TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Menjelang penetapan manajemen baru, publik menitipkan mandat kuat bagi Direksi Perumda Tirtawening Kota Bandung. Publik juga menitipkan pesan dan ekspektasi yang sangat kuat bagi Direksi Perumda Tirtawening Kota Bandung untuk periode selanjutnya.
Masyarakat mendambakan sosok pemimpin yang tidak hanya piawai mengelola infrastruktur air, tetapi juga memiliki keberanian moral untuk membenahi tata kelola perusahaan pelat merah tersebut.
Diretur Jaringan Survei Independent Harry Khoirul Anwar dalam keterangan resminya memaparkan, publik mengharapkan sosok pimpinan yang berintegritas selain tentunya memiliki pengalaman soal air bersih
Berikut hasil lengkap “Survei Partisipasi Publik Terhadap Kinerja dan Harapan Kepada Perumda Tirtawening Kota Bandung” yang dihimpun pada periode 10 - 18 Juni 2026.
Menggunakan metode stratified random sampling terhadap 300 responden ber-KTP Kota Bandung, survei ini memotret rapor pelayanan eksisting sekaligus menjaring mandat publik untuk bursa seleksi Direksi Perumda Tirtawening periode mendatang.
Dalam program 100 hari pertama menjabat, masyarakat mendesak Direksi baru untuk memprioritaskan perluasan jaringan pipa (33,3 persen) dan menyelesaikan masalah air mati atau pipa bocor di wilayah krisis (25 % ).
Terkait kriteria kepemimpinan, mayoritas mutlak masyarakat Kota Bandung (58,3 % ) mendambakan sosok Direksi yang tegas, bersih, berintegritas tinggi dan berani menyikat mafia atau praktik pungli internal.
Selain itu, aspirasi publik juga secara spesifik meminta agar manajemen baru berfokus pada bisnis, terbebas dari intervensi politik (15 % ), serta mulai memperhatikan pemenuhan indikator keberlanjutan lingkungan atau Environmental, Social, and Governance (ESG).
Harapan ini karena ketidakpuasaan masyarakat
Tercatat untuk Rapor Kinerja Eksisting: 41,7 % Masyarakat Menyatakan “Kurang Puas”
Hasil survei menunjukkan bahwa sosialisasi perubahan nama dari PDAM menjadi Perumda Tirtawening telah sukses 100 % dipahami masyarakat.
Namun, dari sisi kepuasan pelayanan, mayoritas responden - yakni sebesar 41,7 % (125 orang) - menyatakan kurang puas terhadap kinerja operasional Perumda Tirtawening selama ini.
Ketidakpuasan ini dipicu oleh beberapa masalah klasik di lapangan:
• Ketidakmerataan Pasokan Air:
Hanya 33,3 % warga yang menikmati aliran air lancar 24 jam. Sisanya harus menghadapi pasokan air minim, di mana 16,7 % responden menerima air di bawah 6 jam dan 16,7 % lainnya hanya 6 - 12 jam dalam sehari.
• Sumbatan Komunikasi Digital:
Sektor pelayanan digital mendapatkan catatan serius. Sebanyak 50 % responden menyatakan kurang puas terhadap keandalan kanal aduan digital (aplikasi/media sosial/WhatsApp) yang disediakan saat ini. Kecepatan respons petugas di lapangan pun dinilai “biasa saja” oleh 41,7 % masyarakat.
• Minimnya Sosialisasi Tarif:
Terjadi kesenjangan informasi yang cukup tajam, di mana 60 % responden mengaku tidak mengetahui besaran tarif resmi air bersih Perumda Tirtawening. Mayoritas pelanggan domestik (78,3 % ) saat ini tercatat membayar tagihan bulanan di kisaran Rp 200 ribu (50 % ).
Atas dasar inilah, publik secara tegas menuntut agar Perumda Tirtawening dipimpin oleh jajaran direksi yang memiliki rekam jejak pengalaman konkret dan keahlian langsung di bidang pengelolaan air minum atau air bersih.
Konstelasi Calon Direksi: Kompetensi Teknis Menjadi Kunci Utama Dukungan Publik
Survei ini juga menguji persepsi publik terhadap nama-nama kandidat calon direksi baru melalui dua simulasi, yaitu sebelum dan sesudah latar belakang mereka dibuka kepada responden.
• Simulasi Tanpa Latar Belakang: Nama Arsylia Yustisia memimpin dengan dukungan awal 43,3 % .
Kandidat lain seperti Hendro Sugiarto, Deddy Gamawan dan Rizky Mediantoro masing-masing berimbang di angka 16,7 % , sementara Yoga Sutresna mengantongi 6,7 % .
• Simulasi Setelah Latar Belakang Dibuka: Dukungan terhadap Arsylia Yustisia melonjak drastis hingga mencapai 68,3 % . Sementara dukungan calon lain bergeser menjadi: Yoga Sutresna (11,7 % ), Hendro Sugiarto (8,3 % ), Rizky Mediantoro (8,3 % ) dan Deddy Gamawan (3,3 % ).
Lonjakan signifikan ini membuktikan bahwa masyarakat Kota Bandung sangat rasional. Publik menuntut Perumda Tirtawening dipimpin oleh Direksi yang memiliki rekam jejak pengalaman konkret dan keahlian langsung di bidang pengelolaan air minum/air bersih.
Sebaliknya, ruang bagi kalangan akademisi murni atau figur luar yang minim portofolio di industri air bersih cenderung kurang mendapat prioritas dari masyarakat.
Data hasil survei ini diharapkan dapat menjadi rujukan objektif bagi Panitia Seleksi (Pansel) dan Pemerintah Kota Bandung dalam memilih nakhoda baru yang memiliki legitimasi sosial, integritas kokoh dan kompetensi teknis demi mewujudkan pelayanan air bersih Bandung yang sehat dan berkelanjutan. Tabik!