TRIBUNNEWS.COM - Sejumlah tokoh nasional hadir dalam upacara adat Kirab Pusaka Puro Mangkunegaran dalam memperingati Malam 1 Suro Be 1960 di Solo, Jawa Tengah pada Selasa (16/6/2026) malam.
Putra Presiden RI Prabowo Subianto, Didit Hediprasetyo, tampak hadir ditemani ibunya, Titiek Soeharto.
Menteri PUPR Dody Hanggodo, politisi Aria Bima serta Wali Kota Solo, Respati Ardi mengikuti rentetan kirab dengan berjalan kaki memutari kawasan Puro Mangkunegaran.
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (K.G.P.A.A.) Mangkunegara X memberikan perintah pemberangkatan sekitar pukul 20.00 WIB.
Para abdi dalem kemudian membawa pusaka Mangkunegaran untuk dikirab.
Kirab pusaka ditutup dengan prosesi pemberian udik-udik kepada masyarakat umum.
Prosesi kirab pusaka Puro Mangkunegaran menjadi sorotan setelah beredar foto pria berkebaya ikut dalam rombongan kirab.
Baca juga: Ramai di Threads Aturan Busana Kirab Malam 1 Suro Mangkunegaran Solo: Sakral, Wanita Berkebaya Hitam
Dalam foto terlihat dua wanita serta seorang pria mengenakan kebaya hitam berfoto sejajar.
Foto tersebut diunggah di media sosial Instagram kemudian viral di threads karena komentar yang bernada mengingatkan justri dibalas dengan kata-kata 'karena yang punya acara mengizinkan' serta 'karena pakaian tidak punya jenis kelamin, kawan.'
Setelah ditelusuri, pria berkebaya terebut bernama Rahadian M. Saputra.
Pria yang tinggal di Jakarta mendapat undangan untuk mengikuti proses kirab bersama temannya, Paola Serena yang berprofesi sebagai selebgram.
Berdasarkan pantauan di akun Instagramnya @rahadianms, Rahadian kerap membuat konten fashion serta kesehariannya.
Di akun LinkedIn, ia menuliskan bekerja sebagai Marketing and Business Development Manager.
Rahadian telah membuat video permintaan maaf ke masyarakat khususnya ke keluarga Pura Mangkunegaran.
Baca juga: Dua Raja Keraton Solo Gelar Kirab 1 Suro di Lokasi yang Sama, PB XIV Purboyo Tak Keluarkan Pusaka
"Saya mengakui sepenuhnya kesalahan saya dalam mengenakan busana wanita dalam acara sakral Mangkunegaran beberapa waktu lalu."
"Keputusan tersebut saya ambil dengan kesadaran dan kehendak saya sendiri, oleh karena itu tanggung jawab atas tindakan tersebut sepenuhnya ada pada saya"
"Saya menyadari tindakan saya tersebut menunjukkan bahwa kurangnya pemahaman terhadap nilai adat dan budaya."
"Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya pada keluarga Mangkunegaran, para budayawan, masyarakat Jawa dan masyarakat Indonesia yang merasa kecewa dan tersinggung terhadap tindakan saya," ungkapnya, Jumat (19/6/2026).
Sementara itu, Pengageng Kawedanan Panti Budaya GRAj Ancillasura Marina Sudjiwo, melalui keterangan tertulisnya menegaskan tak pernah ada izin mengenakan pakaian yang tak sesuai ketentuan.
“Mangkunegaran telah mengeluarkan panduan ageman untuk ritual adat 1 Sura, panitia penyelenggara 1 Sura Be 1960 tidak pernah memberikan izin, dispensasi, ataupun perlakuan khusus kepada pihak mana pun,” tulisnya, Kamis (18/6/2026).
Ia berharap nilai budaya dilestarikan serta dipegang teguh.
“Semoga semangat refleksi, ketertiban, dan saling menghormati yang hadir dalam peringatan Malam 1 Sura Be 1960 dapat terus menjadi bagian dari kehidupan bersama serta memperkuat hubungan masyarakat dengan nilai-nilai budaya yang diwariskan lintas generasi,” tambahnya.
(Tribunnews.com/Mohay) (TribunSolo.com/Ahmad)