagai sumber.
Program rudal jelajah Soumar dan Hoveyzeh, misalnya, disebut dikembangkan dengan memanfaatkan teknologi rudal Kh-55 buatan era Soviet.
Menurut sejumlah analis, bila komponen Tomahawk yang ditemukan memang masih berfungsi, informasi yang diperoleh kemungkinan lebih berguna untuk memahami konsep integrasi sistem navigasi, perlindungan elektronik, dan desain perangkat, ketimbang menghasilkan salinan identik rudal tersebut.
Laporan mengenai temuan rudal Tomahawk muncul di tengah tingginya intensitas penggunaan rudal jelajah oleh Amerika Serikat dalam konflik Iran 2026.
Di sisi lain, sejumlah pengamat juga menyoroti tekanan terhadap stok rudal presisi AS akibat tingginya kebutuhan operasional.
Meski demikian, klaim mengenai penemuan rudal di Varamin, kemampuan Iran mengeksploitasi teknologi tersebut, maupun dugaan penyebab kegagalan rudal masih belum dapat diverifikasi secara independen.
Pemerintah Amerika Serikat juga belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait laporan yang beredar tersebut.
(olm/dsa/*)