Disdikbud Batang Hidupkan 10 Dolanan Tradisional untuk Kurangi Ketergantungan Gadget Anak
muslimah June 19, 2026 10:55 AM

Disdikbud Batang Hidupkan 10 Dolanan Tradisional untuk Kurangi Ketergantungan Gadget Anak
 

TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Batang meluncurkan program KETAN BUDAYA (Kolaborasi Pelestarian Budaya) sebagai langkah nyata mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai sekaligus menghidupkan kembali permainan tradisional di lingkungan sekolah dasar.

Program tersebut disosialisasikan kepada para guru dan pemangku kepentingan pendidikan dalam kegiatan Sosialisasi Kurikulum Pembelajaran Ekstrakurikuler Dolanan Anak di SD Negeri Kasepuhan 3 Batang. 

Kepala Disdikbud Batang, Bambang Suryantoro mengatakan, perkembangan teknologi telah mengubah pola bermain anak-anak. 

Banyak siswa yang lebih memilih bermain gadget dibandingkan berinteraksi langsung dengan teman sebayanya.

“Melalui Ketan Budaya, kami ingin mengembalikan kebiasaan bermain bersama yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga membangun karakter anak seperti kerja sama, tanggung jawab, solidaritas, dan kebersamaan,” kata Bambang kepada Tribunjateng, Jumat (19/6/2026). 

Program ini akan memasukkan permainan tradisional ke dalam kegiatan pembelajaran dan ekstrakurikuler di sekolah dasar. 

Sebanyak 10 jenis dolanan anak telah disepakati untuk diperkenalkan kepada siswa, yakni congklak, seprengan, sudamanda, yoyo, egrang, owal-awil, gobak sodor, bekelan, nekeran, serta beber atau dam das.

Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar Disdikbud Batang, Nurlaili Endahwati menjelaskan, program tersebut lahir dari keprihatinan atas semakin menurunnya pengetahuan anak terhadap budaya lokal Kabupaten Batang.

Menurutnya, permainan tradisional tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga menjadi media pembelajaran yang mampu mengembangkan kemampuan sosial, motorik, dan karakter peserta didik.

“Kalau tidak dikenalkan sejak dini, anak-anak bisa kehilangan kedekatan dengan budaya daerahnya sendiri. Karena itu, pelestarian budaya perlu diintegrasikan ke dalam pendidikan dasar,” ujarnya.

Sebagai bagian dari implementasi program, Disdikbud Batang telah melakukan pemantauan ke sejumlah sekolah yang mulai menerapkan permainan tradisional dalam kegiatan siswa. 

Satu di antaranya SDIT Permata Hati Batang yang menggelar lomba permainan tradisional saat classmeeting.

Disdikbud Batang menargetkan program tersebut mulai diterapkan secara lebih luas pada tahun ajaran baru mendatang. 

Puncaknya, akan digelar Launching dan Festival Dolanan Anak Tingkat Kabupaten Batang pada 6 Juli 2026 sebagai momentum menghidupkan kembali permainan tradisional di kalangan generasi muda.

Melalui program ini, Pemerintah Kabupaten Batang berharap budaya lokal tetap lestari di tengah arus digitalisasi sekaligus menciptakan ruang interaksi yang lebih sehat bagi anak-anak. (Ito) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.