Berpegangan pada Styrofoam, 4 ABK KM Arof Berjuang Hidup di Lautan Gelombang Tinggi
taryono June 19, 2026 09:19 AM

Tribunlampung.co.id, Lampung Timur - Karakteristik gelombang laut di perairan Kabupaten Lampung Timur dikenal memiliki kondisi yang cukup ekstrem di kalangan pelaut dan tim penyelamat.

Baca juga: Hilang 2 Bulan, Wulansari Ditemukan Selamat di Lampung Selatan dan Dipulangkan ke Keluarga

Komandan Pos SAR Bakauheni, Rezie Kuswara, menggambarkan kondisi gelombang setinggi 3 hingga 5 meter yang menghantam kapal secara beruntun, sehingga menyulitkan kapal untuk tetap stabil.

Peristiwa ini menimpa Kapal Motor (KM) Arof, kapal nelayan dengan enam anak buah kapal (ABK) asal Cirebon, Jawa Barat, yang mengalami kecelakaan di perairan Muara Kuala Penet, Lampung Timur, pada Sabtu (13/6/2026).

Salah satu korban, Suarna (45), ditemukan meninggal dunia setelah empat hari pencarian. 

Sementara itu, satu korban lainnya, Tarno (50) selaku nakhoda KM Arof, masih dalam pencarian.

Memasuki hari kelima operasi pencarian dan pertolongan (SAR), tim gabungan masih melakukan penyisiran di sepanjang pesisir Way Kambas hingga wilayah Sekopong untuk menemukan korban terakhir.

Berdasarkan keterangan awal, KM Arof yang membawa enam ABK tersebut terbalik akibat hantaman gelombang saat terjadi cuaca buruk dan angin timuran yang kuat.

Dalam kondisi darurat, para ABK berusaha bertahan dengan berpegangan pada alat apung berupa styrofoam yang biasa digunakan sebagai pelampung jaring ikan.

Namun, gelombang susulan diduga memisahkan mereka menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama terdiri dari empat ABK yang berhasil bertahan dengan berpegangan pada sisa styrofoam. 

Mereka kemudian berenang menuju sebuah bagan (rumah ikan) di tengah laut sejauh sekitar setengah mil, dan berhasil bertahan selama satu hari satu malam hingga dievakuasi tim SAR.

Kelompok kedua terdiri dari dua orang, termasuk nakhoda, yang terpisah dari rombongan. 

Diduga karena kelelahan dan kondisi laut yang buruk, pegangan mereka terlepas dan keduanya hanyut.

Salah satu dari kelompok ini ditemukan meninggal dunia sekitar satu mil dari pesisir Way Kambas pada hari keempat pencarian, sementara nakhoda masih belum ditemukan.

Pada Senin, posisi KM Arof dipastikan telah tenggelam sepenuhnya di dasar laut.

Untuk melanjutkan pencarian, Tim SAR gabungan yang dipimpin Basarnas melalui Pos SAR Bakauheni mengerahkan berbagai peralatan dan armada pendukung.

Operasi ini juga melibatkan Polairud Polda Lampung, Polairud Lampung Timur, TNI AL Labuhan Maringgai, Bakamla, BPBD Lampung Timur, serta dukungan komunitas nelayan setempat.

Rezie menjelaskan, area pencarian dibagi ke dalam beberapa sektor menggunakan sistem SAR Map dari Basarnas untuk memperkirakan arah hanyut korban berdasarkan data angin dan arus laut.

Berdasarkan pemetaan tersebut, arus laut saat ini cenderung mengarah ke daratan sehingga pencarian difokuskan di wilayah pesisir.

Pencarian dilakukan sekitar 3 hingga 5 jam per hari yang dibagi dalam dua sif, yaitu pagi dan sore hari.

Tim menggunakan Rigid Inflatable Boat (RIB) 02 Bakauheni serta kapal patroli milik TNI AL dan Polairud.

Namun, operasi pencarian menghadapi beberapa kendala, antara lain: Cuaca yang cepat berubah, dari kondisi tenang menjadi hujan lebat dan gelombang tinggi dalam waktu singkat, pendangkalan muara yang menyulitkan akses keluar-masuk kapal RIB saat air surut, dan kondisi geografis kawasan hutan lindung di sepanjang pesisir Way Kambas yang menyulitkan proses evakuasi dan pergerakan kapal besar.

Empat ABK yang berhasil selamat kini dalam kondisi fisik stabil, namun mengalami trauma psikologis. 

Mereka sempat ditampung sementara di Lampung Timur sebelum kembali ke Cirebon bersama jenazah rekan mereka.

Rezie menyampaikan bahwa para korban selamat masih mengalami trauma sehingga belum dapat memberikan keterangan secara lengkap mengenai lokasi kejadian.

Ia juga menambahkan bahwa sepanjang Januari hingga Juni, tercatat enam kasus kecelakaan kapal nelayan di perairan Lampung Timur, mulai dari kapal tenggelam akibat cuaca buruk hingga kecelakaan kerja di atas kapal.

Menurutnya, sebagian besar insiden terjadi karena minimnya standar keselamatan di kapal nelayan tradisional.

“Banyak kapal tidak dilengkapi alat keselamatan seperti jaket pelampung dan pelampung cincin. Dalam kondisi darurat, sebagian nelayan hanya mengandalkan jeriken atau styrofoam,” ujarnya.

Rezie mengingatkan pentingnya peningkatan kesadaran keselamatan pelayaran bagi para nelayan dan pemilik kapal.

Ia menegaskan bahwa penggunaan alat keselamatan standar seperti life jacket merupakan hal wajib untuk mencegah korban jiwa dalam kondisi darurat di laut.

(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Fajar Ihwani Sidiq)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.