Mojtaba Khamenei Sempat Ragu Soal Kesepakatan Damai dengan AS, Sebut Trump Putus Asa
Nuryanti June 19, 2026 12:35 PM

TRIBUNNEWS.COM - Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei akhirnya buka suara soal kesepakatan damai dengan Amerika Serikat (AS).

Dalam persembunyiannya, Mojtaba Khamenei menyebut ia telah memberikan lampu hijau soal perdamaian Iran dengan AS.

Meski memberi lampu hijau, Mojtaba Khamenei mengaku ia sempat ragu soal kesepakatan tersebut.

Mojtaba Khamenei menyebut memiliki pandangan dan keberatan yang berbeda terkait kesepakatan tersebut.

Ia menyebut langkah diplomasi ini akhirnya diambil Washington karena posisi mereka yang kian terdesak.

"Para pejabat kita telah berupaya keras dengan niat tulus demi kepentingan negara."

"Namun, Presiden AS-lah yang sebenarnya berada dalam kondisi putus asa, sehingga menggunakan segala bentuk tekanan demi mewujudkan hasil ini," ujar Khamenei dalam surat resminya yang dikutip dari WANA News Agency.

Khamenei mengungkapkan bahwa izin operasional atas perjanjian ini diberikan setelah mendapat jaminan langsung dari Presiden Iran selaku Ketua Dewan Keamanan Nasional Tertinggi.

Pihak pemerintah berjanji akan bertanggung jawab penuh dan memastikan hak-hak rakyat Iran serta 'Front Perlawanan' di Timur Tengah tetap terlindungi.

"Presiden secara eksplisit menegaskan bahwa jika pihak Amerika menuntut hal-hal yang berlebihan, Iran tidak akan tunduk."

"Mulai saat ini, kita akan sama-sama mengawasi apakah komitmen tersebut benar-benar terpenuhi," tegasnya.

Baca juga: Mojtaba Khamenei Buka Suara, Sindir Trump soal Alasan di Balik Kesepakatan Damai AS-Iran

Dalam pesannya, Pemimpin Tertinggi Iran itu juga memberikan batasan tegas mengenai arah diplomasi Teheran ke depan.

Ia memperingatkan agar kesediaan Iran melakukan dialog langsung di masa mendatang jangan disalahartikan sebagai bentuk tunduk terhadap kemauan AS.

"Sangat jelas bahwa negosiasi langsung apa pun di masa depan tidak boleh ditafsirkan sebagai bentuk penerimaan kita terhadap posisi musuh," tambahnya.

Surat resmi ini diterbitkan tepat setelah kesepakatan bilateral antara Iran dan AS diteken.

Pesan strategis dari Khamenei ini dinilai sebagai penegasan bahwa garis merah kedaulatan Iran dan sekutunya di kawasan tidak dapat ditawar

Tuai Kecaman

Kesepakatan damai yang ditandatangani Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian ini ternyata mendapat kecaman dari internal Washington.

Sejumlah senator senior dari Partai Republik — partai yang menaungi Trump — secara terbuka menyatakan skeptis dan meragukan poin-poin negosiasi tersebut.

Reaksi awal para politisi Republik saat pertama kali mendengar rincian draf perjanjian tersebut dilaporkan sangat beragam.

Beberapa di antaranya bahkan begitu terkejut hingga memilih bungkam dan menolak memberikan pernyataan kepada media.

Namun, dalam waktu kurang dari 24 jam, gelombang resistensi mulai mencuat ke permukaan.

Baca juga: Blokade Dicabut! AS Izinkan Kapal Iran Mondar-Mandir di Jalur Minyak Selat Hormuz

Sebuah blok signifikan dalam tubuh senator Partai Republik kini mendesak Trump untuk mengevaluasi kembali dan mengubah total strategi diplomasinya terhadap Teheran.

CNN melaporkan, penolakan keras salah satunya disuarakan oleh Senator asal Alaska, Lisa Murkowski.

Ia menilai kesepakatan ini tidak memberikan keuntungan strategis bagi Washington setelah konflik panjang yang menguras banyak sumber daya energi, materiil, dan korban jiwa.

"Sangat sulit untuk mengklaim bahwa perjanjian ini menempatkan Iran di posisi yang lebih lemah dan Amerika Serikat di posisi yang lebih diuntungkan," ujar Murkowski.

Ia juga menambahkan bahwa hasil akhir dari meja perundingan ini terasa sia-sia jika melihat besarnya pengorbanan yang telah dilakukan militer AS.

"Banyak anggaran yang sudah digelontorkan, nyawa pun telah melayang, tetapi pada akhirnya kita melihat Iran kembali ke posisi semula seperti sebelum konflik ini terjadi," ungkapnya.

Kritik senada juga dilontarkan oleh sejumlah senator senior lainnya, termasuk legislator asal Louisiana yang akan segera mengakhiri masa jabatannya.

Mengingat mereka tidak lagi memikul beban politik untuk maju dalam kampanye pemilihan kembali, para senator ini merasa lebih leluasa melepaskan kritik tajam langsung ke arah Gedung Putih.

Gejolak internal ini menjadi alarm bahaya atau sinyal merah yang berkedip bagi pemerintahan Trump.

Pasalnya, penolakan ini tidak hanya datang dari kelompok oposisi atau sayap moderat, melainkan juga mulai disuarakan oleh para loyalis utama Republik yang selama ini dikenal jarang berseberangan dengan kebijakan politik Trump.

Jika draf kesepakatan ini tidak mengalami perombakan besar, pengamat politik menilai kesepakatan final dengan Iran terancam kandas dalam pemungutan suara di Kongres.

Hal ini tentu menjadi ironi besar mengingat saat ini parlemen AS tengah dikuasai oleh mayoritas anggota faksi Republik.

"Ada tingkat kecemasan dan keresahan yang sangat tinggi di internal Senat Republik saat ini," ungkap salah seorang senator Republik yang menolak disebutkan identitasnya demi menjaga stabilitas hubungan internal partai.

Sikap hati-hati juga ditunjukkan oleh Pemimpin Mayoritas Senat, John Thune.

Alih-alih memberikan dukungan penuh, Thune memilih menjaga jarak aman dan mengaku masih perlu mempelajari draf dokumen tersebut secara mendalam.

"Saya masih mencerna rinciannya. Saya hanya ingin memastikan bahwa setiap insentif finansial yang dijanjikan kepada Iran harus benar-benar bergantung pada kepatuhan dan kinerja mereka di lapangan," tegas Thune.

(Tribunnews.com/Whiesa)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.